Ku harap kamu menemukan cinta di apa saja yang kamu lakukan dan perjuangkan. Ku harap cinta yang baik juga tertanam dalam dirimu untuk sesama dan semuanya.
Barangkali kamu menemukannya pada matahari terbit dan tenggelam, pada tanaman, pada bunga yang mekar, pada malam yang ada bulan terang, pada pagi yang sejuk, dan pada segelas minuman kesukaanmu.
Maka perselingkuhan bukan sekadar persoalan moral individu, tetapi cermin bagaimana budaya oportunisme bisa dinormalisasi dalam sistem yang lebih besar.
Dalam relasi personal, pengkhianatan merusak rumah tangga; dalam relasi negara, pengkhianatan merusak kepercayaan publik. Ketika kepentingan lebih diutamakan daripada komitmen, baik dalam hubungan maupun dalam tata kelola, yang lahir adalah krisis kepercayaan.
Saya coba memakai perspektif Analisis Wacana Kritis untuk membedah maksud dari opini di atas. Jika perselingkuhan dipahami sebagai pelanggaran terhadap komitmen yang disepakati, maka analogi terhadap praktik kekuasaan menjadi relevan.
; Menjelang Hilang
Perasaanmu bukan sesuatu yang bisa kukendalikan, sebagaimana perasaanku bukan sesuatu yang bisa kau atur. Kita masing-masing adalah kendali atas perasaan kita sendiri dan bertanggung jawab atasnya. Sangat tak mungkin bagiku menahan perasaanmu kepada seseorang;
yang semula suka bisa menjadi tak suka, yang semula cinta bisa berubah menjadi benci, dan sebaliknya. Namun pilihan untuk menjaga, merawat, atau melepaskan perasaan tetap berada di tangan kita.