Ada yang aneh deh sama managerial di tweet ini, maaf ya aku bakal sampaikan otokritik ini dengan point out hampir semua hal yang bikin orang-orang juga muak.
Managerial masnya ini memang aneh banget dan jelek parah.
Dari awal cerita soal milih 3 intern (2 UI, 1 UPH, semua IPK >3.7), terus cerita achievement pribadinya waktu kuliah ke Prancis-Jerman meski bidikmisi. Satu yang belum pernah ke luar negeri disuruh bikin paspor biar “punya mimpi”, katanya itu diajarkan sama pengurus asrama bidikmisi ITB.
Well, bagus sih kedengarannya, tapi kemudian langsung kasih contoh kepemimpinan yang bikin orang geleng-geleng kepala.
Di situ masnya ada kasih tugas ke salah satu intern.
“Tugas lu weekend ini nonton film ini” (film 9 Summers 10 Autumns).
Dikasih Jumat malam. Intern balas: Sabtu-Minggu coba cari filmnya, ternyata cuma ada di Netflix yang dia nggak punya akun. Dia coba alternatif lain, nggak ketemu, akhirnya baru Senin sore pinjem akun temen dan rencana nonton malam itu.
Eh langsung dibalas, “SP 1 bro. Will give you chance 2x lagi.”
Padahal internnya udah minta maaf dan bilang “Baik kak Luca”. Tapi tetap diunggah ke publik sebagai bahan olokan.
Terus habis itu masnya nunjukin flowchart “high agency vs low agency” yang super duper kaku.
Di mana low agency = diam nunggu ditanya, ga eskalasi, akhirnya SP.
Kalau high agency = cek ketersediaan film duluan, chat temen, pinjem akun, nonton Sabtu malam, lapor lebih awal.
Terus bilang “Common sense. Gue kenal yang punya film dan gue tau valuenya, makanya gue taruh ke lu dulu, tapi lu missed.” dan “Berlaku buat semua, framework simpel.”
Hal yang paling bikin aku muak adalah pas banyak otokritik masuk soal “kasih tugas weekend”, “kasih SP tanpa prosedur jelas”, “maksa anak magang kerja di hari libur”, malah responnya sengak banget:
“Pasti kamu bukan top 3 uni jadi dikasi tugas weekend nangis.”
Like—What?!!
Argumentasinya sebatas degrading orang lain doang.
Terus di thread lain juga ada bilang “Lah gue business owner bukan HR”.
Kayaknya mindsetnya cuma “gue owner, gue yang atur, lo pada ga usah banyak bacot” doang ya?
Terus yang aneh dari masnya juga keliatan di sini: suka positioning diri sebagai mentor yang “ngajarin resilience” dan “ngasih mimpi”, tapi begitu ada sedikit delay atau ga sesuai ekspektasi “high agency”-nya, langsung kasih SP formal.
Framework high agency-nya secara teori oke, tapi diterapin ke anak magang/intern yang baru, dengan tugas yang bisa dibilang debatable (nonton film doang di weekend), plus dikasih pas Jumat malam, itu rasanya lebih ke power trip daripada leadership.
Belum lagi di post utamanya dia bilang “Gapake babibu cuk gue SP” sambil nyebutin “baru tau juga LK21 udah musnah dan filmnya gaada bajakan 😂”.
Seolah-olah mengharapkan internnya pake cara pintas ilegal.
Like—okay???
In conclusion, ini bukan contoh leadership yang bagus sih mas. Ini lebih ke boss yang suka kontrol, suka kasih warning formal buat hal kecil, suka dismiss kritik dengan “lo bukan dari top uni” atau “gue owner”, dan suka bikin teman-teman yang lagi magang merasa harus selalu “on” bahkan di weekend.
Power imbalance-nya itu loh gede banget, dan cara mengajarnya malah bikin orang takut salah daripada bener-bener berkembang.
It will only bring you compliance, not trust.
Oh God—may this kind of leader never find me.
Lihat journeynya @lucaxyzz hire intern seru juga. Memang hal-hal yg glorify kerja keras-ambis-hustle culture itu ga disukai di X.
