Anak kos di sebelah kamarku demam tinggi jam satu pagi, sendirian, orang tuanya di kampung nggak bisa langsung dateng. Aku denger dia batuk-batuk sama ngerintih pelan lewat dinding tipis kosan.
Aku ketuk pintu, dia buka sambil megangin kepala, mukanya pucat, keringetan dingin, tangannya panas pas aku pegang.
Aku tanya ada obat apa nggak di kamarnya. Dia geleng, bilang baru gajian minggu depan, belum sempet beli apa-apa buat jaga-jaga.
Aku langsung ke minimarket dua puluh empat jam deket kos, beli obat penurun panas sama termometer, nggak nunggu dia ganti.
Malam itu aku bolak-balik ngecek suhunya tiap sejam, kompres tiap kali naik lagi. Jam tiga pagi suhunya masih tinggi, aku sempet mau bawa ke IGD tapi dia nolak, takut biayanya.
Aku tetep temenin sampe subuh, nggak tidur, sampe demamnya mulai turun pas azan subuh kedengeran.
Paginya dia minta maaf udah ngerepotin, aku bilang gapapa, cuma nitip kalo lain kali jangan nahan sakit sendirian, kosan sebelah selalu bisa diketuk.
Sekarang dia yang sering nawarin duluan kalo aku keliatan capek pulang kerja malam, gantian jagain kayak dulu aku jagain dia.
Retno, Kudus
cc : wnmei_at
Ketimpangan hukum di negeri ini melukiskan duka yang teramat perih bagi rakyat kecil, menegaskan betapa tajamnya ketidakadilan menghujam mereka yang tak berdaya. Di saat publik menyaksikan keistimewaan yang menggores rasa keadilan ketika seorang pejabat tinggi seperti mantan Jampidsus Febrie Adriansyah melenggang tanpa rompi tahanan maupun borgol meski terjerat kasus dugaan korupsi dan TPPU bernilai fantastis. Hukum seolah tampil penuh kesantunan dan kelembutan.
The child, Mahmoud Faiq Al-Yazji, urgently needs to travel abroad for medical treatment to save his life. His health has severely deteriorated due to complications from malnutrition and muscle weakness, leaving him unable to eat normally. Although he has an approved medical referral for travel, delays in the necessary procedures continue to prevent him from receiving the treatment he urgently needs outside the Gaza Strip.