alpha bertanya, milenial menjawab.
👦🏻: “ayah, maulid nabi itu apa?”
👱🏻♂️: “maulid nabi itu peringatan hari kelahiran nabi muhammad ﷺ, nak.”
👦🏻: “oh…”
anakku mengangguk pelan. gak banyak bertanya lagi. lalu masuk ke kamar.
beberapa menit kemudian…
👦🏻: “ayahhh… bunda… lihat, aku bikin surat.”
Piala Dunia: Shakira
Natal: Mariah Carey
Ramadhan: Opick
Ulang Tahun: Jamrud
Anak masuk sekolah: Pagiku cerahku
Bencana: Ebiet G Ade
Nikahan: Kahitna
Gramedia= Kenny G (Auto mules)
Upacara: WR Supratman
lagu perpisahan : endank soekamti
Libur : Tasya
Bencana lokal : Ebit G ade
Bencana international: Michael Jackson -heal the world
Perang gaza: gaza tonight
Acara2 kantor : maumere
Demo: ibu pertiwi
Hari ibu : bunda melly goeslaw
mudik : taragak pulang
tunangan : janji suci
Prabowo Joget: Oke GASS
Asian games : Via Vallen
Teman meninggal: Tipe X
Mati Lampu : KING NASAR
Meninggal dunia : Opick (Bila Waktu Tlah Berakhir)
Lebaran : Lagu Malaysia
Sepak bola : Tanah Airku
Kematian : Sesi Potret
FTV : Lyla, D'Bagindaz , Yovi n nuno
Terimakasih jokowi : kang lindan
Lebaran Idul Fitri: Takbir Uje
banjir : idgitaf
belajar gitar: peterpan - semua tentang kita
Hotel : trivago
Ada lagi ?
Adek gue sempro online terus 5 menit sebelum mulai dia udah masuk room, dia berdoa “YaAllah semoga proposal gue gak ada revisi dan Bu Rini hatinya melunak jadi presentasinya gak susah2 amat”
eh si bu Rini jawab “Yesi, Yesi masih nyala microphone nya” 😭😭😭😭
Marriage isn’t scary, kalo kunci ketemu sama gemboknya 🔐
Saya pernah nanya ke doi, kenapa sih yakin milih saya. Padahal banyak perbedaan di antara kita.
Nah, pas jawab pertanyaan itu, dia jelaisn pake analogi enzim, teori lock and key. Kebetulan doi backgroundnya biologi.
Singkatnya: gembok (enzim) punya situs aktif yg kaku banget, cuma bisa bereaksi kalau ketemu kunci (substrat) yang bentuknya pas presisi. Penjelasannya begini:
1️⃣ Komplementer itu kunci
Gak perlu nyari yg sempurna. Seringkali "kekurangan" itu justru lekukan yg pas banget diisi sama tonjolan sifat pasangan. Si pelupa ketemu si teliti, si impulsif ketemu si tukang planning. Kita fungsional karena saling nutup celah.
2️⃣ Situs aktif (core values)
Kita boleh beda selera musik atau hobi, tapi kalau "Situs Aktif"-nya (prinsip hidup & visi) udah sinkron, reaksi cintanya bakal tetep jalan. Biarin ada "karat" dikit di luar, yang penting dalemnya presisi.
3️⃣ Induced fit (Memahami)
Ada juga teori Induced Fit, enzim sedikit "melentur" buat memeluk substratnya. Hubungan pun gitu; kita nurunin ego dikit buat nge-pasin kekurangan masing-masing. Bukan berubah jadi orang lain, cuma menyesuaikan biar makin klik.
Marriage isn’t scary kalau kita udah nemu Lock & Key yg pas. Yg bikin takut itu biasanya karena kita maksa masukin kunci ke gembok yang emang bukan jodohnya, ujungnya patah atau macet.
Tapi kalo mekanismenya udah sinkron. Mau seberat apa pun pintu masalah di depan, kita berdua punya alat yang paling pas buat ngebukanya bareng2.
Guys, lu pada tau gak sih…
hubungan Angga Yunanda sama Shenina Cinnamon itu kelihatannya adem, manis couple goals banget…
tapi setelah mereka buka-bukaan, ternyata ada beberapa fakta yang cukup aneh, jarang terjadi, dan kalau dipikir-pikir agak “di luar kebiasaan pasangan muda
Pertama, yang paling nggak biasa itu cara mereka berantem.
