Aku berprinsip, hidup itu pilihan dan ditiap pilihan ada resikonya. Dan aku memilih untuk menganbil pilihan berhenti dari pekerjaanku, berhenti dari jabatan nyaman yang baru saja aku duduki demi resiko yang seminimal mungikin.
8 tahun sudah usia pernikahanku dengan pria yang memiliki usaha sendiri, semua bisa dikerjakan dirumah, bisa sambil urus anak2. Pria yang tidak pernah menuntuk aku untuk kerja atau tidak, mau urus rumah atau tidak, mau masak atau tidak semua keputusan terserah padaku.s
atau mengahadipinya dengan resiko kami bisa saja melakulan cinta terlarang atau justru menjadi rekan kerja yang kompak. Tidak ada yg tau dan tidak ada yg bisa memberi jaminan.
โhei Firgi, kamu enak lulus pendidikan spesialis makin keren, makin punya gelar, makin bisa bertingkah, ketemu sama yg lebih muda dan cantik gitu misalnya, dan siapa yang akan menolak spesialis ya kan? Sedangkan aku? Aku nunggu kamu 5 sampai 6 tahun lagi? Apa jadinya aku?
Aku sudah setahun ini menutup semua media sosialku sehingga hanya sedikit saja dari teman2ku yang aku undang, tidak gembar gembor di medsos atau media apapun. Aku memang sudah niat menutup semua media yg menghubungkanku dengan Firgi, tidak dendam hanya aku ga tau harus berbuat ap
Tidak lama aku kenal dengan pria lain dan mulai menata kembali kehidupan asmaraku, lelaki sederhana, bukan dari kalangan dokter, bertanggung jawab dan yang tidak akan pernah aku sangka akan secepat ini prosesnya sampai ia benar2 mantap melamar dan selang 2 bln kami menikah.
Sulit, tapi aku berusaha bangkit dan mengikhlaskannya walau berat, aku ganti semua medsos dan nomer hpku, walau sebenrnya dia tau rumahku, dan jika memang niat mencariku bisa saja datang kerumah, namun tidak juga ia melakukannya sampai 1 tahun pun berlalu.
Mungkin inilah akhirnya, 1 hal mungkin memang pada dasarnya hubungan kita tidak pernah ada atau bisa dibilang HTS (hubungan tanpa status). Atau memang dia yang sudah jenuh sejenuh jenuhnya denganku tapi bingung gimana untuk mengakhirinya.
Entah kenapa aku berfikir hubungan kami sudah jelas tidak akan berlanjut. Aku minta diantar pulang saja, dia meng iya kan dan bilang kabari saja kalau sudah tenang dan kami bicarakan lagi. Aku tidak pernah mengabarinya lagi, begitupun dia. Dia tidak lagi mencari kabarku.
Perawan tua, itu pun ga ada jaminan untuk kamu pasti nikahin aku kan? Hati orang siapa yang bisa jamin?โ aku emosi dan gak habis fikir dengan alasannya.