@Mundiwangi4 Kan gw prnh blg, muslim yg baik itu bkn muslim beneran krn muslim beneran itu hrs ngamalin isi kitabnya. Muslim yg baik psti bkn muslim yg bnr krn muslim bnr sdh psti bkn muslim yg baik. Berbahagialah wahai engkau muslim² yg baik krn engkau msh memiliki moral&hati nurani
@SammiSoh Mulai skrg lbh patut dipanggil cuk imin drpd cak imin.
Iku lho wes nyicipi tempik nganti 50, nek diitung tempik siji belahane onok loro berarti satus belahan tempik ning kowe isih nyalahke wong liyo, cuk...cuk...
"Pascal’s Wager: Taruhan Eksistensial"
(Banyak teis, baik Muslim maupun Kristen yang suka menggunakan Taruhan Pascal secara malu-malu kucing dalam debat denganku dulu untuk mempersuasiku, siapa tahu aku berpikir ulang, dan berubah pikiran, ikut bertaruh, dan memilih untuk percaya angka keberuntungan [Tuhan]. Tahu apa yang kukatakan kepada mereka? "Jangan kebiasaan kau berjudi dibawa ke taruhan eksistensial. Haram.")
Di antara sekian banyak argumen religius dalam sejarah filsafat Barat, "Pascal's Wager" mungkin adalah salah satu yang paling terkenal sekaligus paling problematis. Bukan karena ia berhasil membuktikan Tuhan secara rasional, melainkan justru karena ia mengakui kegagalan rasio untuk melakukannya. Di titik itulah Blaise Pascal mengambil langkah yang unik: jika akal tidak mampu memastikan apakah Tuhan ada atau tidak, maka manusia sebaiknya "bertaruh" saja pada iman.
Pascal menulis seolah manusia adalah penjudi eksistensial. Kita tidak bisa keluar dari permainan. Kita harus memilih: percaya atau tidak percaya. Dan menurut Pascal, taruhan paling rasional adalah percaya kepada Tuhan. Sebab jika Tuhan ternyata ada, orang beriman memperoleh kebahagiaan abadi; jika Tuhan tidak ada, kerugiannya hanya sedikit: waktu ibadah dan beberapa kenikmatan duniawi. Sebaliknya, jika seseorang tidak percaya dan Tuhan ternyata ada, kerugiannya tak terhingga: kutukan kekal.
Secara sederhana, logikanya dapat digambarkan seperti ini:
Percaya + Tuhan ada = keuntungan tak terbatas.
Percaya + Tuhan tidak ada = kerugian kecil.
Tidak percaya + Tuhan ada = kerugian tak terbatas.
Tidak percaya + Tuhan tidak ada = keuntungan kecil.
Karena "keuntungan tak terbatas" lebih rasional daripada "risiko kehancuran abadi", maka percaya dianggap pilihan paling aman.
Argumen ini tampak cerdas karena menggunakan logika probabilitas, bukan metafisika klasik. Pascal tidak berkata "Tuhan pasti ada", melainkan "lebih aman jika percaya." Dengan kata lain, iman di sini bukan hasil pencerahan spiritual, melainkan kalkulasi risiko. Namun justru di situlah problem filosofisnya mulai terbuka.
Pascal menggeser agama dari wilayah kebenaran menuju wilayah utilitas. Tuhan bukan lagi sesuatu yang diyakini karena benar, melainkan karena "menguntungkan bila benar."
Ini menciptakan transformasi besar dalam makna iman. Dalam tradisi mistik maupun teologi klasik, iman biasanya dipahami sebagai relasi eksistensial, cinta, kepasrahan, atau pengalaman transenden. Tetapi dalam taruhan Pascal, iman berubah menjadi strategi keamanan metafisik.
Orang percaya bukan karena mengalami Tuhan, melainkan karena takut salah memilih. Di sini agama diam-diam bergerak mendekati logika pasar: investasi kecil, potensi profit tak terbatas, risiko minimal.
Secara psikologis, argumen Pascal bekerja terutama melalui rasa takut. Ia memobilisasi kecemasan manusia terhadap ketidakpastian kematian. Neraka menjadi instrumen spekulatif. Surga menjadi insentif kosmis. Dalam banyak hal, ini lebih dekat dengan mekanisme asuransi daripada spiritualitas.
Salah satu kelemahan paling mendasar dari Pascal adalah asumsi bahwa manusia dapat memilih kepercayaan secara voluntaristik. Padahal keyakinan tidak bekerja seperti memilih menu makanan. Seseorang tidak bisa sekadar berkata:
"Mulai hari ini gue percaya Tuhan."
Kepercayaan lahir dari pengalaman, pendidikan, budaya, afek, trauma, refleksi, atau intuisi eksistensial yang kompleks. Bahkan Pascal sendiri tampaknya sadar akan masalah ini ketika ia menyarankan agar orang mulai "berpura-pura percaya": pergi ke gereja, berdoa, melakukan ritual, hingga akhirnya iman sungguh muncul.
Namun ini justru memperlihatkan paradoks yang aneh: iman direkayasa melalui kebiasaan. Di sini muncul nuansa yang hampir behavioristik: lakukan ritusnya dulu, keyakinannya akan mengikuti. Tetapi jika iman bisa diproduksi melalui repetisi sosial, apakah ia masih autentik?
@nurmannurakhmad Manusia² busuk ini emg dmn² maux syiar agama. Maka ga heran kl ada muslim fanatik ganggu lainx polisi ga mw tegas wlp sdh ada hukumx. Krn isi d dlmx jg byk busuk. Ingat kasus napoleon bonaparte yg nyiksa muhamad kace dlm penjara. Katax kl ursn agama bagix ga bs ditawar. Taek!!!
Guys, pemerintah baru saja mengumumkan sesuatu yang dikemas sebagai kabar baik untuk rakyat kecil.
KPR 40 tahun.
Cicilan hanya Rp773.000 per bulan.
Pekerja bergaji Rp2 juta bisa punya rumah.
Kedengarannya bagus.
Kedengarannya pro rakyat. Kedengarannya seperti solusi.
Tapi gue minta lo berhenti sejenak dan pikirkian apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ini bukan solusi.
Ini adalah desain perbudakan yang dilegalkan.
KPR 40 tahun artinya lo mulai mencicil rumah
usia 25 lo baru selesai di usia 65 tahun.
Tepat saat pensiun.
Tepat saat lo tidak punya penghasilan lagi.
Seluruh masa produktif hidup lo dari muda sampai tua habis untuk membayar satu rumah.
Bukan untuk menabung.
Bukan untuk investasi.
Bukan untuk pendidikan anak.
Bukan untuk menikmati hidup.
Untuk cicilan rumah yang tidak akan lunas sampai lo pensiun.
Dan ini yang paling mengerikan dari kalkulasinya:
Gaji Rp2 juta per bulan.
Cicilan Rp773.000 per bulan.
Itu 38,6% dari seluruh penghasilan hanya untuk cicilan rumah.
Belum makan.
Belum transportasi.
Belum listrik.
Belum air.
Belum biaya anak sekolah.
Belum biaya sakit.
Sisa untuk hidup: Rp1,2 juta sebulan.
Rp40.000 per hari.
Dengan Rp40.000 per hari lo harus makan, transport, bayar semua kebutuhan hidup.
Di era rupiah Rp17.600 per dolar.
Di era harga pangan yang terus naik karena kedelai, gandum, dan minyak semuanya impor dalam dolar.
Dan ini yang tidak pernah diceritakan pemerintah:
Total yang lo bayar selama 40 tahun dengan bunga bukan hanya harga rumahnya.
Lo membayar harga rumah ditambah bunga selama 40 tahun.
Yang bisa berarti lo membayar dua sampai tiga kali lipat harga asal rumah itu.
Rumah yang secara teknis bisa lo beli Rp200 juta lo bayar Rp400-600 juta selama 40 tahun.
Selisihnya masuk ke mana?
Ke sistem keuangan. Ke bank. Ke Tapera.
Rakyat kecil yang tidak punya pilihan lain dipaksa membayar premium berlipat-lipat hanya karena mereka tidak punya uang di awal.
Dan lo tahu apa yang paling gue ingat dari ini:
John D. Rockefeller pernah bilang sesuatu yang sangat terkenal dan sangat mengerikan:
"Saya tidak menginginkan bangsa pemikir.
Saya menginginkan bangsa pekerja."
