Maret 2026, Garuda Indonesia resmi kehilangan status bintang 5 dari Skytrax. Tapi orang Indonesia yang butuh terbang "aman" tetap milih Garuda duluan. Bukan karena servisnya paling bagus.
Ini kayak kenapa orang percaya dokter dari jas putihnya, bukan dari rekam jejaknya. Garuda dapet keuntungan yang sama — logo pemerintah, seragam pilot, status "maskapai nasional". Otoritas duluan, evaluasi belakangan (kalau sempat).
Coba inget lagi opsi terakhir yang lo pilih pas booking — beneran karena butuh, atau karena ada opsi tengah yang bikin itu keliatan paling make sense? #BrandStrategy#BehavioralEconomics#Traveloka
Traveloka selalu kasih 3 opsi tiap booking — hemat, reguler, premium. Gue notice satu hal: opsi tengah itu sebenernya nggak pernah didesain buat beneran dipilih.
Otak kita emang gitu. Susah nentuin sesuatu worth it atau nggak cuma dari angka sendirian. Begitu ada 3 opsi berdampingan, kita otomatis nyari 'posisi aman' — dan posisi itu udah didesain buat narik kita ke atas.
Coba cek produk lo sendiri — ada bagian yang bikin user ngerasa "ini gue banget" tanpa lo sadar sengaja dirancang buat itu? Atau selama ini cuma ngejar angka pengguna doang?
#BrandStrategy#BehavioralEconomics#BankJago
Bank Jago nggak gencar promosi, cabang nyaris nggak ada. Tapi begitu orang pindah ke sana, susah banget balik ke bank lama. Gue notice ini bukan soal bunga atau app-nya doang.
Which is kenapa pas ada bank lain nawarin bunga lebih tinggi, orang mikir dua kali buat pindah. Bukan itung-itungan rasional — tapi karena mindahin "Dana Nikahan" berasa kayak ninggalin sesuatu yang udah punya kamu.
Coba cek: hal yang lo masih lakuin sekarang, itu karena emang berguna, atau karena lo udah keburu bayar/komit duluan? Worth dipikirin.
#BrandStrategy#BehavioralEconomics#Ruangguru
Makanya Ruangguru (dan hampir semua subscription tahunan) gak butuh convince orang buat terus belajar — cukup convince orang buat bayar duluan. Sisanya, rasa gak enak sendiri yang kerja.