Salah satu prajurit TNI merampas telepon genggam wartawan Tempo dan memaksa penghapusan foto-foto personel TNI yang berjaga saat peliputan di kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, 9 Juli 2026.
BGN makin layak disebut "bancakan gizi nasional". Mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Sony Sonjaya mengungkap ada puluhan pejabat, orang-orang dekatnya, dan elite BGN yang mendapat keuntungan dari anggaran makan bergizi gratis.
Poster ini diunggah akun Instagram Gerindra Jepara di tengah musim kampanye, 3 Desember 2023 atau 72 hari sebelum Pilpres.
Orang menuduh motif pelangi di poster ini adalah usaha Prabowo-Gibran mencari dukungan politik dari kelompok pemilih tertentu.
Tim Kampanye membantah, dan menyatakan “pelangi lebih dulu (ada) dari urusan LGBT”.
Tentu kita setuju. Anak-anak juga menyanyikan lagu “Pelangi, pelangi, ciptaan Tuhan”.
Ada yang keberatan?
Kita percaya pada Tim Kampanye Pra-Gib bahwa poster ini tak punya motif politik untuk mendapatkan suara pemilih tertentu.
Jadi ketika sekarang rezim Prabowo-Gibran menyatakan LGBT ancaman bagi negara, mestinya mereka tetap santai memakai dasi atau pin bermotif pelangi.
Yang dilakukan Prabowo dengan menyatakan LGBT sebagai ancaman negara adalah stempel-stempel yang sudah dipakai banyak penguasa sepanjang sejarah. Terutama mereka yang gagal memajukan kesejahteraan rakyatnya.
Hitler memainkan kebencian terhadap Yahudi. Soekarno menstempel pengkritiknya sebagai kaum kontra-revolusi. Soeharto dengan stigma komunis. Jokowi memakai cap radikalisme dan menyingkirkan pegawai KPK dengan stempel “Taliban”.
Semua diambil dari bahan bakar yang sama: Kebencian sosial terhadap minoritas.
Saat rezimnya yang korup mulai bangkrut, Soeharto mengkambinghitamkan asing dan Tionghoa. Lalu mereka jadi sasaran amuk massa. Bukan Soeharto dan kroninya.
Resep serupa dipakai rezim militer Fiji terhadap peranakan India atau junta Myanmar terhadap etnis Rohingya.
Dan Donald Trump menjadikan imigran sebagai kambing hitam kemunduran ekonomi Amerika dan memudarnya pengaruh politik internasional mereka.
Pembantaian 253 guru ngaji dan kiyai NU pada 1998 di Jawa Timur juga diawali dengan daftar nama “Dukun Santet”. Investigasi menunjukkan, para pembunuh adalah orang-orang terlatih yang berkaitan dengan anasir militer untuk menghabisi basis pendukung Gus Dur.
Jauh sebelum Prabowo dan Trump, para raja dan kaisar yang gagal menyejahterakan rakyatnya, yang istananya dipenuhi skandal, dan rakyatnya kelaparan karena gagal panen, akan membuat daftar nama “Tukang Sihir” untuk diburu.
Dan kaum agamawan dengan suka cita menyiapkan tiang pembakarannya. ***
Inikah alasannya mengapa sjafrie sjamsoeddin tanpa malu-malu meminta tambahan anggaran kementerian pertahanan hingga ratusan triliunan? In this economy?
Fak men, this is fookin' nonsense. ���
Di malam yg sama opening Artjog riuh dg berbagai rupa keributan, di Bandung ada peristiwa artsy yg gak artsy-aetsy amat tapi dirayakan dg keos-keos woles tapi tep keos tapi seru dan gembira sambil mengibarkan bendera Palestina dan Free West Papua.
Woy, biadab @Kemdikdasmen!
Kenapa hal-hal kotor kayak gini pelaksanaannya atas perintah dinas di bawah naungan kalian?? Kalau cita-cita mencerdaskan anak bangsa gak bisa kalian wujudin at least jangan ngerusak masa kecil mereka dengan cara-cara bodoh kayak gini, bangsat!🫵🏻
Persoalan2 struktural di Jogja mulai diutarakan dg terbuka di ruang2 publik oleh…. coba oleh siapa? Ya betul: cah2 suporter.
“King” mulai muncul di tembok2 kota, dg grafiti sik kualitase sak onono lan sak kenone. Bebas seko uborampe Danais soale cah2 iki.
Horizon kuratorial menunjukkan sensitivitas yg tinggi thd krisis skala planet, generasional & masa depan, tapi kurang thd krisis yg bekerja via institusi, kebijakan, aparat, & relasi kekuasaan yg konkret HARI INI dan DI SINI.
New-post on substack:
https://t.co/Gl5PCDfgh7
Ya emang kan lagi libur juga sekolahannya. Ini wajar banget. Menurutku bahkan kalau sudah tidak libur pun fokus dulu di 3T lah (kalau nggak mau tutup semua).