Mendidik anak tidak pernah bisa dilakukan secara sendiri dan terisolasi, sebab mereka tumbuh di dalam lingkungan masyarakat yang saling memengaruhi.
Kita tidak cukup hanya membekali anak sendiri untuk menjadi pribadi beradab dan berempati, tetapi juga harus peduli pada tumbuh kembang anak-anak di sekitarnya agar tercipta ruang aman dan adil bagi semua.
Karena pada akhirnya, keselamatan, kebaikan, dan masa depan anak kita sangat bergantung pada seberapa baik lingkungan dan kawan-kawan sebaya yang tumbuh bersamanya.
Hidup 2 x bukan 1 x.
Pertama menaman
Kedua memanen
Maka hati-hatilah saat menanam.
Kita ingat Tuhan saat sedang sulit saja, tapi lupannTuhan saat hidup enak.
Seperti para Pejabat dan Elit negara ini. Berlomba-lomba jadi pencuri, padahal Tuhan tak butuh uang dan kekuasaanmu!
Sebuah RENUNGAN sebelum tidur....
NITE🥱
Teman-teman yang sedang berjuang untuk hidup lebih sukses, lebih bahagia, dan lebih sejahtera, izinkan saya menitipkan sedikit pemikiran untuk kita renungkan bersama.
Nomor 1, pikiran kita sering menciptakan cerita yang terasa sangat benar.
Kita sering merasa sedang melihat kenyataan apa adanya. Padahal, di dalam kepala kita, ada narasi yang terus bekerja. Pikiran kita menafsirkan kejadian, memberi makna, lalu membentuk cerita.
Sebagian cerita itu lahir dari pengalaman lama, luka yang belum selesai, rasa takut, bias, dan emosi yang masih tertinggal di dalam diri.
Karena itu, semua yang kita pikirkan JANGAN langsung kita percaya. Sebagian perlu kita periksa ulang dengan tenang.
Nomor 2, hal yang kita hindari justru akan mengendalikan hidup kita.
Menghindar memang terasa melegakan di awal. Rasanya aman, rasanya ringan, rasanya kita sedang menyelamatkan diri.
Namun setiap kali kita lari dari rasa tidak nyaman, kita sedang memberi makan rasa takut, rasa malu, kebiasaan menunda, atau luka yang seharusnya mulai kita sembuhkan.
Nomor 3, kita dibentuk oleh apa yang terus kita ulangi.
Identitas tidak terbentuk dari harapan indah yang kita simpan di kepala. Identitas tumbuh dari kebiasaan kecil yang rutin kita lakukan.
Cara kita berpikir, cara kita merespons masalah, cara kita menjaga janji, cara kita bekerja ketika tidak ada yang melihat, semuanya perlahan membentuk diri kita.
Pada akhirnya, kita menjadi hasil dari latihan yang kita ulangi terus-menerus.
Nomor 4, emosi adalah bagian dari diri kita, tetapi hidup kita tetap perlu dipimpin oleh kesadaran.
sedih, takut, marah, kecewa, atau cemas adalah bagian dari spektrum emosi kemanusiaan.
Emosi perlu didengar, diberi nama, dan dipahami. Namun emosi juga perlu dituntun.
Kesehatan mental tumbuh ketika kita mampu mengenali apa yang sedang kita rasakan, menahannya dengan dewasa, lalu menggunakannya sebagai petunjuk, bukan membiarkannya mengambil alih seluruh keputusan.
“kita semua berjuang habis-habisan di hidup masing-masing — kadang rasanya seperti di medan perang. meski begitu, aku harap kalian ingat bahwa tak semua pertempuran harus dimenangkan — kadang bertahan hidup saja sudah [cukup].”
Hijab is your identity. Proper Islamic dress helps a woman obey Allah ﷻ without saying a word. That’s why the outward look matters: it protects you, gives you identity, and shapes your image. #hijab
Alhamdulillah, akhirnya Panduan Pendidikan Keamanan Siber yang telah kami susun bersama tim dari PUSKURJAR Kemendikdasmen, Badan Siber dan Sandi Negara, para praktisi serta perwakilan pendidik telah terbit dan dapat diunduh di https://t.co/QJroUSZrdX
Dokumen ini merupakan panduan komprehensif yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia untuk membekali institusi pendidikan, pendidik, orang tua, dan pelbagai pihak dengan strategi melindungi pelajar di ruang siber.
Kata sepuh kita mendiang Eyang Habibie, kalo sudah ketemu jodohnya, belum mapan pun ya gak jadi soal.
Seiring berjalannya waktu, kemapanan bisa dibangun. 😭😭
𝗦𝗲𝗹 𝗼𝘁𝗮𝗸 𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝘁𝗲𝗿𝗽𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿𝘂𝗵 𝗼𝗹𝗲𝗵 "𝘀𝗲𝗹𝗳-𝘁𝗮𝗹𝗸" adalah sesuatu yang ada bukti ilmiahnya
Izin gue jelaskan ya!
Secara sederahana, ini BUKAN berarti sel otak “mendengar” kata-kata seperti telinga, melainkan melalui proses neuroplastisitas, yang merupakan kemampuan otak untuk membentuk, memperkuat, atau melemahkan koneksi antar sel saraf, seiring dengan pengulangan pola pikir dan perilaku.
Setiap kali kita berbicara pada diri sendiri (misalnya “Aku bisa” atau “Aku gagal”), otak mengaktifkan jaringan saraf tertentu. Akibatnya, jalur saraf berubah, dan dapat memengaruhi emosi, motivasi, perhatian, dan performa kognitif.
Ada penelitian yang menunjukkan bahwa 𝘀𝗲𝗹𝗳-𝘁𝗮𝗹𝗸 𝗽𝗼𝘀𝗶𝘁𝗶𝗳 𝗱𝗮𝗻 𝗻𝗲𝗴𝗮𝘁𝗶𝗳, 𝘁𝗲𝗿𝗻𝘆𝗮𝘁𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝘂𝗯𝗮𝗵 𝗸𝗼𝗻𝗲𝗸𝘁𝗶𝘃𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗱𝗶 𝗼𝘁𝗮𝗸 𝘀𝗲𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮. Secara umum kira-kira kaya gini efeknya pada otak antara lain:
-𝗦𝗲𝗹𝗳-𝗰𝗿𝗶𝘁𝗶𝗰𝗶𝘀𝗺 justru meningkatkan performa kognitif, karena mengurangi rasa percaya diri berlebihan dan meningkatkan fokus serta motivasi internal
-𝗦𝗲𝗹𝗳-𝗿𝗲𝘀𝗽𝗲𝗰𝘁 dapat memperkuat fungsi eksekutif, tapi bisa menimbulkan kepercayaan diri yang berlebihan
𝗞𝗲𝘀𝗶𝗺𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻
Self-talk dapat berpengaruh pada plastisitas otak.
Melalui self-talk yang sesuai, kita dapat memengaruhi kondisi dan kemampuan otak kita.
Semoga bermanfaat!
....... حتى جروحك تدعو عندما تستسلم حقًا، وتتخلى عن شهوات الدنيا، لا تستسلم.
".....bahkan, lukamu pun ikut berdo'a, saat engkau benar-benar berserah, meluruhkan nafsu duniawi, bukan menyerah."