Pukimak betul kalian ini. Berkelahi dan saling mempermalukan satu sama kalian lalu cipokan didepan kami. Besok-besok jangan lagi gunakan kalimat ‘Kita ini negara hukum’. Kalian menunjukkan ini bukan negara hukum tp ini negara milik nenek klean.
Hakim Bukan Wakil Tuhan: Membongkar Mitos di Balik Palu Kekuasaan
Oleh: Hasyim Arsal Alhabsi
“Dari dulu saya tidak pernah percaya bahwa hakim itu wakil Tuhan di dunia.”
—Andi Arief
Pernyataan ini bukan sekadar cuitan spontan. Ia adalah semacam kilatan petir di langit yang muram. Ia menusuk mitos lama yang dibangun dengan kata-kata sakral namun menyesatkan: bahwa seorang hakim adalah “wakil Tuhan di dunia.”
Sepintas tampak mulia. Namun di baliknya tersembunyi jebakan yang berbahaya: kekuasaan absolut yang menyamar sebagai suci. Inilah narasi yang harus kita bongkar—bukan untuk merendahkan lembaga peradilan, tapi untuk menyelamatkannya dari pengkultusan dan kekeliruan.
⸻
1. Ketika Palu Mengaku Firman
Sebagian orang percaya bahwa hakim mewakili Tuhan karena ia memutus perkara antara benar dan salah. Tapi masalahnya: apakah semua keputusan hakim selalu mencerminkan kebenaran?
Faktanya, dunia sudah kenyang oleh kisah-kisah kezaliman yang disahkan lewat palu sidang. Orang benar dipenjara, pencuri berseragam dilindungi, koruptor diberi diskon hukuman, sementara rakyat kecil dijatuhkan hukum maksimal hanya karena mencari makan. Maka jika hakim adalah wakil Tuhan, apakah Tuhan serela itu membiarkan keadilan dipermainkan?
⸻
2. Tuhan Tak Pernah Keliru, Tapi Hakim Bisa
Tuhan adalah sumber kebenaran mutlak. Sementara hakim adalah manusia, yang terikat pada sistem, tekanan politik, dan kesenjangan informasi. Ia bisa salah tafsir, bisa berprasangka, bisa disusupi kepentingan, bahkan bisa dijual.
Maka menyebut hakim sebagai wakil Tuhan adalah bentuk pembajakan simbol Ketuhanan untuk mengukuhkan superioritas kekuasaan. Ini bukan glorifikasi. Ini pemalsuan.
⸻
3. Mitologi Kekuasaan dalam Jubah Agama
Konsep “wakil Tuhan” sejatinya lahir dari era feodalisme dan monarki sakral, ketika raja, pemuka agama, atau pejabat tinggi mengklaim mandat ilahi untuk menjustifikasi segala tindakan mereka. Di zaman modern, mitos ini dihidupkan kembali—dalam sistem hukum yang kehilangan ruh, tapi ingin tetap tampak anggun.
Padahal hukum bukan turun dari langit dalam bentuk palu. Hukum adalah produk manusia yang mencari keadilan, dan bisa saja gagal bila tidak dijaga oleh nurani.
⸻
4. Keadilan Adalah Cahaya, Bukan Kekuatan Menekan
Dalam filsafat Islam, terutama dalam ajaran Ahlul Bait, keadilan adalah nur—cahaya yang menerangi, bukan kekuasaan yang membungkam. Hakim yang adil adalah hamba Tuhan, bukan wakil-Nya. Ia tunduk pada nurani, bukan pada keangkuhan simbolik.
Rasulullah SAW sendiri, dalam segala keagungannya, tidak pernah mengaku sebagai wakil Tuhan dalam memutus perkara. Bahkan Nabi SAW selalu berdoa agar keputusan beliau tak menzalimi siapa pun—meski beliau ma’shum dan dijaga langsung oleh Allah SWT.
⸻
5. Hukum Tak Boleh Disakralkan Tanpa Pertanggungjawaban
Kita tidak menolak kehormatan hakim sebagai penegak hukum. Tapi kita menolak pengultusan palsu. Karena di situlah lubang hitam ketidakadilan bersembunyi.
Dan ketika kita mengkritik hakim, kita bukan menghina lembaga. Kita sedang menjaga kehormatan hukum itu sendiri agar tidak dicemari oleh mitos kekuasaan. Agar hukum tetap menjadi alat pencari keadilan, bukan tameng kebal dari kritik.
⸻
Penutup: Turunkan Palu dari Takhta Tuhan
Andi Arief mungkin tidak sedang mengajar filsafat. Tapi ucapannya mencerminkan satu hal yang sangat penting: akal sehat masih bernyawa di tengah ritualisasi kekuasaan.
Hakim bukan wakil Tuhan. Ia bukan firman. Ia bukan malaikat. Ia manusia, dan karena itu harus selalu terbuka untuk diawasi, ditanya, dikritik, dan dipertanggungjawabkan.
Karena keadilan bukan tentang siapa yang memegang palu, tapi tentang siapa yang berani melawan ketimpangan.
Sekelas SAF atau Pep Guardiola dalam kepelatihannya tidak pernah melakukan eksperimen taktikal yg berlebihan apalagi menyepelekan lawan, turnamen kecil atau besar itu juga memiliki kredibilitas tersendiri karena membawa nama Negara
#styout
@jenjenjen2803 Liat di podcast Justin, STY yang merekomendasikan pemain U22 dan disepakati oleh PSSI dengan alasan untuk SEA games, tapi harus diingat STY dengan pemain itu juga menargetkan ke final
Memainkan pemain U22 salah satu cara STY mengamankan posisi dari kursi kepelatihan,
Menang dianggap jago karna memainkan timnas muda, kalah juga melakukan pembelaan dengan alasan yang serupa
#TimnasDay