π¬ π₯ πΈ ~filmmaker, videografi, fotografi, editor~
i am like: Story, filosofis, film, pengembangan diri, transportasi, politik, dll.
βοΈ DM for Job
@insanridho Eh di hari yang sama dengan kenaikan bbm pertamax, sejumlah transjakarta arah luar kota satelit naik harga 10.000 - 15.000. Memang bukan wewenang pusat, namun bisalah di bicarakan intesif kenaikan harga bbm dengan nego harga tarif di tekan sedikit lebih rendah.
@Ardaffaf percaya sama gw gk akan terlealisasikan sampai gw punya anak juga. minimal dalam dekade ini aja dah gk bakal tuh beres, mulai proyek aja keknya gk akan mulai 10 tahun ini. kecuali ada keajaiban sosok pemerintah peduli angkutan masal
@glrhn@geodafitart Yah namun seenggaknya aku merasakan belakangan daerahku jalannya mulai banyak proyek pembetulan, plus minus, soal mang urusan daerah wewenang membangun lebih ke tingkat kota dan kab. gubenur sebagai pengarahan dan urus aset provinsi.
Cara Bandung Mewariskan Persib
Persib resmi menjuarai liga untuk ketiga kali secara beruntun sekaligus menjadi gelar liga kelima dalam sejarah Persib. Sebuah pencapaian yang membuat Bandung kembali tenggelam dalam lautan biru.
Namun video yang saya unggah ini sebenarnya bukan hanya tentang pesta juara.
Video ini adalah tangkapan kecil tentang bagaimana, dalam satu hari, kota Bandung sedang bekerja mewariskan kebesaran Persib.
Bagi banyak kota, klub sepakbola hanyalah hiburan akhir pekan. Datang ke stadion, menonton pertandingan, lalu pulang. Namun di Bandung, Persib Bandung tidak pernah sesederhana itu. Persib hidup sebagai identitas, sebagai cerita keluarga, sebagai sesuatu yang diwariskan bahkan sebelum seorang anak benar-benar memahami apa arti sepak bola.
Dan malam ini, warisan itu kembali dirayakan.
Di setiap sudut jalan, terlihat orang tua yang membawa anak-anak mereka ikut merayakan. Ada yang digendong di pundak. Ada yang berdiri diapit ayah-ibunya di atas motor dengan jersey yang agak kebesaran. Ada yang tertidur di pelukan ibunya di tengah suara klakson, flare, petasan, kembang api, dan nyanyian bobotoh yang tidak berhenti sejak sore.
Ada juga orang tua yang sejak siang sudah mengajak anaknya nobar di pinggir jalan, di warung, di layar besar kota, atau datang langsung ke stadion. Membiarkan mereka menikmati atmosfer sejak matahari masih tepat di atas kepala hingga akhirnya tenggelam bersama pesta kemenangan Persib.
Bahkan banyak orang tua yang rela berdiri atau duduk berjam-jam di pinggir jalan bersama anak-anak mereka hanya untuk menikmati suasana. Menunggu rombongan konvoi lewat. Menikmati euforia kota. Membiarkan anak mereka melihat sendiri seperti apa rasanya Bandung ketika Persib juara.
Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar tidak masuk akal. Anak kecil berada di luar rumah hingga larut malam. Jalanan penuh asap dan keramaian. Banyak risiko. Membahayakan.
Namun bagi banyak keluarga di Bandung, ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar perayaan malam itu.
Ini tentang warisan. Tentang bagaimana kecintaan terhadap Persib tidak diajarkan lewat kata-kata, melainkan lewat pengalaman. Lewat suasana. Lewat memori.
Anak usia tiga atau empat tahun mungkin belum benar-benar mengerti apa arti juara. Mereka mungkin hanya bengong melihat lautan manusia berpakaian biru. Mereka mungkin hanya melamun saat ayah-ibunya berada dalam situasi tegang menunggu hasil akhir. Bahkan mungkin mereka tidak akan mengingat detail malam ini ketika dewasa nanti.
Namun memori tidak selalu bekerja lewat logika.
Ada hal-hal yang diam-diam tinggal di dalam diri seseorang. Bau asap flare. Suara ribuan orang bernyanyi bersama. Wajah ayahnya yang begitu bahagia di malam Persib mencetak sejarah. Jalanan Bandung yang terasa hidup sampai dini hari. Dan mungkin juga momen ketika dirinya duduk kecil di pinggir jalan bersama keluarganya, menunggu konvoi lewat selama berjam-jam.
Semua itu perlahan berubah menjadi core memory.
Dan tanpa disadari, di momen-momen seperti inilah Persib diwariskan.
Bukan lewat teori. Bukan lewat paksaan. Tapi lewat rasa memiliki yang tumbuh perlahan sejak kecil.
Lalu suatu hari nanti, anak kecil yang malam ini hanya duduk diam di atas motor saat konvoi three-peat Persib, akan tumbuh dewasa. Dan mungkin, ia akan melakukan hal yang sama kepada anaknya kelak.
Karena di Bandung, mendukung Persib bukan sekadar kebiasaan menonton sepakbola. Ia diwariskan.
Dari jalanan ke jalanan berikutnya. Dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dan pada 23 Mei 2026, sekali lagi, Persib sedang mencetak generasi-generasi baru yang akan terus mencintainya tak lekang oleh waktu.
@txttransportasi Melihat bagaimana pemerintah bermimpi selama ini. Aku pesimis dan percaya ini hanya wancana lainnya yang kosong eksekusi, alias tidak terwujud pada akhirnya juga.
@koganenohikari Warga bekasi ketawa aja deh kak. Udah nyerah sama hak kami mendapatkan transportasi umum yang layak. malah TJ yang inisiatif buat rute ke vida kami udah syukur banget gk mesti harus ke st. Bekasi lagi tiap mau ke Jakarta. BaruΒ² aja ini bus patriot mulai berbenah dan nambah rute.
@txtdrbekasi Jakarta penuh karena orang harus bolak balik dari kota satelit. Jakarta tuh krisis perumahan susun yang sudah seharusnya jadi prioritas pembenahan tata kota. Tapi pemerintah kurang political will soal itu. Dan di perparah kota satelit transum lokalnya mengenaskan.