Pernah menari di titik nadir.
Mudah jatuh, sulit bangkit.
Hari esok hanyalah kalkulasi.
Untuk hati,
Semoga kau jadi samudera.
Semoga kau lebih luas dari jagat raya.
kebenaran dijadikan kepalsuan
keadilan hanya sebuah slogan
ibu pertiwi menangis,
rahimmu tergores luka yang dalam
nampaknya tak cukup bagimu menderita
tanah yang gemah ripah ini
dihiasi keangkuhan, keegoisan, kebiadapan
keterkaitan antara individual dengan realis tidak akan pernah samar,
kolom waktu yang tertulis jua akan memudar,
lantas mengapa manusia tak kan pernah berhenti belajar?
padahal sudah tergariskan,
sbab semua ini hanya sandiwara,
kita yg bersaksi atas letak 'keindahan' itu dimana
tak ada sumbu yg nyala jika tak dibakar,
tragedi, selaksa jiwa tlah lenyap,
dihantui fanatisme bersumbu pendek oleh korporat, aparat maupun oknum keparat yg ditunggangi,
entah emosional atau kesengajaan,
provokasi akan jadi bom waktu yg tak sadar
anti-demokrasi di negara konservatif dan anti-kritik di negara yg katanya akan jadi negara maju di 2045. apalagi mayoritas udah lebih dulu individualis. begitu syiilittt