Bukan Gus, apalagi Kyai. Cuitan pribadi, dan tak biasa basa basi. Penikmat baca, musik, kopi & kretek. Bukan anggota PBNU tapi Nahdliyin organik sejak lahir.
Saudara2 kita yg di luar Jawa.
"Bapak ngantri BBM. Ibu ngantri gas melon. Anak keracunan MBG. Rumah mati lampu. Air bersih krisis. Kampung dikepung asap."
Pejabat yg di Jakarta: "ekonomi rakyat sedang tumbuh, menuju kesejahteraan."
TAEKlah!
Penguntitan ini masih terus berlangsung. Kemana pun saya pergi, mereka selalu ngintai. Tidak tahu tujuannya apa. Tapi satu hal, saya sudah tidak peduli. Silakan cari tahu, saya bertemu siapa dan berkegiatan apa saja. Bodo amat!
Satu hal yang harus saya ingatkan: surveilance itu harusnya tidak boleh ketahuan. Intelijen itu senyap. Gak norak kayak gini. Kecuali kalian memang hanya mau numpang makan atas nama perintah atasan.
Saya heran, ada orang yang sudah 2 kali ketangkap KPK tapi masih saja ada yang mau berhubungan dalam soal "makelar-memakelari" perijinan kementerian. Mosok gak ada rasa waswas gitu?
Ngakak abis. Gunung meletus serentak di Indonesia dituding karena rekayasa frekwensi auroral berdaya tinggi oleh pihak asing.
Ini sama kayak teori yg ngebangun Borobudur adalah Nabi Sulaiman. Karena ada kota Sleman di dekatnya. Haha.
Mulai dikepung kawan sendiri yang banyak "masuk angin". Tapi memang, di tiap sejarah pertempuran pasti ada saja kawan yang tak tahan lapar. Mencari remah makanan di dapur lawan. Biasalah itu..
Saya tidak pernah peduli siapa elit PBNU-nya. NU bagi saya bukan lagi organisasi, melainkan sudah "values and virtues".
Saya hanya berdoa, mereka yg numpang makan dan cari jabatan dgn membajak nama PBNU, semoga hidupnya tak pernah bermanfaat bagi siapapun, termasuk dirinya.
Di Haiti, penguasa memakai preman sebagai alat intimidasi elektoral dan pasukan pemukul. Fasilitas, impunitas dan konsesi kekuasaan diberikan. Sekarang Haiti jadi negara gagal. Gerombolan preman menguasai hampir semua aset utama negara, termasuk 80% ibukotanya, Port-au-Prince.