@AltoLuger Adek saya dan mama jadi korban laka oleh seorang cewek. Udah lapor polisi dan identitas pelaku sudah diketahui, sdh kirimkan foto motor pelaku dirumahnya dan masih aja lambat banget responnya. Akhirnya pihak keluarga memutuskan menyudahi dan mrsa kecewa sekali dengan kinerjanya.
Ini sih bukan Pungli lagi, tapi BEGAL!!
Rakyat Banting tulang Ampe keluar keringet dingin "Bayar Pajak" demi ngegaji & ngasih seragam kalian,malah kalian RAMPOK!
DASAR BGST KELEN SEMUA!!
📹: Sambil ngopi dan nongkrong di warung Oknum Dishub Bekasi diduga Palak Supir Rp 1,7jt
MENGAPA PALANG PINTU DI PAPUA TIDAK ADA YANG BERANI MEMBUKA?
Bagi banyak orang, pemalangan jalan di Papua sering dianggap sebagai tindakan yang menghambat aktivitas masyarakat. Namun, bagi masyarakat adat Papua, palang pintu bukan sekadar penghalang jalan, melainkan simbol hukum adat dan bentuk protes terakhir ketika hak-hak mereka dianggap diabaikan.
Pemalangan umumnya dipicu oleh sengketa tanah ulayat, tuntutan ganti rugi yang belum diselesaikan, ketidakpuasan terhadap proyek pembangunan, hingga respons atas konflik sosial. Bambu, kayu, atau kain merah yang dipasang memiliki makna bahwa wilayah tersebut sedang berada dalam status larangan menurut adat dan tidak boleh dilanggar sebelum persoalan diselesaikan melalui musyawarah.
Lalu, mengapa tidak berani dibuka saja? Karena tindakan membuka palang secara paksa bukan hanya soal menyingkirkan penghalang di jalan. Langkah tersebut dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap hukum adat dan penghinaan terhadap hak masyarakat adat, sehingga berpotensi memicu konflik yang lebih besar, bahkan bentrokan yang mengganggu keamanan dan ketertiban.
Itulah sebabnya pemerintah dan aparat keamanan umumnya memilih pendekatan dialog dengan kepala suku dan tokoh adat, sembari menyelesaikan persoalan administratif seperti ganti rugi tanah atau tuntutan masyarakat. Pendekatan ini dinilai lebih efektif untuk menjaga stabilitas sekaligus menghormati keberadaan hukum adat yang masih hidup di Papua.
Meski pemalangan sering merugikan masyarakat luas karena menghambat akses dan aktivitas ekonomi, penyelesaiannya tidak sesederhana membuka paksa palang tersebut. Tantangannya adalah mencari titik temu antara penegakan hukum negara, perlindungan hak masyarakat adat, dan kepentingan publik agar semua pihak memperoleh keadilan.
Ilustrasi : meilan.matsumoto6
Sekedar melengkapi bukti agar kita semua bisa merangkai kronologi secara utuh.
Ini adalah plot yang sempat hilang dan merupakan bagian penting dari peristiwa yang terjadi di Matraman kemarin pagi, dimana kedua belah pihak terlibat perkelahian alias tawuran.
Terlihat dalam video bagaimana pihak preman terus memprovokasi dan melakukan perlawanan dari dalam area pekarangan markas mereka, tidak terlihat upaya untuk meredakan situasi atau berusaha menempuh langkah persuasif guna mencapai perdamaian, kendati permasalahan ini timbul akibat arogansi para preman penunggu lahan.
Seiring berjalannya waktu, pihak preman mulai terdesak lantaran jumlah masyarakat yang datang ke TKP semakin meningkat.
Selain itu kondisi fisik para preman juga sudah mulai kelelahan dan tidak memungkinkan untuk melanjutkan pertempuran, akhirnya pintu gerbang berhasil dijebol oleh masyarakat.
Lanskap pertempuran berubah total, warlok berhasil menduduki markas para pemain. Sementara para preman yang kelelahan mencoba untuk menyelamatkan diri dengan cara melompati tembok tinggi.
Namun upaya tersebut gagal dan 2 orang preman harus menjadi bulan-bulanan warga, satu orang tewas dan seorang lagi mengalami luka parah.
Berdasarkan bukti video ini dapat kita simpulkan bahwa memang para preman ini tidak memiliki itikad baik untuk menyelesaikan urusan secara kekeluargaan, mereka terus saja melakukan perlawanan.
Inilah yang kemungkinan menimbulkan emosi warlok semakin terbakar,
Messi still has 0 goals against Brazil, Spain, Italy, Germany, England, and Portugal in competitive games
How can you call this dude a goat? He is a fraud
One is football, the other is anti-football.
Whomever handles Argentina's PR really has a lot of work on their hands after this WC. I don't think I've ever seen so much backlash.
They don't give a fuck. Argentinians are very stubborn, especially when they're wrong, moreso when it's about football.
The whole of south america are happy that the world is starting to acknowledge that Argentinians are rascist.
Their rugby team has also lost their marbles (after being seen as a fairly respected team). Something is going on in Argentina.
Este es, quizás, el vídeo más descarado de la Final de la Copa del Mundo. Todos vimos cómo Enzo Fernández casi mata a Pau Cubarsí, pero si te fijas, más abajo, un jugador de Argentina, Nicolás Tagliafico, ve la tremenda patada de su compañero y, sabiendo que la ha cagado, se le ocurre tirarse al suelo y fingir una lesión. Enzo recibe la tarjeta roja, pero Messi se acerca al árbitro señalando a su compañero argentino caído (a Tagliafico) diciendo que está lesionado. Afortunadamente no coló. Son delincuentes, no jugadores de fútbol.
En la acción de la roja a Enzo, fijaos en el compañero que se tira al suelo simulando una falta inexistente, y encima Messi reclamando al árbitro que se revise jajajajajajaja es que son patéticos, así llevan toda la vida.
teddy: "PUSH UP SEMUA SEKARANG"
ini bbrapa point yg disampaikan teddy dalam pembekalam 1.600 taruna akmil:
- kau lari kesana, berapa detik bisa? kalau ditanya itu dijawab
- kau ngantuk nggak?
- ya silahkan minum
- 15 tahun yg lalu saya ada disni seperti kamu
- suatu saat kmu bisa lebih dari saya
- jadilah perwira yg ngga gitu-gitu aja
- kalau kau udah terlanjur basah jgn tanggung tanggung
Polonia se negó a acoger inmigrantes musulmanes.
Polonia fue acusada de «islamofobia».
Hoy en día, Polonia es más segura que cualquier país de Europa. Las mujeres están seguras.
Polonia no tiene bandas de violadores ni manifestaciones a favor de Hamás.
Polonia tenía razón.