๐๐จ๐๐จ๐ก๐ ๐ฃ๐๐ก๐๐๐๐๐๐ก ๐๐จ๐๐จ๐
Tadi pagi, saya memenuhi panggilan Kejaksaan Agung untuk memberikan keterangan sebagai saksi, berkaitan dengan pengusutan korupsi dalam pengadaan minyak mentah dan BBM di Pertamina.
Sebagai warga negara yg baik, kita harus mendukung semua upaya penegakan hukum & pemberantasan korupsi.
Situasi hukum kita memang sedang tidak baik-baik saja. Tetapi kata orang bijak: โbiarpun kita tahu besok akan kiamat, bila ada kesempatan menyemai benih, tetap lakukanlahโ.
๐ ๐๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐ช๐๐๐๐ฅ๐๐ก: "๐ฃ๐ฎ๐ด๐ฎ๐ฟ ๐ ๐ฎ๐ธ๐ถ๐ป ๐๐ฎ๐ป๐ฎ๐ ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ด๐ฎ๐๐ฎ๐ธ ๐ง๐ฎ๐ป๐ฎ๐บ๐ฎ๐ป, ๐๐ถ๐๐ฎ ๐๐ถ๐ฎ๐บ ๐ฆ๐ฎ๐ท๐ฎ?"
"Demokrasi kita dirobohkan bukan oleh serangan dari luar, tapi dari dalam. Dan, pelakunya, justru adalah pihak yang diamanahi rakyat sebagai penjaganya,โ demikian salah satu simpulan utama Prof. Marcus Mietzner dalam buku terbarunya _Ruling Indonesia: Jokowiโs Presidency in an Age of Democratic Crisis and Great Power Competition_ (2026). Ibarat kata: "Pagar makan tanaman!"
Cilakanya, oleh sang penerusnya, alih-alih dibereskan, secara sadar perobohan itu malah diteruskan. Bahkan dipakai sebagai pintu masuknya berkuasa. Itu baru satu kasus saja; karena perusakan lainnya, bejibun! Ibarat kata, si pagar makin ganas menggasak tanaman. Pantaskah kita biarkan perusakan demi perusakan atau praktik-praktik yang melampaui batas kewajaran bernegara itu melenggang sedemikian bebasnya?
Menjadi manusia adalah menjaga kewajaran. Mendaku-daku cinta negeri bisa diukur dari seberapa malu dia memperkosa batas-batas kewajaran.
https://t.co/bQtinwGvoN
Demokrasi sering hanya dimaknai sebagai distribusi suara. Tapi arti yang lebih dalam dari demokratisasi adalah demokratisasi public goods dan pendidikan berkualitas adalah pilar utamanya.
Arti dari kualitas pendidikan melampaui kurikulum dan hardware apa yang harus digunakan, ini lebih bergravitasi kepada siapa yang berdiri di depan kelas.
@sudirmansaid@harkatnegeri
Konferensi Republik dibatalkan di kampus UI, beberapa jam sebelum acara.
Ini mengapa, kita tak bisa terlalu naif melihat 3 menteri dan Totpol di UGM itu beneran mau buka ruang dialog yang demokratis.
Pada bulan Bung Karno sekaligus bulan Pancasila ini, dalam sebuah muhibah singkat ke Surabaya, 7 Juni 2026, saya menziarahi tempat mula Bung Karno dan Pancasila ditempa: "Rumah Peneleh", kediaman sang "guru bangsa" HOS Tjokroaminoto.
Di rumah itu, HOS menjadi induk semang bagi indekos "inkubator kebangsaan". Betapa tidak, rumahnya menjadi titik-kumpul dan titik-gerak dari para legenda pendiri bangsa. Sukarno hanya satu anak kos. Ada pula Kartosuwiryo, Muso, Alimin, dll., bahkan Tan Malaka.
Oleh HOS, para anak kosnya dibuka kesempatan setiap kali diskusi para legenda itu berlangsung, sehingga mereka tertempa nalar kritis dan jiwa kebangsaannya. HOS mempersilakan mereka mencari jalan dan jati dirinya sendiri. Istilahnya, "Satu Guru Beda Ilmu". Cara dan ideologi boleh bhinneka, tapi arah gerak mereka tunggal ika: memuliakan kemanusiaan dan bangsanya.
https://t.co/rkNIFobeWh
Apa yang akan Anda rasakan jika atasan Anda memarahi bahkan memaki-maki Anda sambil disaksikan sekian pasang mata? Lebih-lebih, jumlah pasang matanya jadi tak terbatas karena disorot kamera dan lalu disiarkan. Untuk show-kah? Intimidasi? Kepuasan diri? Pembuktian diri? Dominasi? Gimmick? Atau apa? Kita tak tahu.
