Jadi sebenarnya Extra Joss tidak sdg meminjam popularitas Agak Laen.
Yg dipinjam adalah makna yg sudah melekat pada Agak Laen.
Dalam teori branding, ini disebut cultural borrowing.
Ketika sebuah brand meminjam kredibilitas budaya untuk memperbarui cara publik melihat mereka.
Di sinilah Agak Laen jadi penting.
Mereka bukan cuma grup komedi yg sedang viral.
Mereka sudah menjadi bagian dari budaya populer yg dekat dengan keseharian masyarakat.
Mereka membawa sesuatu yang sangat berharga bagi brand: cultural relevance.
Generasi muda hari ini tdk lg melihat energi hanya sbg tenaga fisik.
Energi jg berarti kreativitas, produktivitas, dan kemampuan trs terhubung secara sosial.
Energi hadir di percakapan digital, media sosial, dan budaya populer.
Definisinya berubah seiring perubahan gaya hidup.
Extra Joss & Agak Laen itu ibarat dua dunia yg berbeda.
Yg satu brand minuman energi.
Yg satu lagi mewakili budaya pop masa kini dan komedi.
Anehnya, mereka malah kolaborasi.
Kenapa brand yg selama ini identik dengan pekerja lapangan tiba2 meminjam identitas budaya Agak Laen?
Dalam dunia branding, kondisi ini dikenal sebagai brand rejuvenation.
David Aaker bilang bahwa sebuah brand perlu memperbarui asosiasinya, without losing their main identity.
Mungkin, bukan produknya yang menua. Akan tetapi, cara konsumen memandang brand tersebut yg berubah.
Tentu jawabannya bukan karena Extra Joss butuh komedian.
Extra Joss butuh relevansi budaya yg baru.
Pada akhirnya, hampir semua brand besar menghadapi tantangan yang sama: “Bagaimana caranya tetap relevan untuk generasi berikutnya?”
Selama puluhan tahun, Extra Joss identik dengan energi fisik.
Narasinya dekat dengan pekerja lapangan, kerja keras, dan semangat pantang menyerah.
Intinya, buat Extra Joss, tenaga adalah simbol produktivitas.
Terus, kenapa sekarang justru menggandeng Agak Laen?
Karena itu, kolaborasi ini sebenarnya bukan sekadar soal iklan.
Ini adalah upaya menggeser positioning brand yg sudah sangat matang.
Dari energi otot → energi sosial.
Dari brand pekerja lapangan → brand yg ingin tetap relevan dalam budaya populer.
KDMP perlu dibantu. Tapi bantuan tak harus dgn “menyingkirkan lawan”. Negara bisa memperkuat modal, teknologi, pelatihan, dan digitalisasi.
Bisnis sehat bukan krn dilindungi, tapi kuat krn ditempa kompetisi.
3# MERUSAK EKOSISTEM
Indomaret-Alfamart bukan sekadar toko ritel, tapi bagian ekosistem ekonomi lokal UMKM, distributor, tenaga kerja, logistik, hingga pemilik ruko
Saat ditutup, efek negatifnya (efek domino) banyak pelaku ekonomi kecil yg bergantung pada rantai bisnis tersebut
SMALL IS
THE NEW BIG
Akibatnya media besar tak lagi otomatis unggul. Satu akun IG kecil dgn konten video minimalis kadang bisa mengalahkan newsroom raksasa.
Di era algoritma, yg penting bukan siapa paling besar, tapi siapa paling cocok dgn feed.
PLATFORM IS THE NEW LANDLORD
Platform membuat mainstream media kehilangan kedaulatannya. Dulu media adalah pemilik gedung, sekarang hanya penyewa di tanah milik algoritma
Sekali algoritma berubah, traffic bisa ambruk. Media masih memproduksi konten,tapi tak menguasai distribusi