wah ini sih harus diarak terus dipukulin, ditampar, dipanggil orang tuanya, dipermalukan di depan umum. perilaku hetero yg seperti ini sangat mengganggu publik huh semoga dilaknat tuhan :/
Nikita Khrushchev, ketua Dewan Menteri Uni Soviet, memberikan kuliah umum kepada mahasiswa UGM di bangsal Pagelaran, Kraton Jogja, 21 Februari 1960.
Nampak juga antaranya Sukarno dan Hamengku Buwono IX.
Jepretan John Dominis, jurnalis majalah LIFE.
Indonesians yearn for CCP rule but they get scared at the word communism so all they're getting is one thousand years of third world right wing kleptocracy
Lo bilang mahasiswa UI cuma bisa kritik tanpa solusi. Mahasiswa BINUS buka laptop, bangun solusi.
Keren. Tapi lo lupa satu hal.
MBG , program yang lo bela , dikelola negara, bukan mahasiswa UI.
Hasilnya:
a. 20 ribu kasus keracunan sepanjang 2025.
b. Ombudsman temukan 4 potensi maladministrasi.
c. Kejaksaan Agung tangkap pimpinan BGN atas dugaan korupsi Juni 2026.
d. Anggaran Rp335 triliun dipangkas.
e. Pengelolaan diserahkan ke SPPG milik TNI dan Polri.
Itu bukan solusi.
Itu laptop yang meledak di tangan rakyat.
Lo bilang demonstran cuma bawa spanduk, bukan solusi. Betul.
Tapi lo tidak bilang kenapa mereka turun.
Mereka turun karena negara yang punya anggaran, punya kekuasaan, punya seluruh sumber daya ,tetap gagal menyuap rakyat dengan makanan yang tidak meracuni.
Kritik bukan lawan dari solusi.
Kritik adalah prasyarat solusi.
Tanpa audit, tidak ada perbaikan.
Tanpa tuntutan, tidak ada akuntabilitas.
Tanpa demonstrasi 1998, tidak ada reformasi.
Laptop lo yang paling canggih pun tidak berguna kalau yang pegang kontraknya TNI dan Polri.
Lo bilang sejarah lebih mengingat pencipta solusi dibanding penyampai tuntutan.
Sejarah mengingat Munir. Bukan karena dia buka startup.
Sejarah mengingat Marsinah. Bukan karena dia pitch ke investor.
Sejarah mengingat mereka karena berani menuntut ketika yang berkuasa tidak mau mendengar.
Negara tidak dibangun hanya dengan inovasi.
Negara juga dibangun dengan keberanian berkata: ini salah, dan harus dipertanggungjawabkan.
Siapa yang ngajarin lo bahwa diam adalah solusi?
they have these in the US too, they're called the Troubled Teen Industry and ive lost a friend to them. China, being a private capitalist country, also has them.
Menurut gw pribadi, mending keberadaan IPDN itu ditinjau ulang deh…
Asal kelen tahu..
Ilmu-ilmu yang ada di IPDN itu udah diajarin di FISIP dan FIA di seluruh Indonesia.
Perbedaannya, IPDN itu ikatan dinas, biaya minim, dan juga semi-militer.
Lantas buat apa ada IPDN? Wong lulusannya juga jadi ASN. Anak FISIP dan FIA mah disuruh jadi ASN juga bisa.
Dan yang gw juga heran kenapa IPDN semi-militer?Padahal lulusannya itu ya jadi sipil semua…
Terus yang lebih ga nyaman lagi:
Tiap tahun, IPDN butuh ratusan miliar.
Kalian tahu ga? Berapa anggaran IPDN di 2026?
814 MILIAR!
Padahal tahun lalu hanya 517 miliar.
Mana masuk pos anggaran pendidikan lagi.
Dan ini diperuntukkan untuk 5-6 ribu orang praja..
Sayang banget menurut gw.
Duit 817 M itu bisa dipakai buat subsidi PTN-PTN di seluruh Indonesia.
Foto: Rakyat Merdeka dan Pos Jateng
fyi ni si dosen kesmas juga queerphobic dan anti childfree wkwkwk
saran aja nih min, kalau masih sering bias, pakai identitas pribadi aja jangan pakai identitas profesi, kesmas bukan ilmu agama😁