But, trust me itu intern lucky banget sebenernya. Lucky juga nanti siapapun bos berikutnya yg dapet intern ex-Luca (kalau lulus).
I cannot help but think that there's something seriously wrong in our nation building that we failed to incorporate learnings and constantly letting history repeating again and again.
kita dicegat. didorong. mereka ga memperbolehkan kita masuk ke Bundaran samsek karena “mengganggu aktivitas masyarakat”. Emang kita mahasiswa apaan? Pisang ambon???
Honestly, one of the best decision I've made was to stay away. With everything that's been going on in this world, it is important to look at political views when looking into one's friendship. Good riddance I'd say.
Dulu sempet debat sama salah seekor voters 02 ini bebal banget astaga. Bak keledai dicucuk hidung. 3 jam debat ujungnya cuma "yaudahlah siapapun presidennya ga ngaruh ke hidup gw"
Makan tuh ga ngaruh ke kehidupan.
W pernah ngetik di WA sayangnya gada arsip dah intinya tuh menurut w
"Orang-orang militer akan selalu membenci kelompok akademik karena pendidikan mengarahkan mu pada kebebasan dan perlawanan. Sedangkan mereka menyukai kepatuhan dan tunduk pada kekuasan"
nasionalisme indonesia itu dilahirkan en dikembangkan oleh para intelektual bukan tentara, sebab itu menjadikan tentara sbg rujukan pemahaman nasionalisme bkn saja gagal paham sejarah, tetapi juga mengerdilkan pemahaman nasionalisme indonesia
Saya sih nggak terlalu kaget soal isu sensitif istana yang lagi beredar. Yang justru bikin saya kaget adalah fakta bahwa ternyata Komdigi bisa secanggih itu.
Bisa gerak cepat. Bisa responsif. Bisa menekan platform besar. Bisa bikin akses media sekelas YouTube/Google ikut kena tindakan (walaupun masih bisa diakses lewat VPN h3h3). Bisa bikin pernyataan resmi (padahal target subyek pembahasan di video bukan Komdigi, tapi Komdigi rela nyebokin).
Bahkan bisa sigap ambil langkah hukum dan bisa bypass aturan MK soal pedoman UU ITE yang nggak bisa digugat oleh badan/instansi.
Berarti kemampuan teknisnya ada.
Dan kalau kemampuan itu memang ada, harusnya ruang digital kita bisa jauh lebih bersih dari sekarang.
Harusnya iklan penipuan nggak semudah itu lewat. Harusnya nomor pribadi masyarakat nggak seenaknya dipakai SMS promosi.
Harusnya data kita nggak gampang bocor lalu dipakai buat nawarin pinjaman, j*dol, investasi bodong, sampai lowongan kerja palsu. Harusnya platform-platform digital yang merugikan masyarakat juga bisa ditindak dengan kecepatan yang sama.
Karena ternyata masalahnya bukan karena negara ini nggak punya alat. Alatnya ada. Jalurnya ada. Kapasitasnya ada.
Cuma selama ini kita terlalu sering melihat teknologi negara bekerja cepat ketika yang terganggu adalah kekuasaan, bukan ketika yang dirugikan adalah masyarakat.
Karena ternyata tombolnya memang ada.
Cuma rakyat sering kebagian tulisan:
“mohon menunggu”.
Tapi yaa kita sama-sama paham lah ya, kenapa isu-isu krusial yang lain terkesan sulit diberantas.
Sekelas warung remang-remang saja mesti "koordinasi" dulu biar bisnisnya tetap jalan.
Paham kan ya..
cc:cakraadinegara
Gak cuma di UI aja sih beginian. Di tempat kuliah w dulu juga ada modelan groupchat begini. Isinya cowok2 otaknya di kontol.
Korbannya temen-temen gw sendiri.
Oh how I wish you all to rot in hell.
Arab regimes intercepting Iranian missiles above their cities and risking the lives of their own citizens to protect Israel and US bases is one of the most disgusting scenes we will keep witnessing in this war