A Scottish fan chanted, "Free Palestine."
"I was a nurse in Gaza. I volunteered in Gaza. I’ve seen what happens. There is a genocide. Free Palestine."
She's a hero.
Ceire Ni Ghribin, suporter Skotlandia, kelahiran Irlandia, saat ini tinggal di Uni Emirat Arab, pernah jadi relawan perawat di Gaza.
Ia meneriakkan free Palestine berkali2 sambil menggendong anaknya setelah melihat 3 pria membentangkan bendera Israel seusai pertandingan Skotlandia vs Brazil di Miami.
"Saya dulu seorang perawat di Gaza, saya menjadi relawan di Gaza, saya sudah melihat apa yang terjadi di sana. Terjadi genosida di sana."
"Free Palestine!!!!"
🚨 Jurgen Klopp: "Hi Leo, happy birthday! Thank you very much for the hug. You made me really famous. Now the whole world knows me just because you gave me a hug. Enjoy your day. Have a great one. See you at the latest for your 40th. Bye bye." ❤️🇩🇪
Messi bsk berusia 39 tahun.
Kalo ada yg bilang “dia cuma talent” kayanya kita sepakat banyak pemain berbakat bertalenta yg karirnya remuk redam sebelum 39 tahun akibat bad lifestyle
Walau messi ga pernah share dia latian apa aja, yakin, dia sbenernya pasti latian.
Gol kedua Leo Messi ini spesial. Pertama dapet ruang, geser sedikit, tendang, sayangnya diblok.
Tapi,
Leo nggak nyerah. Dia kejar lagi, paksa, ngotot, dan tendang sambil jatuh. Gol!
Tanda persistensi dan kerja keras.
Lalu mereka bilang: inilah produk sepak bola murni bakat😂
Joaquin Bruno adalah jurnalis TyC Sports yg meliput timnas Argentina.
Mungkin ini adalah salah satu momen terbaik dalam hidupnya, mungkin foto terbaik dalam hidupnya.
Lionel Messi lama sekali dicap sebagai anomali cacat dlm urusan kepemimpinan tim sepak bola.
Publik Buenos Aires dan Rosario melihatnya sebagai pria Catalan yang dingin, tertutup, canggung di hadapan media. Seorang pendiam yg sangat individualis.
Ketika Argentina kalah dalam tiga final beruntun yakni Piala Dunia 2014, Copa America 2015 dan Copa America 2016, kritik yang dialamatkan kepada Messi selalu sama.
Messi tidak memiliki karakter pemimpin. Ia terlalu rapuh untuk memikul beban mental sebuah bangsa.
Messi dituding memimpin hanya karena kakinya memiliki kejeniusan, bukan karena ia memiliki wibawa seorang jenderal yang mampu membakar semangat pasukannya.
Namun, sejak dinamika Copa America 2021, semua asumsi-asumsi kepada model kepemimpinan Messi menjadi patah.
Tulisan panjang saya tentang kombinasi gaya quiet leadership dan servant leadership dari Messi yg membantu Argentina mampu memenangkan segalanya..
https://t.co/A6sDVsrL40