Kebanyakan pasangan kalau ada masalah pasti:
debat di chat
atau meledak di momen random
Tapi mereka justru bilang… mereka sering bahas konflik itu di kasur sebelum tidur.
Ini bukan soal romantis ya, tapi lebih ke pola.
Mereka sadar kalau siang hari sibuk, emosi masih tinggi, jadi nggak efektif.
Pas malam, suasana lebih tenang, lebih intimate, akhirnya obrolan jadi lebih jujur.
Dan yang bikin makin “unik”, Angga itu nggak tipe yang langsung ngelawan.
Dia malah:
dengerin dulu
validasi perasaan
baru kasih sudut pandang
Ini jujur jarang banget.
Karena mayoritas orang kalau debat itu fokusnya satu: menang.
Sementara dia fokusnya: meredakan.
Kedua, mereka ini surprisingly “nggak takut hal yang biasanya ditakutin pasangan”.
Kalau ditanya ketakutan dalam pernikahan, orang biasanya jawab:
selingkuh
orang ketiga
kehilangan rasa cinta
Tapi mereka malah jawab: keuangan.
Ini yang agak “nendang”.
Karena di usia muda dan posisi lagi naik karier, mereka udah sadar kalau:
masalah terbesar dalam rumah tangga itu seringnya bukan cinta… tapi duit.
Dan mereka nggak cuma ngomong doang.
Mereka bahkan udah bahas detail keuangan dari sebelum nikah:
tabungan masing-masing
tanggung jawab ke keluarga
bahkan potensi konflik ke depan
Ini level diskusi yang jujur aja… banyak pasangan bahkan nggak pernah sampai ke situ.
Ketiga, soal sosial media mereka yang viral itu.
Banyak yang ngira itu cuma gimmick biar terlihat romantis
cuma follow satu sama lain.
Tapi ternyata alasannya lebih dalam:
biar nggak kebanyakan distraksi
biar fokus ke pasangan
dan biar simpel
Kalau dipikir-pikir, ini ekstrem.
Karena di era sekarang orang justru cari validasi dari luar.
Sementara mereka malah:
menutup pintu luar, biar fokus ke dalam
Dan itu bukan hal yang mudah.
Keempat, soal anak ini juga menarik.
Mereka bilang nggak ada niat nunda anak.
Artinya kalau dikasih sekarang, mereka siap.
Tapi di sisi lain, mereka juga sadar konsekuensinya:
bisa harus stop syuting
bisa ngorbanin karier
Dan Shenina secara terang-terangan bilang dia siap kalau harus di posisi itu.
Ini yang bikin beda.
Bukan karena mereka santai, tapi karena mereka udah mikir sampai ke skenario terberatnya.
Kelima, yang paling “kena” itu sebenarnya soal image mereka.
Di mata publik, mereka itu:
couple goals
relationship ideal
pasangan sempurna
Tapi mereka sendiri bilang…
apa yang mereka lakuin itu sebenarnya hal yang basic dalam hubungan.
Nah di sini justru jadi refleksi:
kalau hal basic aja udah dianggap “goals”…
berarti standar hubungan kebanyakan orang sekarang mungkin emang lagi rendah.
Jadi kalau ditarik garis besar, yang bikin hubungan mereka beda itu bukan karena:
lebih romantis
lebih sempurna
atau tanpa masalah
Tapi karena:
mereka berani bahas hal yang biasanya dihindari
mereka realistis dari awal dan mereka ngerti kalau hubungan itu bukan cuma soal cinta, tapi soal cara ngatur emosi, uang, dan ego
Dan jujur aja… itu yang bikin hubungan mereka kelihatan “kuat”, bukan sekadar “indah”.
Gue punya temen cewek namanya Amel.
Pintar, mandiri, dan waktu nikah semua orang bilang dia beruntung banget.
Suaminya kerja bagus
penghasilan oke,
sayang banget sama dia.
Dan karena semua itu Amel berhenti kerja.
Ngapain capek-capek, suami gue udah cukupin semua.
Gue nggak bilang apa-apa waktu itu.
Karena secara logika masuk akal.
Tahun pertama sampai ketiga
semua baik-baik aja.
Amel ngurusin rumah.
Suami cari duit.
Hidup terasa lengkap.
Tapi pelan-pelan gue mulai notice sesuatu.
Amel yang dulu berani berpendapat mulai jarang ngomong kalau beda pendapat sama suaminya.
Amel yang dulu spontan mau nongkrong sekarang selalu nanti tanya suami dulu.
Dan waktu gue tanya "Mel, lo nggak kangen kerja?"