Tapi, yang kita tahu, si atasan sedang menunjukkan sikap tak terpuji. Betapa ia tidak saja mempermalukan orang lain, tapi terutama juga dirinya. Aibnya sendiri ia buka: emosional, pemarah, tak bisa kontrol diri, arogan karena aji mumpung berkuasa, memencet demotivasi, dan yang pasti: tak becus memimpin!
Cilakanya lagi, si pemarah tadi adalah pejabat tinggi negara; dan yang dipermalukan adalah aparat negara. Profil negarawan macam apa kok sampai hati mempermalukan orang lain di hadapan khalayak, apalagi itu aparat anggota timnya sendiri?
https://t.co/DJ7p49RxDh
๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฃ๐๐๐ ๐๐๐ช๐๐๐๐ฅ๐๐กโฆ
Pak Presiden, Mas Menteri Koperasi, dan semua Pengurus Negara terkait.
Mari kembali pada kepatutan dan kewajaran. Hindari kebijakan dan tindakan yang menyakiti hati rakyat. Karena kalian semua dipilih dan dibayar oleh rakyat.
Koperasi memang penting. Tapi, merobohkan sekolah untuk membangun gedung koperasi, rasanya merupakan tindakan yang melampaui batas kepatutan.
Masih banyak lahan lain, masih banyak jalan lain, masih banyak cara lain untuk membangun.
Empat kekuatan republik di luar negara, yakni solidaritas sosial, pengetahuan, ekonomi, dan moral publik, harus dipertemukan dalam formasi usaha bersama warga. #Opini#AdadiKompas
https://t.co/mUr6ZWo45J
๐ก๐ฒ๐ด๐ฎ๐ฟ๐ฎ (๐๐๐ธ๐ฎ๐ป) ๐ ๐ฒ๐๐ถ๐ป ๐๐น๐ฒ๐ธ๐๐ผ๐ฟ๐ฎ๐น
Buat apa berolah raga? Biar sehat. Buat apa makan? Agar hidup. Lalu, buat apa bernegara? Agar warganya jadi terurus, sejahtera, bermartabat.
Bangsa berisi manusia/orang. Ketika bernegara, ia disebut warga; bukan bidak, apalagi angka. Warga menunjuk warga-warga tertentu untuk duduk mengurus mereka, bukan mengerdilkannya jadi sekadar komponen untuk mesin elektoral.
Tentu saja warga tidak hanya pasrah bongkokan, tapi juga turut "nyengkuyung" negara melalui solidaritas empat warna, yakni: sosial, pengetahuan, ekonomi, dan moral publik.
Opini di Kompas, 6 Juni 2026, "Ketika Negara Menjadi Mesin Elektoral", ingin mengingatkan betapa penting menyadari kembali prinsip bernegara paling mendasar itu yang akhir-akhir ini rasanya makin bikin jantungan. Tawaran solusinya: empat solidaritas tadi harus lekas dipertemukan dalam suatu formasi "usaha-bersama warga".
Selamat membaca.
https://t.co/TXmyzjtuK4
๐๐๐ฉ๐๐ ๐ฆ๐ข๐๐๐๐ง๐ฌ ๐ฃ๐๐๐๐ฅ ๐ฅ๐๐ฃ๐จ๐๐๐๐..
Kita semua tahu Republik/Res publica bermakna urusan publik, milik rakyat. Maknanya tegas, rakyat lebih dulu ada sebelum institusi formal bernama negara; pemerintah, parlemen, mahkamah, atau partai politik. Dari rakyatlah republik lahir, bukan sebaliknya.
Tapi hari ini, kita menyaksikan negara yang seharusnya melayani rakyat, perlahan berbalik mengkanibal tuannya sendiri. Ruang sipil dipersempit. Suara-suara kritis diintimidasi. Institusi yg seharusnya independen dilemahkan satu per satu. Sumber daya republik dikuasai segelintir orang yang pandai bermain di celah antara kekuasaan dan modal. Civil society terfragmentasi, bergerak sendiri-sendiri, kelelahan tanpa arah yg menyatu.
Rakyat sebagai pemilik republik tidak boleh diam. Dan itulah mengapa Konferensi Republik lahir.
