Kata Bunga Zainal
“Pliss jgn terkecoh dengan pemberitaan konflik selebriti ‘S & R’. Focuss pantau pemerintahan guys ”.
Bunga seolah ingin mengajak kita semua untuk tidak terlalu larut dalam konflik antar Ruben Onsu dan Sarwendah yang sekarang ini menjadi konsumsi sehari-hari di media sosial.
Alih-alih terus mengikuti siapa salah siapa benar dalam perseteruan selebriti, ia mengarahkan perhatian kita ke hal yang lebih besar yaitu pemerintahan dan isu-isu yang langsung berdampak pada kehidupan masyarakat.
Sebagai salah satu figur publik yang juga sering menjadi sorotan karena drama keluarganya sendiri, Bunga tampaknya paham betul bagaimana mekanisme pemberitaan selebriti bisa dengan mudah mengalihkan fokus publik dari persoalan yang lebih krusial.
Melalui akun media sosialny, Bunga pernah melontarkan sindiran tajam terhadap Presiden Prabowo Subianto terkait melemahnya nilai tukar rupiah. Saat ini, kurs rupiah terhadap dolar Amerika berada di kisaran Rp18.100 - Rp18.180 per USD, level yang cukup tinggi dan menjadi perhatian banyak pihak.
Drama selebriti memang mudah membuat kita lupa waktu, tapi di balik itu semua ada isu-isu nasional yang sebaiknya tetap kita pantau agar tidak kehilangan arah. Pesan sederhana tapi cukup kuat di saat yang tepat.
Dito Ariotedjo masuk kabinet dengan harta Rp 282 M. Dari jumlah itu, Rp 162 M-nya adalah "hadiah" , 4 rumah + 1 Alphard , dari mertuanya: Fuad Hasan Masyhur, bos travel haji Maktour.
Nggak masalah? Secara hukum boleh. Dilaporkan di LHKPN. Transparan.
Tapi coba pikir ini ,
Tahun 2023, nama Dito disebut di sidang korupsi BTS Kominfo. Saksi mahkota Irwan Hermawan ngaku kasih Rp 27 M ke Dito buat "pengamanan perkara." Dito bantah. Oke. Kita catat.
Tahun 2025, mertua Dito , Fuad Hasan Masyhur, orang yang kasih dia Rp 162 M itu , dicekal KPK. Kasusnya: dugaan korupsi kuota haji Rp 1 TRILIUN. Kantor Maktour digeledah. Barang bukti disita. KPK bahkan menyebut ada indikasi penghilangan barang bukti.
Akibat korupsi ini: 8.400 calon jemaah yang sudah antre 14 TAHUN gagal berangkat haji.
Bukan gagal karena sakit. Bukan karena meninggal. Tapi karena kuota mereka ,yang memang hak mereka , diduga dimainkan orang-orang berduit.
September 2025, Dito dicopot dari kabinet. Belakangan terungkap ia bahkan sudah mengajukan mundur sendiri sesaat setelah mertuanya dicekal.
Januari 2026, KPK panggil Dito lagi , kali ini soal kasus haji. Dito hadir.
Dito bilang: "Sebagai warga negara saya harus patuh hukum."
Serius?
Jadi begini kronologinya:
a. Hidup disubsidi mertua bos travel haji ✓
b. Namanya muncul di dua kasus korupsi berbeda ✓
c. Mertuanya dicekal KPK, kantornya digeledah ✓
d. 8.400 orang tua yang antre belasan tahun gagal ke Tanah Suci ✓
e. Dito dicopot, dan sekarang jadi saksi ✓
Dan lo tahu kata2 Dito sendiri waktu ditanya soal hartanya yang Rp 162 M dari mertua itu?
"Kita kan tidak bisa milih lahir dari mana."
Bener banget, Pak.
Yang 8.400 jemaah itu juga nggak bisa milih , mereka nggak bisa milih supaya hak haji mereka nggak diduga dimainkan oleh orang2 yang lo panggil keluarga.
Minggu, 7 Juni 2026. Presiden Prabowo di Sekolah Rakyat Tabanan, Bali:
"Saya sering diejek sampai sekarang. Kalau kita diejek, balas dengan sopan santun."
Di minggu yang sama:
a. Saiful Mujani, Guru Besar UIN, diperiksa polisi 5,5 jam, dicecar 37 pertanyaan
b. Feri Amsari, pakar hukum tata negara, diperiksa polisi 4 jam
c. Dua ibu di Lombok dipanggil polisi karena posting MBG ada belatung
d. IRT di Bima dipanggil polisi karena kritik menu MBG tidak layak
Balas dengan sopan santun.
Tapi yang mengkritik tetap dipanggil polisi.
Pak Presiden, nasihat itu berlaku dua arah , atau cuma untuk yang diejek, bukan yang mengejek?
Americans be like: "9/11, the most shocking day in world history, when we knew we werent safe at home"
The rest of the world on a daily basis for the past century under Isreal and american t*rrorism: