Kepada Yth, Manajemen @PSSleman
Dengan segala kerendahan hati dan cinta yang tak pernah padam, izinkan kami para pendukung setia yang tak pernah lelah mengangkat suara dari tribun, dari jalanan, dari bilik-bilik doa untuk menyampaikan sepucuk surat terbuka ini.
Hari ini, PSS Sleman terdegradasi. Bukan sekadar jatuh kasta, tapi jatuh harapan. Bukan hanya hasil di lapangan, tapi kekosongan arah di luar garis putih. Kami tahu sepak bola bukan hanya soal 90 menit, dan degradasi bukan cuma soal kegagalan.
Kami menanyakan: Di mana arah yang kalian janjikan? Di mana visi yang dulu digembar-gemborkan sebagai fondasi? Dan untuk siapa sebenarnya klub ini dijalankan?
Kami yang di tribun telah memberi segalanya: waktu, suara, tenaga, bahkan air mata. Tapi rasanya, semakin kami berteriak, semakin jauh suara kami dipedulikan. Klub ini bagi kami adalah identitas. Ia adalah rumah.
Rumah itu kini retak bukan oleh badai, tapi oleh tangan-tangan yang seharusnya menjaganya. Jika ini bukan saat untuk evaluasi total, lalu kapan lagi? Jika ini bukan saat untuk jujur, lalu berapa kali lagi kami harus terluka?
PSS tidak butuh janji manis. Ia butuh keberanian untuk mengakui salah, dan kemauan untuk berubah. Kami tidak akan berhenti mencintai. Tapi cinta yang baik juga tahu kapan harus menuntut pertanggungjawaban.
Bangkitlah, PSS. Tapi bangkitlah dengan jiwa yang baru, bukan sekadar raga yang ditambal luka lama. Dengarlah suara ini, suara yang tak pernah lelah berharap.