30 Mei lalu, lebih dari 130 organisasi masyarakat sipil dari seluruh Indonesia berkumpul di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tidak ada sponsor. Tidak ada yang dibayar untuk hadir. Setiap pembicara membeli tiketnya sendiri, memesan penginapannya sendiri. Masih banyak yang rela berkontribusi bukan karena perintah, bukan karena bayaran, tapi karena percaya.
Forum ditutup dengan tiga tuntutan kepada negara: kembalikan kedaulatan masyarakat sipil, bangun formasi baru republik untuk memulihkan kepercayaan publik, dan masyarakat sipil harus bersatu, karena hanya dengan itu republik bisa diselamatkan dari mereka yang sudah lebih terorganisasi dan lebih bermodal.
Terima kasih setingginya kepada 130 lebih CSO yang hadir dari seluruh Indonesia narasumber yang hadir dengan merogoh kocek sendiri & memberi warna berarti dalam tiap sesi, orang-orang muda yang mengorganisir dengan api juang yang menyala.
Apa selanjutnya? Konferensi Republik akan menjadi enabling secretariat; platform penghubung dan pemberdaya rakyat dan CSO, bukan gerakan dengan pemimpin tunggal. Kepemimpinan kolektif, dipandu nilai, bukan figur, bukan populisme. Apakah akan melembaga secara formal? Forum yang memutuskan. Yang jelas, proses ini tidak berhenti di Yogyakarta.
yang jelas semangat kita semua sama, republik ini milik kita, rakyat Indonesia. Jauh sebelum negara ada.
๐ญ๐ญ๐ด ๐ง๐ฎ๐ต๐๐ป ๐๐ฒ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ด๐ธ๐ถ๐๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ฌ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฆ๐ฒ๐ต๐ฎ๐ฟ๐๐๐ป๐๐ฎ
Doeloe, kondisi dan bekal kita sebagai bangsa serba sangat terbatas. Yang cerdas-tercerahkan hanya segelintir, 97% sisanya buta huruf. Tapi toh Indonesia bisa bangkit dan lalu merdeka berwibawa.
Kini, dengan bekal yang sudah serba tak terbatas, kaum inteligensia sudah jutaan jumlahnya, modal merdeka itu patut kita tantang: sudah bisa mewujudkan apa saja gerangan? Sudah sebangkit dan sedekat apa kita dengan mimpi kemerdekaan sesungguhnya?
118 tahun sudah Kebangkitan Nasional, seharusnya kita kini panen raya talenta-talenta. Seharusnya kita telah mengungguli negara-negara yang merdekanya belakangan, seperti Vietnam, Korea Selatan, dan Singapura.
Mari bangun. Bangkit dan bergerak.
Ayo, kerja masih belum selesai, Bung!
Sudirman Said
https://t.co/YoBpQhGlLk
๐๐ข๐๐๐๐ข๐ฅ๐๐ฆ๐ ๐๐๐ก๐ง๐๐ฆ ๐ฆ๐๐๐ง๐ข๐ฅ
Universitas Harkat Negeri, si "Small H" alias Harkat, sedang mengakselerasi kapasitas akademiknya dengan berkolaborasi bersama "Big H" alias Harvard. Institusi pendidikan baru belajar pada institusi besar, pengetahuan global berpadu dengan kearifan lokal.
Melalui, Primary Healthcare Impact Lab (PHIL), UHN & Harvard Medical School bersama CISDI dan Tamaris Hidro Group membangun hub kesehatan primer di masyarakat rural.
Inisiatif ini terasa emosional bagi saya karena menyentuh tanah kelahiran saya di Brebes dan sekitarnya yang masih berjuang secara ekonomi. Jika embrio kolaborasi ini berhasil, saya optimistis pola sinergi empat sektor ini dapat diduplikasi di sektor ekonomi, pendidikan, dan sosial lainnya demi mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kolaborasi lintas sektor: pemerintahan, badan usaha, lembaga pendidikan dan masyarakat sipil akan menjadi kunci keberhasilan gerakan ini.
https://t.co/rBjzkVk20D
๐ฃ๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐๐ฒ๐๐ฎ๐บ๐ผ๐น ๐ฑ๐ฌ๐ฌ ๐ง๐ฟ๐ถ๐น๐ถ๐๐ป
Fundamental ekonomi kita terlihat baik-baik saja. Per Triwulan-I 2026 (yoy) konon tumbuh cukup bagus: 5,61%. Angka itu, kata seorang Menko, melampaui Tiongkok, Singapura, Korea Selatan, bahkan Amerika.
Pada saat bersamaan, ternyata rupiah kita keok di hadapan hampir seluruh mata uang dan IHSG tergencet berminggu-minggu. Juga: investasi menurun, PHK meningkat, daya beli rakyat melemah.
