Le fait qu’on soit convaincu à chaque étape de ne pas tomber dans le panneau et qu’on y tombe systématiquement quand même… désolée mais elle est trop forte
Peer group waras dan sehat: kebingungan dinyatakan, pertanyaan dijawab, setelah dijelasin pun mau menerima👍🏻👍🏻👍🏻
(kenapa dulu kita bisa kerja sama antitesisnya orang waras pun masih menjadi misteri)
Maunya anak nganalisis blabliblu tapi taksonomi bloom level paling dasar aja masih bletat bletot.
Sementara kemampuan menganalisis dan aplikasi problem solving ke konteks yg lebih luas itu udah di level kognitif yang di atas2nya.
Ya keblinger lah semua. Gak make sense sama sekali.
Melihat ucapan-ucapan belasungkawa atas kepergian Vidi Aldiano, I think we can tell that he was loved because he was present for them. Dulu ada yang sampai becanda, "Kita semua tuh temennya temen Vidi Aldiano," saking dia ada dimana-mana. Hadir itu butuh waktu dan energi, dan nggak semua mampu mengusahakannya. Apalagi di zaman sekarang yang serba online dan buru-buru, kehadiran jadi jauh lebih istimewa 🤍
A personal reminder for myself.
Kita menangisi Vidi yang meninggalkan.
Kita juga menangisi Dara yang ditinggalkan.
Padahal, di saat yang sama, keduanya sedang mengajarkan kita satu hal yang sering kali luput kita pahami, tentang cara yang benar dalam mencintai.
Kalau menelusuri laman sosial media Dara, sosok Vidi mungkin tampak jarang hadir di sana. Bahkan sempat membuat banyak orang meragukan cintanya dan mempertanyakan kesetiaannya.
Padahal sejak awal, Dara sudah menunjukkan cinta yang begitu besar untuk Vidi.
Ia tetap memilih berjalan bersama Vidi, bahkan ketika ia tahu durasi bahagia mereka mungkin sebentar.
Dara memilih bertahan di sisinya, di saat ia menyadari betul tak akan pernah ada kata 'menua bersama' dalam romansa mereka.
Dan barangkali di situlah letak cinta paling tinggi yang mampu Dara berikan. Ia memilih tetap hidup bersama seseorang yang ia tahu suatu hari nanti akan mengucap kata pamit duluan.
Sementara Vidi pun mencintai Dara dengan cinta yang sama besarnya.
Vidi tahu hidupnya mungkin tidak sepanjang yang diharapkan.
Ia tahu suatu hari namanya hanya akan tinggal sebagai kenangan.
Ia tahu cepat atau lambat, dirinya akan menjelma menjadi kehilangan dalam hidup perempuan yang ia cintai.
Dan karena ia tahu durasi hidupnya begitu sebentar, ia berikan seluruh cintanya kepada Dara dengan porsi yang tak akan pernah bisa ditakar.
7 Maret 2026, bukan hanya keluarganya yang memeluk kehilangan. Bukan hanya hidup Dara yang tak lagi terasa utuh. Tetapi kita juga turut merasa runtuh.
Hari ini kita kembali menyaksikan romansa dua manusia yang akhirnya dikalahkan oleh waktu, di saat cinta masih menyala di hati mereka.
Di saat mereka masih ingin terus berbagi mesra.
Dan mungkin, inilah pelajaran paling berharga yang bisa kita petik dari kepergian Vidi. Tentang mencintai pasangan dengan seluruh cara terbaik yang kita punya, dan menghabiskan sisa waktu di dunia dengan menjadi sebaik-baiknya manusia.
Semoga Allah merahmati perjalanan pulangmu. Semoga dilapangkan kuburmu. Semoga selalu terang rumah barumu nanti, seperti halnya kamu yang selalu menjelma terang di banyak hati.
Oxavia Aldiano, Kamu orang baik.
Kamu suami Sheila Dara selamanya.
Kamu hidup di hati kami selamanya.
Dari awal banget gw mencak-mencak pas ada ide sekolah rakyat dan sekolah garuda. Karena apa? Keliatan sebenernya negara punya duit. Buat makan duitnya ada, buat bikin sekolah berasrama duitnya ada, buat bikin fasilitas mewah sekolah garuda duitnya ada banget. Tapi buat sekolah negeri, duitnya gak ada!
Saya setuju banget kok kalau murid dengan kemampuan kognitif tinggi itu mending dikumpulkan di lingkungan yg sama dibanding harus slow down ngikutin teman sekelasnya di sekolah reguler, kan itu ide utamanya sekolah garuda kan. Oke lah kalau mereka mendapatkan akses belajar yg bagus. TAPI BUKAN BERARTI ANAK SEKOLAH NEGERI REGULER GAK LAYAK MENDAPATKAN FASILITAS YG SAMA. Eh itu sekolah negeri banyak yg gak punya lab, perpus, bangunan jelek, bahkan sekolah berdiri seadanya. Sarana prasarana gak lengkap. Bantuan ada, tapi gak merata. Bantuan tuh ada, tapi dikit. Padahal ternyata duit negara tuh banyak.
Ini sekolah kagak punya lab komputer, kagak punya perpus, bola basket bola voli pun udah sobek, dana BOSP diprioritaskan untuk keperluan lain, kagak punya lab sains sampe gw harus puter otak pake alat bahan seadanya supaya murid gw di lereng gunung belajar sains dg proper. Ya sebenernya gw bisa aja kok ngajar seadanya sbg bentuk protes karena sarana prasana sekolah gak lengkap. Tapi gw gak tega ngelihat anak lereng gunung ini gak mendapatkan pendidikan yg layak. Mereka berangkat sekolah dg keadaan yg berat. Kondisi ekonomi keluarga yg struggling, ortu cerai, ortu tunggal. Ya masa ke sekolah cuma disuruh ngerjakan soal tanpa membangun skill yg dibutuhkan untuk survive di masa depan? At least mereka harus dapet pola pikir yg proper, dan satu-satunya cara adalah dari pendidikan. Tolong sediakan sarana prasarana yg lengkap untuk sekolah negeri!!!!! Mereka layak mendapatkan pendidikan yg sama berkualitasnya dengan murid sekolah garuda.
Penjelasan Ferry Irwandi tentang masalah gaji guru honorer telah digunakan oleh banyak pihak untuk menormalisasi nasib guru honorer agar mereka menyalahkan dirinya sendiri, yayasan, dan pemerintah daerah. Padahal, masalah guru adalah masalah kepemimpinan nasional.
-Thread-
Beberapa tahun ke belakang ini rasanya memang berat tapi tahun ini kayaknya yg amat terasa sangat berat. Seperti diserang diuji segala lini. Gak satu dua kali rasanya pengen nyerah. Tapi masih takut dosa, masih sadar bukan kapasitasnya manusia buat nentuin kapan harus nyerah.
Pas lihat cerita orang-orang dll jadi sadar jg, ternyata banyak orang yg ngalaminnya tahun ini.
Sebagai manusia memang kita tugasnya usaha, doa, tawakal.
Semoga tahun depan akan ada pelangi pelangi indah, buah hasil kesabaran dan usaha tahun ini utk semua orang 🤗