Awalnya gua kira nonton short video di HP itu bisa menjadi pengisi waktu luang. Tapi setelah baca jurnal ini, gua baru tau efeknya bisa berbahaya untuk otak.
Penelitian dari Tiongkok ini meneliti 48 orang, terus dilihat kebiasaan mereka nonton short video, lalu dicek fungsi atensi & kontrol diri, didukung juga dengan pemeriksaan EEG.
Hasil penelitian ini cukup bikin gue kaget antara lain:
-Semakin sering nonton short video, semakin turun kemampuan otak buat kontrol diri
-Fungsi eksekutif otak, terutama atensi, juga menurun
Short video ternyata berasosiasi dengan overstimulasi dengan karakteristik cepat, singkat, dan penuh reward instan. Lama-lama otak jadi kebiasaan butuh stimulus cepat, sehingga bikin fokus jangka panjang makin susah.
Yang menarik dari studi ini adalah:
Semakin tinggi tingkat kecanduan (adiksi) untuk menonton short video di smartphone, berasosiasi dengan semakin rendah tingkat pengendalian diri (self control)
𝗞𝗘𝗦𝗜𝗠𝗣𝗨𝗟𝗔𝗡
Kebiasaan nonton short video ternyata berkaitan dengan penurunan self-control dan turunnya fungsi eksekutif otak, terutama kemampuan atensi.
Menurut gw, having a child itu keputusan yang paling sakral dalam hidup manusia. Bahkan daripada menikah.
Karena kita menghadirkan satu jiwa baru lagi di dunia yang seperti ini. Yang one day kita akan lepasin gitu aja, sementara kita jg akan dimintai pertanggungjawaban.
Sayangnya, banyak orang mikir punya anak sekadar ngelahirin, ngasih makan, udah.
Padahal tiap manusia punya kebutuhan dasar dan banyak hak, sampai aspirasi dan cita2 yang menurutku parents musti turut bertanggungjawab.
Kalo Gojek potong 1rb per trip cukup ga?
Estimasi di Gojek ada 8juta trip/hari. Kalo motong 1rb mereka dapet 8M per hari.
Masih kurang ga 8M per hari? Kan lumayan banget tuh.
Jawabannya: masing kurang BANGET.
Berdasarkan laporan keuangan Gojek (tahun 2024), pengeluaran mereka itu 18 triliun per tahun.
Atau 51 miliar PER HARI.
Kalo lo notice, expense terbesar ada di pemasaran. Ini buat make sure customer ga lari ke aplikasi lain dan driver bisa tetep dapet orderan.
Startup kita tuh sillicon valley wannabe. Gaji gede, bean bag, unlimited snack dll. Merasa bisa sama dgn google atau Microsoft padahal belum punya hak moral buat gitu.
Sementara driver yg running bisnis inti mereka justru diperlakukan seenaknya
Keluar dari kamarmu, ambil laptop terus pindah ke cafe. Stay di hotel, traveling ke kota lain. Satu2nya obat depresi itu adalah dgn kita keluar rumah, pergi ke tempat baru, and stop looking at ur fucking phone
@lilaccountz Jujur dari dulu bukan penganut tim lebaran harus uang baru, yang penting uangnya masih layak untuk di amplopin. Dan dengan adanya bisnis kayak gini aja udah aneh🫣🫠
kalau mau bikin gojek/grab tandingan di tengah krisis ojol gini, sebelum AI, estimasinya butuh minimal 25 miliar, 9 bulan, 50 tech talent (confirmed by founder)
kan hari ini udah bisa ngoding pake AI, kira2 mengecil jadi berapa tuh? you might be surprised how much a small team or even a solo developer can do 😂
P.S: yea yea supply-demand dynamics can’t be vibe coded (re: Citrini reports) but you don’t need to win nationwide, only in cities where it matters (eg. Jabodetabek etc where sufficient marketplace liquidity and purchasing power can sustain your margin) as the network effect is hyperlocal anyway and the 3-sided marketplace of users/drivers/merchants should be easier to onboard as incumbent players are suffocating them with ever-increasing fees to save their stock price, so expect lower CAC if you can figure out hyper efficient operating costs and pass the savings to drivers/merchants to undercut incumbent pricing
Mari berbagi experience soal networking, kali ini “gimana caranya berkenalan sama stranger in real life”
- Cara memulai obrolan
- Apa aja yang bisa dibahas
- Do & don't saat baru kenalan
Thread ini berisi "sharing experience" alias bukan tips ala motivator. Save this thread.