Tiyo Ardianto, eks Ketua BEM UGM, dilaporkan ke Polres Tangsel + Bareskrim atas tuduhan "menghina Presiden" dan "menghasut MBG."
Pelapor, pengacara Firdaus Oiwobo, mengaku sendiri di Instagram:
"Saya ini memang tukang lapor. Alhamdulillah udah banyak yang dipenjara atas laporan saya."
Tiyo merespons:
"Momentum ini bagus bagi yang ingin mempersembahkan loyalitasnya kepada Pak Presiden."
Di demokrasi yang sehat, kritik dijawab dengan argumen
.
Di sini, kritik dijawab dengan nomor LP.
"Jangan asal beli buku Tan Malaka!
Zen RS bongkar kesalahan fatal puluhan penerbit yang merusak sejarah aslinya."
"Banyak buku Tan Malaka yang beredar ternyata cacat terjemahan? Ini alasan kenapa kamu sering pusing pas baca bukunya!"
Zen RS dalam sebuah podcast yt Asumsimenegaskan bahwa buku Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) yang ditulis oleh Tan Malaka adalah dokumen tertulis pertama dalam sejarah yang secara eksplisit menggunakan dan mencetuskan istilah "Republik Indonesia", jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Zen RS membongkar kekeliruan fatal dari belasan versi buku Naar de Republiek yang beredar di pasaran. Banyak penerbit tidak mencantumkan nama penerjemah karena mereka tidak riset dan tidak tahu bahwa buku asli tersebut aslinya ditulis oleh Tan Malaka dalam bahasa Belanda yang sangat akademis dan berlapis-lapis, bukan bahasa Indonesia.
Misreading Terhadap Buku Madilog (Bukan Sekadar Ilmu Logika)
Terjadi misreading (salah baca) massal di kalangan anak muda terhadap buku Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Banyak yang mengira Madilog hanyalah panduan agar cara berpikir menjadi rasional atau logis. Padahal bagi Tan Malaka, Madilog dibentuk sebagai senjata/perangkat berpikir revolusioner bagi kaum buruh dan murba untuk melakukan perubahan sosial dan aksi nyata.
Zen juga memberikan formula membaca semesta pemikiran Tan Malaka. Jika Madilog mengajarkan cara berpikir (fondasi) dan Masa Aksi/Gerpolek mengajarkan taktik di lapangan (praksis), maka buku Naar de Republiek adalah jembatan emas di antara keduanya. Buku ini jauh lebih ringkas, dibandingkan Madilog, dan tidak setebal buku Dari Penjara ke Penjara yang mencapai 900 halaman.
Melalui riset arsip kolonial, Zen menemukan bahwa pemerintah Hindia Belanda sangat ketakutan dengan buku ini. Kepala Reserse Hindia Belanda (A.E. van der Lely) dalam laporan intelijennya menyebut buku ini sebagai dokumen rencana pemberontakan dan rencana perang yang sangat lengkap, hingga media internasional kala itu menjulukinya sebagai "Rencana Perang Tan Malaka".
Buku Naar de Republiek memuat cetak biru (blueprint) dan program nasional yang sangat komprehensif. Bayangkan, 20 tahun sebelum proklamasi 1945 berkumandang, Tan Malaka sudah merancang secara detail bagaimana sistem militer dan kurikulum pendidikan jika Indonesia merdeka nanti. Tidak ada tokoh pergerakan lain di zamannya yang mampu berpikir sejauh itu.
Dalam podcast ini Zen juga membacakan kutipan langsung dari bagian belakang buku yang ditujukan khusus untuk kaum intelektual. Buku ini aslinya ditulis dalam bahasa Belanda karena sasarannya adalah kelas menengah ke atas yang punya banyak pengetahuan tapi minim pemahaman terhadap penderitaan massa. Tan Malaka memperingatkan kaum intelek agar tidak hanya menjadi pajangan (performative) sebelum mereka dibuang oleh kapitalisme kolonial seperti sepah tebu.
Selengkapnya baca aja deh langsung bukunya Tan Malaka - Naar De Republiek yang diberik catatan kritis oleh Zen.
Lewat di tl langsung bikin diem bentar. Merinding beneran denger doanya
“Jika bapak mengkhianati rakyat, maka saya orang pertama yang bersaksi di hadapan Allah SWT dan meminta melipat gandakan siksaan Bapak di Neraka”
UAH Kepada Prabowo.
Ngeri bgt, urusan amanah rakyat emang taruhannya langsung akhirat. Jangankan jd pemimpin, jd rakyat yg denger kalimat ini aja langsung deg-degan bgt 😭