On a night of stars, they were the true VIPs of the Sinigaglia.
They’ve followed Como through every division, every season, every moment and last night they were there again, witnessing a chapter once impossible to imagine.
For Como 1907, it was an honour to share it with you. This story is yours.
Kondisi takut air atau hydrophobia ini adalah gejala khas fase akhir Rabies.
Kok bisa? Begini ceritanya . . .
Virus rabies setelah masuk melalui gigitan, bergerak melalui saraf perifer menuju sistem saraf pusat, terutama menyerang batang otak (brainstem) dan hipokampus. Nah batang otak mengontrol fungsi-fungsi dasar manusia meliputi menelan dan bernapas.
Ketika virus menginfeksi neuron di batang otak, terjadi ensefalitis (peradangan otak). Area yang mengatur penelanan, khususnya nukleus ambiguus dan jalur saraf kranial IX (glossopharyngeal) dan X (vagus), akan mengalami disfungsi berat.
Akibatnya, bahkan rangsangan kecil, seperti mencoba menelan air, akan memicu spasme involunter yang kuat dan menyakitkan pada otot faring, laring, dan diafragma. Penderita bisa sampai tersedak, sesak napas, dan mengalami nyeri hebat hanya dari seteguk air.
Nah setelah beberapa kali kejadian menyakitkan tersebut, otak mengembangkan asosiasi bahwa air adalah nyeri parah. Maka bahkan suara gemericik air, melihat gelas berisi air, atau angin sepoi-poi di wajah (aerofobia) pun bisa memicu spasme refleks yang sama, sebelum air benar-benar menyentuh tenggorokan.