-harus mengikuti series, karena 2 produk itu sangat berbeda. Series lebih mirip film yg dipanjangin. Kalo sinetron lebih mirip tayangan reguler TV aja, sama seperti variety show, talk show, sketsa komedi, atau tipe program tv lainnya. Sekian dan terima kasih๐๐๐ป
Gak sesimple ini sih.. ini dr pov yang udah kerja di bagian produksi TV selama almost 5 tahun ya (walopun bkn di station tv pembuat sinetron). Semua tayangan di TV itu bergantung sama share rating atau dari jualan/built in nya. Ada program yg bertahan karena share nya bagus-
All artis yg main sinetron mungkin banyak yg nyadar juga, kalo makin panjang episode makin gk karuan juga ceritanya ๐ tapi emg blm banyak yg berani speak up kayak amanda manopo gini. โบ
-dilakukan secara on going, yg ceritanya biasanya dibangun mengikuti share dan MBM dari episode2 yg sudah tayang. Secara produk seni dan kualitas tayangan, saya ga bilang ini baik dan ideal. Tapi memang begini kenyataannya. Sulit kalo mau nuntut sistem produksi sinetron-
Astaga, kaget banget baca paragraf terakhir. Beliau yang intelek ini tau gak sih justru fans knetz itu sering bgt problematik sampe sering bentrok sama fans intl? Lalu dia malah memvalidasi knetz yg ngatain fans indo kaya monyet?
Tp ya sering terjadi sih.. org jadi-
Yoi. Fans k-pop di Indonesia ini sering melakukan apa yg disebut dlm ekonomi digital sbg unpaid labor alias buruh gratisan.
Mereka berpromosi gratis, menerjemahkan konten, sampai2 mau2nya melakukan pembelaan masif kpd idolanya di media sosial.
Tp dr POV ekonomi industri Korea, fans k-pop Indonesia ini cuma angka2 yg bisa dieksploitasi. Mereka dipandang sbg sekelompok manusia2 yg cuma berguna dlm efisiensi biaya pemasaran.
Nah, ketika suatu massa fans K-Pop Indonesia cuma dianggap sbg angka untuk mendongkrak popularitas, industri kreatif Korea memanfaatkan hasil eksposur fans Indonesia tsb agar bisa menjual artis2nya dgn harga lebih mahal ke pasar Amerika dan Eropa.
Dlm konteks sosiologi-ekonomi, ketika seseorang memberikan tenaga secara cuma2 demi keuntungan pihak lain yang sudah kaya, posisi orang tersebut dalam hierarki ekonomi dianggap golongan yg sangat rendah, mudah dimanfaatkan, mudah diekploitasi, mudah dikibuli.
Tak heran kalau sebagian masyararat Korea dgn enteng menyebut fans k-pop Indonesia-yg sebetulnya telah berkontribusi luar biasa dlm pasar volume negaranya- nggak lebih dari monyet belaka.
Ironis.
-dan paham seberapa penting engagement di industri hiburan/digital saat ini, aku mau berusaha memahami masnya aja. Mungkin mas ini emg butuh engagement tinggi biar monetisasinya lancar jaya. Which gapapa, cari uang dr engagement gpp bgt kok asal dilakukan-