dulu zaman ppds, tiap jaga malam gue selalu dapat jatah nasi kotak. pas dibuka, seringnya udah agak dingin, mungkin karena masaknya dari siang atau sore.
karena jaga malam ppds jantung kerjaannya nongki bareng malaikat izrail 😭 kadang gak sempat makan sama sekali. baru bisa dimakan besok subuh atau agak siangan setelah selesai morning report.
tapi selama itu gak pernah tuh ada keracunan massal ppds.
sekarang mbg kok bisa sampai ratusan orang dan kejadiannya berulang kali? 😭
yang masak ini memang orang yang paham cara masak dengan prosedur yang bener, atau random aja bikin sadfood sesuka udel? 🙏
Baca selengkapnya: https://t.co/j4fbiLpj2q
“Pedagang-pedagang kecil tidak terlalu dilibatkan. Barang diambil ke satu pihak, jadi seperti dimonopoli. Akibatnya, kami mendapat barang dengan harga lebih mahal dan menjualnya juga lebih sulit,” ujar Enggo, salah satu pedagang.
~RK #MBG #pedagang
@NataliusPigai2 Pak Dino sedang mengkritik inkompetensi Menlu. Terus Anda malah menjawab dengan menunjukkan betapa tidak kompeten dan layaknya seorang Menteri HAM.
Memang yang sekarang anti merit koq, bahkan menjurus anti intelegensia, lihat aja pidatonya banyak sekali yang menyindir "orang pintar", dan struktur kabinetnya pun mayoritas bukan orang layak tapi orang dekat. Masalahnya karena circle of influence nya sempit, jadi yang muncul ya koleksi manusia-manusia yang sekedar dekat, walaupun gak kompeten.
Bukti kalo Transportasi umum itu dapat membentuk demand.
Mungkin saat masih wacana dulu banyak skeptis (seperti beberapa komentar yg ramai di sosial media), tapi keberadaan layanan yang nyata itu perlahan akan mengubah pola dan cara pandang mobilitas warga.
Tinggal kita tagih komitmen Pemkot dan Pemkab Malang Raya buat menyiapkan layanan pengumpan, mengakomodasi mobilitas internal dalam kota.
Robohnya Pesantren Kami
Musibah runtuhnya Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo bukan sekadar ambruknya beton dan besi. Ini runtuhnya kelalaian yang disembunyikan di balik jargon keikhlasan. Takdir memang kuasa Tuhan, tapi kelalaian adalah pilihan manusia.
Kita sering berlindung di balik kalimat “sudah takdir”, seolah-olah Tuhan yang disalahkan atas kecerobohan kita. Padahal Allah memberi akal untuk menghitung beban, memberi aturan demi keselamatan, dan ilmu agar kita tak membangun di atas kesalahan. Bila itu diabaikan lalu kita menyebutnya “musibah”, bukankah itu bentuk kezaliman terhadap amanah-Nya?
Masalah kita juga ada pada cara berpikir: menganggap rencana bisa diganti niat baik, prosedur diganti doa, dan keselamatan digadaikan demi percepatan. Kita ingin mendirikan pesantren tapi lupa bahwa pondok bukan hanya tempat mengaji, tapi rumah bagi akal sehat. Pesantren harus menjadi tempat yang nyaman dan aman.
Di antara reruntuhan itu, ada darah yang berserak, tubuh yang remuk, air mata dan jeritan. Santri datang mencari cahaya, bukan untuk terkubur di reruntuhan pondok.
اللَّهُمَّ ارْفَعْ دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّانِ، وَاجْعَلْ دِمَاءَهُمْ شَهَادَةً عَلَى طُهْرِ نِيَّاتِهِمْ، وَعَلِّمْنَا أَنْ نَبْنِيَ بِالْعِلْمِ قَبْلَ أَنْ نَبْنِيَ بِالطُّوبِ وَالْإِسْمَانْتِ.
رَبَّنَا، لَا تَجْعَلْ غَفْلَتَنَا سَبَبًا فِي هَلَاكِ الْأَبْرَارِ، وَلَا تَكْتُبْنَا مِنَ الْمُقَصِّرِينَ الَّذِينَ يَقُولُونَ “قَدَرُ اللَّهِ” وَقُلُوبُهُمْ تَعْلَمُ أَنَّهُمْ فَرَّطُوا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ دُمُوعَ أُمَّهَاتِهِمْ مِفْتَاحًا لِرَحْمَتِكَ، وَآهَاتِ آبَائِهِمْ سُلَّمًا يَرْتَقُونَ بِهِ إِلَى جَنَّاتِ النَّعِيمِ.
“Ya Allah, angkatlah derajat para santri yang gugur di sisi-Mu, jadikan darah dan debu mereka sebagai saksi kesucian niat mereka. Ajarkan kepada kami untuk membangun dengan ilmu sebelum kami membangun dengan bata dan semen. Jangan biarkan kelalaian kami menjadi sebab hancurnya jiwa-jiwa suci. Jangan catat kami sebagai hamba yang mudah berlindung di balik kata takdir padahal kami tahu kami telah lalai. Ya Allah, jadikan air mata ibu-ibu mereka kunci rahmat-Mu, dan keluh kesah para ayah mereka tangga menuju surga-Mu yang penuh kedamaian.”
Tabik,
Nadirsyah Hosen
- Andai petinggi BPJS juga dirawat pakai BPJS, harus ke faskes pertama, dirujuk, dan antri berjam-jam, mungkin BPJS akan berbeda.
- Andai petinggi BGN, Pihak yayasan, anak atau cucunya dikasih MBG, mungkin menu MBG lebih layak dan gak akan ada kasus keracunan.
tapi kan enggak..
Pahalanya pasti juga lebih banyak daripada gaji bapack sekarang yang kerja atas nama agama. Lagipula kan katanya juga jangan terlalu ngejar duniawi. Jadi mestinya ikhlas lillahi ta'ala kalau gaji fasilitas dialihin ke guru. InsyaAllah barokah bapack.
Pack, Bapack kan Menteri Agama, gak usah digaji juga gapapa kan yah pack? Kan bekerja atas nama “agama” bisa dapet pahala ama amal jariyah aja udah cukup paaack ~