membantu mereka mengerjakan tugas. Namun, perkembangan AI yang semakin pesat juga memunculkan sejumlah kekhawatiran. Mulai dari persoalan plagiarisme hingga batas yang semakin kabur antara AI sebagai alat bantu dan sebagai pembuat karya.
Isu yang menjadi perbincangan di antara para mahasiswa karena diharuskan untuk beradaptasi dengan teknologi dan tetap mempertahankan integritas akademik, khususnya bagi mahasiswa UPI yang memiliki batasan-batasan terkait penggunaan AI, ini menjadi bukti bahwa AI sudah menjadi-
membantu mereka mengerjakan tugas. Namun, perkembangan AI yang semakin pesat juga memunculkan sejumlah kekhawatiran. Mulai dari persoalan plagiarisme hingga batas yang semakin kabur antara AI sebagai alat bantu dan sebagai pembuat karya.
Bumi Siliwangi, https://t.co/fuexuE5HVm - Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, kehadiran Artificial Intelligence (AI) telah membantu masyarakat dalam mengerjakan aktivitas sehari-hari, khususnya bagi kalangan akademisi seperti mahasiswa dan dosen.
bagian dari pendidikan itu sendiri. Dilansir dari GoodStats, Indonesia menempati urutan pertama penggunaan AI yang didominasi oleh mahasiswa, yakni sekitar 95 persen pada tahun 2025. Dengan tingginya angka tersebut, AI bukan lagi teknologi baru, melainkan alat yang secara umum-
pembinaan karakter, kepemimpinan, serta kepedulian lingkungan bagi mahasiswanya melalui organisasi kemahasiswaan di bawah naungan kampus.
Baca selengkapnya di: https://t.co/RxLOH5eRch
Oleh: Forum Komunikasi Perhimpunan Pecinta Alam UPI
Bandung, https://t.co/fuexuE5HVm – Forum Komunikasi Perhimpunan Pecinta Alam (FKPPA) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar Temu Wicara Anggota Muda (TWAM) di kawasan Batu Kuda, Manglayang, Kabupaten Bandung, Sabtu–Minggu (4–5/7).
Kegiatan yang diikuti oleh 65 anggota muda dan 51 dewan pengurus dari 15 perhimpunan pecinta alam di lingkungan UPI ini berlangsung mulai Sabtu (4/7) pukul 10.00 WIB hingga Minggu (5/7) pukul 17.00 WIB, dan menjadi salah satu wujud nyata peran UPI dalam memfasilitasi ruang-
Baca selengkapnya di Isolapos
Baca selengkapnya di: https://t.co/mpTmWkJLdI
Oleh: Athaillah Safira Putri*
*Penulis merupakan mahasiswa Program Studi Psikologi angkatan 2024
Tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis yang bersangkutan
Pemadaman listrik yang terjadi di sejumlah wilayah Pulau Jawa pada Juni 2026, termasuk Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya, memunculkan pertanyaan yang sederhana sekaligus mengusik:
bagaimana mungkin gangguan listrik terjadi di negara yang dikenal sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di dunia? Pertanyaan ini tidak hanya muncul di ruang publik, tetapi juga menjadi pembahasan di berbagai media, lembaga riset, hingga parlemen.
Pada UU No. 43/2007 — Pasal 23 ayat (1) menyatakan "Setiap sekolah/madrasah menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional perpustakaan dengan memperhatikan Standar Nasional Pendidikan."
Namun apa jadinya bahkan disekitar kampus pendidikan hal tersebut belum terpenuhi? Lalu bagaimana keadaan lapangan sebenarnya? Dan bagaimana upaya yang dilakukan pihak sekolah?
Oleh: Firyal Puteri Fahima*
*Penulis merupakan mahasiswa Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis yang bersangkutan
“Kebahagiaan sejati sering kali tumbuh dalam keheningan, namun layar digital memaksa kita untuk terus bersuara agar dianggap ada.”
Bayangkan sebuah meja kayu di sudut kedai kopi yang estetik. Di atasnya tersaji secangkir coffee latte dengan seni busa yang rapi,
Hidangan yang mulai mendingin itu tidak boleh dinikmati sebelum berhasil melewati gerbang digital bernama unggahan cerita media sosial.
Baca selengkapnya di https://t.co/fuexuE5HVm
Baca selengkapnya di : https://t.co/vULcjCcHzl