Ternyata laparnya orang-orang kaya dalam episode mbg ini, jauh lebih keras raungannya dibanding suara anak-anak yang dikatakan jadi tujuan utama. Akhirnya, kita memang patut bertanya ulang, siapa sebenarnya yang paling diuntungkan.
PLASTIK NAIK, SAYA DIAM.
DIKATAIN GAK BERMIMPI JADI KAYA RAYA,
SAYA JUGA DIAM.
DOLLAR NAIK, SAYA DIAM.
IHSG DROWNDOWN. SAYA DIAM.
TETAPI HARI INI SAYA DENGAR
HARGA MIE AYAM NAIK,
SAYA AKAN LAWANNNN!!!
Aneh ga sih?
Tujuan MBG itu untuk anak-anak sekolah.
Tapi ketika Dapur MBG dihentikan bahkan kalaupun cuma sementara, yang marah bukan anak-anak sebagai penerima Makan Bergizi Gratis.
Yang marah malah yang punya Dapur.
MBG, gagal
IKN, mangkrak
RUPIAH, melemah
BUMN, rugi terus
HUTAN, di babat atas nama masa depan
HUKUM KEADILAN, semakin ga waras
program pemerintah ga ada yang sukses kecuali NAIKIN PAJAK
Ada Menteri Ketenagakerjaan,
Ada Wamen Ketenagakerjaan,
dan hari ini,
Ada lagi Penasehat KhuSUs Presiden bidang Ketenagakerjaan yg ngakunya setingkat Menteri.
Kalau setingkat Menteri berarti mendapatkan Fasilitas Setingkan Menteri dan Wamen?
Pengawalan, ajudan, aspri, tetot-tetot dll?
Konsep Efisiensi yang ga Efisien!
Ayo kita gunakan Piala Dunia untuk jadi platform mengumandangkan Free Palestine lebih keras.
Kita gunakan untuk menunjukan betapa hipokritnya FIFA dan Hostnya.
Our president, leader of the Republic of Indonesia, watches the poor eat their meal.
He does the watching from a lavish setting, his own plate stacked with expensive food.
Poverty as an evening's entertainment.
Repost utk anak2 muda yg tanya apa maksud saya dgn "wisdom without fear". Intinya: menyuarakan kebenaran lebih nikmat dari mengejar kekuasaan. You should try it too. Boleh disebar.
Cancel culture itu memang blm bisa diterapkan di Indo ya? Politisi problematik dihina2 di sosmed, tp ketika ketemu masih dipuja2, sampai minta salaman. Benar2 seperti ga ada apa2 yang terjadi dan dia lakukan utk negara ini. 🙃
Orang-orang bukan malas baca buku. Mereka dikondisikan kehabisan energi untuk cari makan. Dikondisikan mati-matian untuk bertahan hidup doang. Mereka tidak punya waktu, tidak punya energi lagi untuk merayakan hidup, bahkan sekadar membaca buku.