Selamat pagi kaum pura-pura, sudah berapa kali ganti muka ?, sesekali diri diisi kata-kata, titik. koma, tanda seru!, tanda tanya?, supaya sedikit lebih berwarna, supaya tidak hanya bertemu luka, dan supaya mukamu tetap awet muda. Selamat berpura-pura... おはよう!!
Sampai saat ini, yang kutunggu hanya notif darimu. Andai Whatsapp dapat besuara, mungkin telah menganggapku gila. Rela tak bermimpi demi menerima text tak berspasi. Bahkan perasaan panas ini membuat kopi dinginku tak berarti. おはよう !
Berawal dari Canda, berjalan sesuai Realita, berujung Bahagia. Memang terasa lelah, meski begitu situasi ini tak ada yang salah, walau mudah berucap pisah, kau tetap secercah cahaya yang cerah.
Cukup sudah kuoreh Aksara di lembar terakhir ini. Yang suatu hari akan membuatku Rindu tuk Membacamu Lagi. Kau tidak perlu tau tentang apa yg Kualami. Yang perlu kau tau, Aksara ini bukanlah Fiksi. Selamat jalan Aksara, menggemalah di Bumantara, mengindahlah bak Aurora.
Aku terkejut kau melakukan Kudeta, Menyingkirkan posisiku sebagai Raja, Dan menggantikanku dengan Raja yg lebih pantas untuk Ratu sepertimu. Aku tak melarang kau masih mengaggapku sebagai Penasihat untukmu. Tapi Kekecewaanku memilih untuk pergi dari Kerajaanmu.
Sengaja membiarkanmu menoreh Sastra di lembaran depan buku ini, Mencintaiku setiap lembarnya dengan Sastra yg kau buat. Lalu, menyisakan lembaran terakhir untuk kuoreh kata terakhir dari Orehan Fiksimu, sebelum asap bakar mengantarkan Fiksi ini menuju Bumantara.