Dia jawab "Kangen sih.
Tapi nanti suami gue ngerasa nggak dibutuhkan."
Tahun kelima semuanya berubah.
Kantor suaminya kena efisiensi besar-besaran.
Di-PHK tanpa pesangon yang cukup.
Dan tiba-tiba satu penghasilan yang selama ini jadi satu-satunya sumber kehidupan mereka, hilang.
Amel mau balik kerja.
Tapi gap-nya udah 5 tahun. Industri udah berubah. Koneksinya udah banyak yang putus.
CV-nya terasa ketinggalan zaman.
Dan yang paling berat bukan soal keuangannya tapi soal dynamic yang berubah di dalam rumah tangga mereka.
Suaminya yang tadinya provider tiba-tiba merasa kehilangan identitas.
Dan Amel yang tadinya dependent tiba-tiba harus jadi tulang punggung tanpa persiapan apapun.
Dua orang yang saling sayang tapi nggak siap untuk skenario yang seharusnya mereka antisipasi dari awal.
Dan ini yang gue pelajarin dari cerita Amel.
Punya penghasilan sendiri bukan soal nggak percaya sama suami.
Bukan soal "gue harus mandiri karena suami gue pasti selingkuh."
Bukan soal emansipasi yang dipaksain.
Tapi soal satu hal sederhana yang sering kita lupa
Dunia ini nggak berjalan sesuai rencana.
Dan lo nggak bisa mendelegasikan seluruh ketahanan hidup lo ke satu orang.
Suami yang baik bisa kena PHK.
Suami yang sehat bisa tiba-tiba sakit.
Suami yang setia bisa burnout dan berubah.
Dan kalau di titik itu lo nggak punya apa-apa atas nama lo sendiri bukan rekening, bukan skill, bukan network lo nggak punya pilihan.
Dan ketiadaan pilihan itu yang paling berbahaya bukan karena lo miskin, tapi karena lo jadi terpaksa bertahan di situasi yang harusnya bisa lo tinggalkan.
Amel sekarang udah balik kerja.
Prosesnya nggak mudah dan nggak cepat.
Tapi dia bilang satu hal ke gue yang gue inget sampai sekarang
Gue bukan nggak percaya sama suami gue.
Gue cuma nggak mau jadi orang yang nggak punya pilihan kalau hal yang nggak gue inginkan terjadi.
Punya penghasilan sendiri bukan ancaman buat rumah tangga.
Itu justru salah satu fondasi yang bikin rumah tangga bisa bertahan karena dua orang yang saling backup jauh lebih kuat dari satu orang yang nanggung semuanya.
R.A. Kartini udah bilang ini lebih dari 100 tahun yang lalu.
Dan kita masih debatin hal yang sama.
Gue punya tetangga yang bikin gue mikir lama.
Lulusan S2 Teknik UI.
Pernah kerja 5 tahun di salah satu power plant terbesar di Asia Tenggara.
Perempuan yang dari luar keliatan punya segalanya pendidikan, karir, penghasilan.
Terus dia resign.
Bukan karena dipecat.
Bukan karena nggak mampu.
Tapi karena suaminya harus pindah-pindah kota karena kerjaan, dan mereka udah LDR 2 tahun.
Dia yang milih ikut.
Waktu dia cerita ini ke gue, gue nggak langsung ngerti kenapa.
"Lo nggak sayang karir lo?" gue tanya.
Dia senyum.
Sayang Banget sih
Tapi ada yang lebih gue sayangin yaitu anak gw
Dan ternyata keputusan itu nggak semudah kelihatannya.
Masa transisi dari perempuan yang tiap hari rapat, ngitung data, dan punya kontribusi yang keliatan nyata ke perempuan yang tiap hari di rumah, ngurusin anak, dan nggak punya penghasilan sendiri itu berat banget.
Dia cerita ke gue soal itu dengan jujur.
Kehilangan teman-teman kerja.
Kehilangan ruang diskusi yang dulu bikin otaknya terus jalan.
Kehilangan kebebasan finansial yang selama ini bikin dia ngerasa punya kendali atas hidupnya sendiri.
Dan yang paling nyesek komentar orang-orang sekitar yang nggak diminta tapi terus dateng.
Sayang banget S2-nya.
Kok mau sih jadi IRT doang?
Buang-buang pendidikan.
Tapi kemudian sesuatu berubah.
Dia nemuin hal-hal baru yang ternyata dia suka dunia literasi, ecoprinting, komunitas-komunitas yang nggak pernah dia sempet eksplor waktu sibuk kerja.
