Lagi ramai jadi perbincangan, akun TikTok/nia.hajar_s, yang berisi konten ceramah agama berhasil meraup 864 ribu pengikut dan 9,8 juta likes.
Videonya ditonton sampai jutaan kali. Sekilas sosok "Kak Hajar" ini tampak seperti ustazah asli, tapi faktanya, dia 100% hasil rekayasa AI.
Fenomena ini memicu keresahan besar di kalangan netizen dan pakar digital. Ini beberapa poin kritisnya:
1. Visualnya luar biasa realistis, membuat banyak jemaah digital terkecoh dan mengira sedang mendengarkan manusia asli.
โ2. Dakwah dinilai bukan sekadar teks yang dibaca algoritma, melainkan transfer nilai, keteladanan, dan pengalaman hidup dari ulama nyata.
โ3. Jika ada kekeliruan tafsir atau teks agama di dalam videonya, tidak ada sosok nyata yang bisa dimintai pertanggungjawaban.
Tapi gak sepenuhnya lepas juga, gua cari kok anak gua sukanya bidang apa. Cukup dibidang yg anak gua suka aja, biarin dia expert dibidang tersebut.
Gaperlu ranking 10 besar, karena itu cuma kertas.
Jadi mau cerita pengalaman gua sebagai Ayah yang beberapa kali konsul sama guru TK.
Setiap dipanggil pasti langsung akademik yang dibahas, tapi gua gak peduli.
Di akhir sesi pasti gua tanya, anak gua selama sosialisasi sama temennya gimana? Apa dia fokus saat belajar?
Pas ambil raport bocil genzi
Aq : oh nggak masuk 5 besar (kcw)
Walas : ibu, kelasnya ini emang kelas olimpiade lho bu emang berat persaingannya
Aq : (nggak peduli)
Walas : anaknya ketua osis jg loh bu
Aq : (tetap nggak peduli)
Selalu suka dengar cerita anak gua kalo bermain dari gurunya.
Akademik? Itu masih bisa dipelajarin kapan aja.
Kebukti, tiap gua jemput anak.
Itu temen sekelas dadah sambil nyebut nama anak gua.
@manggoslurpee Tatatatatatapi kakaknya yang di-quote sama kakak, klaim tau kapasitas anaknya ๐
Padahal, jangankan anak-anak, kita yang udah dewasa aja belum tau diri kita sendiri tuh kaya gimana ๐
Mikel Arteta menanggapi unggahan Instagram Rayan Cherki setelah Arsenal kalah di final Liga Champions:
๐ฃ๏ธ โDengar, saya sudah melihat unggahan yang berbunyi, โTidak ada PGMOL yang membantu mereka memenangkan Liga Champions, haha.โ
Sejujurnya, itu hanya ejekan murahan.
Ketika seseorang sedang emosional setelah sebuah final, saya mengerti orang bisa mengatakan berbagai hal.
Tapi mari bersikap serius โ ini adalah Liga Champions, bukan Premier League. Tidak ada PGMOL di sini, tidak ada alasan, tidak ada narasi semacam itu.
Kami tidak kalah karena lelucon di media sosial. Kami kalah karena pada momen-momen penting kami tidak melakukan cukup banyak untuk memenangkan pertandingan.
Orang-orang boleh mencoba mengejek kami, membawa-bawa pembahasan Premier League ke dalamnya, dan memelintir cerita sesuka mereka...
Tetapi sepak bola ditentukan di atas lapangan, bukan di kolom komentar Instagram.
Arsenal akan menerima rasa sakit ini, belajar darinya, dan kembali lebih kuat.โ