Dan cara paling efektif untuk memastikan orang tidak berpikir kritis adalah memastikan mereka terlalu sibuk memikirkan cicilan.
Orang yang gajinya Rp2 juta dan cicilannya Rp773.000 tidak punya bandwidth mental untuk memikirkan kenapa rupiah melemah.
Tidak punya waktu untuk mempertanyakan kenapa anggaran pendidikan dipotong 44%.
Tidak punya energi untuk marah tentang Nadiem yang dituntut 27 tahun atau Noel yang bilang menyesal tidak korupsi lebih banyak.
Mereka terlalu lelah.
Terlalu sibuk bertahan.
Terlalu tenggelam dalam tekanan cicilan yang tidak akan selesai sampai mereka pensiun.
Itu bukan kebijakan perumahan.
Itu adalah mekanisme kontrol sosial.
Dan ini sambungkan dengan semua yang sudah terjadi:
Gaji tidak naik signifikan.
Kelas menengah menyusut dari 57 juta ke 46 juta.
Tabungan rata-rata turun dari Rp3 juta ke Rp1,5 juta. Rupiah Rp17.600.
Harga pangan naik.
Guru honorer digaji di bawah UMP.
Tapi solusi yang ditawarkan bukan menaikkan upah.
Bukan menciptakan lapangan kerja berkualitas.
Bukan memastikan inflasi terkendali.
Solusinya:
perpanjang tenor KPR dari 30 tahun menjadi 40 tahun.
Supaya cicilan per bulannya kelihatan lebih kecil padahal total yang dibayar jauh lebih besar.
Supaya lebih banyak orang bisa masuk ke dalam sistem utang jangka panjang yang mengikat mereka seumur hidup produktif.
Ini bukan membantu rakyat memiliki rumah.
Ini membantu sistem keuangan memiliki rakyat.
Dan yang paling miris:
Pemerintah mengklaim ini sebagai kebijakan pro rakyat.
Sebagai solusi untuk krisis perumahan.
Sebagai bukti bahwa pemerintah peduli dengan masyarakat berpenghasilan rendah.
Tapi coba bayangkan satu skenario sederhana:
Lo mulai KPR di usia 25 dengan gaji Rp2 juta.
Lo cicil selama 40 tahun.
Di tahun ke-15 usia lo 40 rupiah makin melemah, harga kebutuhan pokok naik, dan lo di-PHK karena otomasi AI atau karena bisnis tempat lo kerja bangkrut karena investor asing kabur.
Cicilan tetap harus dibayar.
Rumah disita kalau tidak bayar.
Lo kehilangan segalanya setelah 15 tahun mencicil.
Itu bukan kepemilikan rumah.
Itu adalah ilusi kepemilikan yang bisa diambil kapan saja kalau lo tidak bisa membayar.
KPR 40 tahun bukan solusi krisis perumahan.
Itu adalah pengakuan resmi bahwa gaji rakyat Indonesia terlalu kecil untuk membeli rumah dengan cara yang wajar dan alih-alih menaikkan gaji atau menurunkan harga rumah, pemerintah memilih memperpanjang masa perbudakan finansialnya.
Rockefeller tidak membutuhkan rantai untuk mengikat pekerjanya.
Dia cukup memastikan mereka punya cukup utang untuk tidak berani berhenti bekerja.
KPR 40 tahun adalah versi modern dari filosofi itu. Diberikan dengan senyum.
Dikemas sebagai bantuan. D
an dirayakan sebagai terobosan kebijakan.
Sementara yang sebenarnya terjadi adalah: rakyat yang sudah kelelahan dipastikan akan terus kelelahan untuk empat puluh tahun ke depan.
@LambeSahamjja Dr dl penguasa itu playing god. Menindas rakyat lwt pajak dll lalu membagi²kan kembali k rakyat dlm btk roti dll atau skrg dlm btk BLT dll itu.
Hebatx rezim termutakhir is tryin fckin harder to play the real god
@Mundiwangi4 Sebenarx smw agama abrahamik sm sj fanatikx cm emg islam yg plg parah, saingan sm yahudi. Kl hindu di india sy pkr itu cm reaksi sj thd aksi muslim india. Bgtu jg dg budhis myanmar yg bereaksi thd rohingnya. Fanatisme emg sengaja dipupuk utk mengikat umat d stp pojok bumi