Malam ini. Nyala lilin itu, menuntunku di antara kabut-kabut. Dan Mata. Habis tikungan, maut menyambut, tak terhitung tikungannya itu. Di jalan yang agak lurus Aku menghela nafas. Apakah malam ini kan berakhir?
Asap mengepul pada gubuk dan dinding-dinding. Juga di hati yang dingin. Asap hingga ke langit, dan membaca tanah. Pada titik tanah, darah terkubur menjadi akhir cerita.
Angin, sora haréwos.
Nyaliara beurang peuting,
ti simpé gunung nepi ka
gumuruhna pikiran.
Angin kuring, angin anjeun
Angin-anginan.
Di lebah rungkun
Aya haréwos,
Nu kiwari kaanginkeun.
Apa yang Aku lakukan kadang itu bukan Aku. Kadang ada di mereka. Mungkin saja mereka berpikiran sama tentang Aku. Aku hanya pengakuan. Saat lelap baru kita sama. Kadang lupa untuk bangun. Terlalu enak untuk lelap sejenak.
Sayup-sayup suara itu bergemuruh. Di luar pagar yang sombong, api kian membara. Dari aku, kamu menjadi kami. Dipegangnya kertas lusuh. Dan tulisan-tulisan ejekan bergumul menjadi kebencian. Lapat-lapat dari jauh; "Bakar! Bakar! Bakar!"
Seorang ibu menangis dan terdiam.
Sebatang rokok menancap di tangannya. Kréték pula. Pada hisapan terakhir, seperti usianya. Cangkir yang kosong adalah pikirannya. Api, mungkin hidupnya. Dengan tawa ia terbahak;”Sambutlah si rambut putih!”.