@SerieA_Lawas@malikarrahiem Pas SMP belom bisa beli yang baru, jadinya tiap abis shalat jumat singgah di loper koran bekas beli majalah bola bekas seminggu sebelumnya…nanti pas SMA mulai sisihkan uang jajan buat beli. Klo ngak salah harganya itu 3.500
🗣️ Del Piero: "Inter are still the best team today. I’ve been saying it for four years, and it’s the truth.
What a midfield, what strikers, what defense. this team is complete in every area."
GIVEAWAY ALERT
Mau makin jago berpikir strategis?
Gue punya e-book yang berisi FRAMEWORK untuk bantu lo ambil keputusan dengan lebih cerdas
Bisa lo dapetin GRATIS, dengan
✅ Follow
🔁 Retweet
💬 Reply "MAU" (kapital)
Gue bakal langsung DM e-booknya ke elo!
Diantara kemudahan-kemudahan yang kita terima saat ini, ada selalu peran kebaikan-kebaikan yang pernah kita atau orang tua kita lakukan dulu.
Percaya saja, amal baik pasti akan selalu berusaha menemukan caranya untuk membalasmu.
Menulis notula (catatan tentang gagasan² dalam suatu ceramah/diskusi) melatih kemampuan kita dalam memahami secara akurat gagasan dan alur penalaran yang disampaikan oleh seseorang.
Membiasakan menulis notula dapat meningkatkan kualitas pikiran kita dalam memproses informasi.
@MethodologistID Mulai juga mencatat Khotbah Jumat sejak awal tahun, tp belum sedetail ini. Tujuan awalnya sih untuk memaksa ngak tidur saat khutbah jumat 😁
@ChatibBasri Tulisan dan penjelasan beliau tentang ekonomi membuat saya yang bukan dengan latar belakang ekonomi mampu dengan mudah memahami tentang kondisi perekonomian yang ada di Indonesia. Semoga menjadi amal jariyah beliau di akhirat kelak dan muncul Faisal2 baru di Indonesia
Selamat jalan Bang Faisal
Faisal Basri seperti sebuah lentera bagi perubahan. Di tangannya, keberpihakan pada demokrasi menemukan suaranya, dan ketidakadilan menemukan musuhnya. Saya ingat sosok ini: kemeja biru muda, celana warna khaki, sepatu sandal, ransel di Pundak, dengan rambut, yang sedari muda, tak lagi penuh.
Akhir 1980-awal 1990 an tak banyak ekonom di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, yang membahas ekonomi politik. Mungkin hanya Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Sjahrir dan seorang ekonom muda: Faisal Basri. Saya belum lagi genap menyelesaikan skripsi saya saat itu. Dan saya punya minat besar pada ekonomi politik. Mungkin karena banyak terpengaruh Alm. Dr Sjahrir. Saat itu saya menjadi asisten Sjahrir untuk mata kuliah Perekonomian Indonesia. Sjahrir adalah ekonom, tokoh mahasiswa yang pernah ditahan dalam kasus Malari 1974. Keterlibatan saya pada gerakan mahasiswa --yang dilakukan dengan rasa takut-- membuat saya banyak berinteraksi dengan Faisal Basri. Saya ingat, bersama teman-teman di FEUI kami menyelenggarakan Seminar Nasional untuk mahasiswa. Sengaja kami mengundang ekonom seperti Sjahrir, Rizal Ramli dan Faisal Basri dsb. Saat Faisal berbicara didepan mahasiswa, hati kami --setidaknya saya-- menjadi kecut. Dengan lugas ia berbicara tentang bobroknya pemerintahan Soeharto akibat tumbuh suburnya korupsi, kroniisme dan ekonomi rente. Di masa itu, tak banyak orang berani menunding Soeharto secara langsung dalam diskusi terbuka. Faisal adalah kekecualian. Sejak itu saya menjadi akrab dengan Bang Faisal, begitu saya memanggilnya. Saya berutang intelektual padanya. Bagi saya Bang Faisal tak hanya seorang kawan, senior dan guru dalam ilmu ekonomi, tapi ia adalah teladan tentang integritas, keteguhan sikap dan keberanian. Ia tak hanya marah dan berani, tetapi Faisal adalah ekonom yang membaca data dengan baik. Pemikirannya cemerlang. Ia memahami konsep ekonomi dengan sangat baik. Pandanganya segar.
Kami cukup dekat sebagai kawan. Bulan Februari lalu, atas permintaan isterinya, Mbak Titik, saya mengirim voice note, mengingatkan Bang Faisal untuk pergi memeriksakan diri ke dokter, karena ada problem dengan matanya. Saya katakan, jika jatuh sakit, kita jadi kehilangan kesempatan untuk makan Padang. Mungkin, karena Faisal seorang ekonom, ia paham arti opportunity cost. Soal kesempatan apa yang akan hilang --bila tak sehat. Ia menjawab melalui whatsapp bahwa ia sudah periksa darah dan insha Allah akan segera check up secara menyeluruh. Di ujung pesannya ia menulis: Pingin segera menyantap nasi kapau. Tanggal 16 Agustus lalu kami bersama sama berbicara untuk menyambut 900 mahasiswa baru FEB UI. Kami berbicara mengenai issue kelas menengah. Faisal, seperti biasa, begitu lugas, begitu berapi-api dan begitu berani.
Kami memang cukup dekat sebagai kawan. Saya menghormatinya sebagai senior dan guru. Walau cukup dekat, bukan berarti mengurangi sikap kritisnya pada saya. Saat saya menjadi Menteri Keuangan atau Kepala BKPM, dengan lantang ia menyampaikan kritiknya yang pedas pada saya. Kami kadang berbeda pandangan, namun saya tahu, sikap kritisnya dibutuhkan: untuk perbaikan negeri ini. Seperti Reinold Niebhur pernah menulis: “Kapasitas manusia untuk berbuat adil, membuat demokrasi menjadi mungkin. Dan kecenderungan manusia untuk berbuat sewenang-wenang membuat demokrasi menjadi perlu” Demokrasi memang gaduh, mungkin menyebalkan. Tapi ia bisa menahan kecenderungan manusia untuk berbuat sewenang-wenang. Faisal menyuarakan pesan tua itu. Ia mengingatkan kekuasaan untuk tak sewenang-wenang. Ia seperti sebuah lentera bagi perubahan. Di tangannya, keberpihakan pada demokrasi menemukan suaranya, dan ketidakadilan menemukan musuhnya
Kematian memang mengakhiri kehidupan seorang manusia, tapi tidak ide dan pemikirannya. Selamat jalan Bang Faisal….
Beberapa foto bersama Faisal. Dari saat diskusi di majalah Tempo, saat kami masih muda, sampai pertemuan kami terakhir 16 Agustus 2024
Jasa orang tua, apalagi Ibu, enggak akan pernah bisa terbalas. Makanya, saya percaya banget sama kata-kata, “Untuk Ibu jangan pakai kalkulator.” Selama saya ada, apa-apa saya usahakan. Sekarang Ibu udah enggak ada, yang bisa saya usahakan cuma doa
If you’re interested in LEARNING all of these for FREE:
Product Management
Project Management
Business Analytics
Data visualization
Microsoft Excel
Data Analytics
Big Data
Scrum
UI/UX
Agile
SQL
You can access them here: https://t.co/PR2gPY8Qn7
RT