Setelah kepergiannya, hidupku benar-benar kacau. Jam tidur sudah tidak terkendali. Penyakit-penyakit lama mulai kambuh lagi. Tapi aku bangga karena bahkan setelah tertatih-tatih aku masih pada pendirian untuk tidak menggangu hubungannya.
Berhenti bersikap seolah masih menyayangiku. Berhenti untuk semua. Pada akhirnya yang pertama pergi adalah kamu, yang berjanji untuk kembali juga kamu, dan yang ingkar juga kamu. Aku tidak bermaksud menyalahkan.Hanya saja tolong kasihani aku yang terus menerus dihantui penyesalan
Perihal kepergianmu aku sudah bisa menerimanya dengan lapang dada. Perihal sekarang kamu memilih orang lain aku juga sudah ikhlas. Namun cobalah untuk berhenti membuat seolah-olah keputusanmu untuk ingkar adalah karenaku. Kita sudah sama-sama dewasa
Jujur sikapmu membuatku menyesali kenapa tidak membalas langsung pesanmu saat itu. Mungkin harusnya hari itu aku akan lebih meluangkan kesibukan. Tapi semua yang terjadi kini sudah terjadi. Tidak bisa di ubah. Pesan ku untukmu, berhenti bersikap seolah terpaksa karena memilih dia
Kamu tahu bagaimana kondisi ekonomi ku, bagaimana aku bekerja keras 8 am - 10 pm bukan cuma buat hidupku dan keluarga ku. Tapi untuk masa depan yang sudah kita rencanakan. Untuk menyisihkan uang untuk sebuah pertemuan.
Akupun telah berulang kali mencoba memperbaiki dan kembali namun katamu bukan sekarang waktunya, katamu perasaannya masih sama. Lantas setelah sekarang kamu memilih orang yang baru 1 minggu kamu kenal. Karena salah paham, kamu lantas melampiaskan semuanya padaku.
Kamu tentu tahu bagaimana kita akhirnya menjadi asing. Kita sudah lama memutuskan hubungan, pada saat itu aku juga sudah mencoba mengikhlaskan. Tapi kamu selalu mencoba meyakinkan untuk kembali. Perpisahan hanya fase dimana masing-masing dari kita memperbaiki diri.