Ada gap antara otoritas dan legitimasi. Gap itu makin melebar. Legitimasi tidak cukup bertenaga untuk menjelaskan bahwa angka 5,61% bisa dipercaya. Ada declining credibility. Di balik angka itu, gaya band aid atau parasetamol menggerojok kencang sekali. Sekadar pereda gejala, bukan penyembuh biang penyakit.
Lantas, (si)apa gerangan biangnya? Simak uraian ini sampai selesai.
https://t.co/oWuj7ppSDv
๐ฆ๐๐๐ก๐ฆ ๐ฌ๐๐ก๐ ๐๐๐ฅ๐ฃ๐๐๐๐ ๐ฃ๐๐๐ ๐๐๐ฆ๐๐๐๐ง๐๐ก ๐ฅ๐๐๐ฌ๐๐ง...
Kemarin, Kamis 7 Mei 2026, kami meluncurkan Primary Healthcare Impact Lab (PHIL); pusat riset dan inovasi layanan kesehatan primer, digagas oleh Universitas @harkatnegeri, @CISDI_ID, dan PT Tamaris Hidro, menggandeng @harvardmed .
Universitas bukan sekadar penerbit ijazah, tapi laboratorium peradaban tempat kebijakan berbasis sains dilahirkan. Melalui PHIL, UHN menjadi simpul riset layanan kesehatan primer; dari klinik, Puskesmas, Pustu, hingga Posyandu. Dimulai dari Brebes, Tegal, dan sekitar kampus kami, lalu diperluas ke berbagai wilayah.
Kami ingin riset yang dilahirkan tidak berhenti sebagai tumpukan publikasi akademis, tapi harus bisa diaplikasikan sebagai solusi nyata untuk memperkuat layanan kesehatan primer di Indonesia. PHIL dirancang bukan hanya sebagai ruang riset, tapi juga platform kebijakan dan inovasi yang menjembatani antara penyelidikan akademis dengan realitas masyarakat.
Terima kasih kepada Prof. David Golan, Dean of Harvard Medical School, yang terbang langsung dari Boston bukan formalitas, tapi sinyal memperkuat kemitraan yang telah kami rintis. Terima kasih kepada Ibu Elvieda Sariwati, Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer Kemenkes, atas kehadiran yang menegaskan ini sebagai agenda bersama.
Terima kasih kepada CISDI dan Mbak Diah Saminarsih atas pengalaman panjang di akar rumput dan perspektif kebijakan global. Terima kasih kepada PT Tamaris Hidro dan Mas Syahrial. Tamaris bekerja di wilayah jauh dari pusat kota, di mana layanan kesehatan hampir selalu jadi kebutuhan terakhir yang terpenuhi. Investasi terbaik sektor swasta bukan hanya infrastruktur fisik, tapi lebih-lebih infrastruktur manusia.
Kepada mahasiswa dan peneliti muda: setiap pertanyaan riset, setiap data dari komunitas, setiap rekomendasi yang kalian susun, adalah bata-bata yang membangun sistem kesehatan Indonesia lebih adil dan setara.
Jangan pernah meremehkan kekuatan ilmu yang berpihak pada rakyat.
๐๐๐๐ฅ๐ ๐ ๐ข๐ฅ๐๐๐๐ง๐๐ฆ ๐๐๐ฅ๐ก๐๐๐๐ฅ๐...
Apa kabar Indonesia? โWe are good, tapi sebetulnya masih bisa jauh lebih baik.โ Demikian ungkap seorang tokoh agama yang sangat dihormati di Indonesia Timur dalam suatu dialog dengan saya baru-baru ini.
Dari tata-kata yang terukur itu, frase โtapi sebetulnyaโ sepertinya menyembunyikan alarm kontingensi terkait krisis kredibilitas kepengurusan negara. Hulu isunya adalah, bahwa "Kekuasaan itu sama sekali bukan aset pribadi, tapi aset publik."
Jadi, ketika di permukaan yang tampak ialah problem-problem ekonomi (fiskal tertekan, rupiah melemah, IHSG merosot, hingga daya beli menurun), sebenarnya yang terdeklinasi di dalamnya adalah urusan etik, kelurusan sikap, integritas, kejujuran, rasa malu, kompetensi, dan yang paling mendasar: spiritualitas bernegara. Hari-hari ini, apakah semua itu menjadi barang mulia dan dimuliakan?
Selengkapnya:
https://t.co/lYlvxHlU9a