@Vivhins Yg melakukan pemukulan yg pakai topi sdh masuk ranah Pidana krn dia tdk ada hubungannya dgn case ini, terlihat jg bw clurit ini harus ditindak krn eigenrichting tdk dibenarkan @DivHumas_Polri@Polda_Jabar kami tunggu tindaklanjutnya PRESISI
Aneh, tapi nyata. Korban jiwa sudah jatuh, flora-fauna musnah, kerugian negara sudah tembus TRILIUNAN. Tapi penanganannya? Lambat, gagap, dan tidak tepat sasaran.
Untuk membeli beberapa pesawat water-bomber saja negara sebesar ini pura-pura tidak mampu.
Bukan tidak mampu, tapi tidak mau. Karena anggarannya lebih seksi kalau dikorupsi daripada dipakai untuk menyelamatkan nyawa dan hutan. Kepentingan dan keserakahan sudah mengalahkan akal sehat.
BAJINGANNNNNNNNNNNN
BEDEBAH KO SEMUA
BBM LANGKA > SEKOLAH DILIBURKAN > MBG HARUS TETAP DIKOORDINASIKAN UNTUK PENGANTARAN???
RUSAK SEMUA POLA PIKIRMU KRN MBG SETAN!! ADA DAPUR MU TOH SIALAN JD KAU AGUNG2KAN INI MBG BAJINGAN KALIAN SEMUA
FUCK GOVERNMENT
Beredar draf surat perjanjian (MoU) kontroversial yang meminta pihak sekolah untuk merahasiakan Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Isu ini menjadi sorotan publik setelah draf dokumen tersebut bocor dan beredar di beberapa wilayah seperti Bintan, Blora, Sleman, hingga Brebes.
Beneran kah gais? kalau bener sih parah banget yak.
Dari seabrek pemikir negeri ini mesti diakui dialah salah satu yang terbaik: Media Askar Wahyudi.
Dia layak disebut sebagai role model paling tepat untuk saat ini dalam cara berpikir dan berbuat.
Saat bicara, ia selalu memegang data. Saat beropini, ia menumpahkan pikiran yang mampu membuka mata. Saat bekerja, dia pun mau berkeringat.
Ia doktor yang jadi dosen tak hanya mendidik mahasiswa di kampusnya. Ia mendidik bangsanya.
Sejak kematian Munir, keberanian dan kepedulian itu hidup dalam dirinya.
Sudah picek matanya ketika liat yg begini dibilang sakit perut, dianggap karna tidak biasa makan yg bagus dan sebagainya..
Jangan sampai menimpa anak-anak kita
Betapa dermawannya pemerintah pusat kita! Menyedot 82% fiskal nasional dan memangkas ratusan triliun hak daerah, lalu bertingkah bak pahlawan dengan memberi "bantuan" 20 triliun. Ibarat merampok seisi rumah, lalu pamer kebaikan bersedekah sepotong roti sisa ke korbannya.
Prestasinya pun tak kalah epik. Elite Jakarta yang rajin korupsi kelas kakap (Bansos, BLBI) dan hobi mewariskan utang proyek ambisius seperti Whoosh, tapi masyarakat di Maluku hingga Papua yang disuruh ikut menanggung dosanya. Giliran daerah setor ratusan triliun dari kekayaan alamnya, mereka cuma dikasih kembalian receh bernama Dana Bagi Hasil.
Hebatnya lagi, para kepala daerah kita sangat "pemberani". Saat anggarannya disunat habis-habisan, mereka serentak bungkam. Entah karena takut dosa masa lalunya dibongkar pusat, sibuk sungkem ke pimpinan partai, atau sekadar jadi pengecut asalkan kursi jabatannya aman. Mengapa harus repot membela konstituen di daerah kalau tunduk pada Istana lebih menjamin karier?
Selamat datang di era Kolonialisme Rasa Baru (Colonial Developmentalism). Otonomi daerah dan Reformasi 1998 kini tinggal dongeng pengantar tidur. Semua nasib dan pembangunan didikte langsung dari Jakarta, karena tampaknya daerah memang hanya ditakdirkan sebagai sapi perah penurut.🤧
Karhutlah sudah
Gempa sudah
Banjir bandang sudah
Keracunan sudah
Sekarang....
Ngantri BBM
🧑 : "Salah apa rakyat ke pemerintah ?"
🧒 ; "Salah memilih pemimpin".