Dia baca lebih banyak buku.
Dia punya waktu buat beneran mikirin cara mendidik anaknya bukan sekadar nitip ke orang lain.
Dan dari rumah, dia masih bisa freelance bantu project penelitian dan keperluan akademik.
Yang bikin gue respek bukan keputusannya karena itu hak dia sepenuhnya.
Yang bikin gue respek adalah cara dia ngejalaninnya.
Dia nggak berhenti tumbuh cuma karena berhenti kerja kantoran.
Dia buktiin bahwa perempuan berpendidikan tinggi yang milih jadi ibu rumah tangga bukan berarti menyia-nyiakan pendidikannya justru dia pakai semua ilmunya buat hal yang menurut dia paling penting.
Sekarang dia mulai belajar affilate di tiktok dan shoppe
malah akun tiktok dia udah capai 50 rb followers
dan mulai ada endoresan masuk
Dan ini yang gue pikir sering salah kaprah di Indonesia
Kita terlalu sering ngukur nilai seorang perempuan dari jabatannya, gajinya, atau seberapa sibuk dia keliatan dari luar.
Padahal ibu yang cerdas, yang terus belajar, yang bisa jadi teman diskusi buat suami dan guru pertama buat anaknya itu kontribusi yang dampaknya jauh lebih panjang dari apapun yang bisa dilihat di CV.
Balik ke pertanyaan awal kalau lo udah punya karir impian terus calon suami minta jadi IRT penuh?
Jawabannya nggak hitam putih.
Yang penting bukan pilihan mana yang lo ambil.
Tapi apakah pilihan itu beneran lo yang mutusin bukan karena dipaksa, bukan karena takut, tapi karena lo sendiri yakin itu yang terbaik buat hidup lo.
Karena pada akhirnya, yang harus nanggung konsekuensinya lo sendiri.
BIOGRAPHY OF M U H A M M A D (S. A. W)
▪Name : Muhammad (SAW)
▪Father : Abdullah
▪Mother : Aminah
▪Date of Birth : 12th Rabi Al - Awwal
▪Date of Death :08 Jun 632 11 after
Hijra
▪Age : 63 yrs
▪Place of Birth : Makkah
▪Place of Death : Madinah
▪Residence : Makkah then moved to
Madina
▪Profession : Businessman , then a
Prophet
▪Age : 63 years
▪Lived in Makkah : 50 years
▪Nabowat Age : 40 years
▪Lived in Madinah ; 13 years
▪Yrs of Preaching : 23 years
▪Merchant : 26 years (583–609 CE)
▪Preacher : 23 years (609–632 CE)
End of Worldly Life : 08 June 632 (11th after Hijra)
A C T I O N S
1. Virtue
2. Preaching
3. Jihad in Islam
B E H A V I O U R
1. Peace and Justice
2. Loving everybody
3. Liking of Muslims
4. Philanthropic
5. Respectful of any organ.
WIVES & MARRIED PERIOD
1. Khadija bint Khuwaylid 595–619
2. Sawda bint Zamʿa 619–632
3. Aisha bint Abi Bakr 619–632
4. Hafsa bint Umar 624–632
5. Zaynab bint Khuzayma 625–627
6. Hind bint Abi Umayya 625–632
7. Zaynab bint Jahsh 627–632
8. Juwayriyya bint al-Harith 628–632
9. Ramla bint Abi Sufyan 628–632
10. Rayhana bint Zayd 629–631
11. Safiyya bint Huyayy 629–632
12. Maymunah bint al-Harith 630–632
13. Maria al-Qibtiyya 630–632
C H I L D R E N
Boys :
1. Al-Qassem
2. Abdullah
3. Ibrahim
Girls :
1. Zaynab
2. Ruqayyah
3. Ummu Kalthoom
4. Fatima
8 Miracles Everyone Must Know About Prophet MUHAMMAD (S.A.W)
Did you know?
1. "Flies, insects, ants and mosquitoes" never land on his body, let alone of bitting him?
2. He did not "yawn" in his lifetime?
3. Both "domestic and wild animals" were never for a second angry with him?
4. During his "sleep," he heard all "conversations?
5. He could see everything both in "front" and at the "back" at the same time without turning?
6. He was always "one foot taller" than anybody that came "near" him?
7. He was "circumcised, washed and cleaned in his Mother's womb before he has been born to this world?
8. He had no shadow even in the Sun, Moon, or Light?