Anyway, dari pada debat mending kita belajar.
Karena weekend, saya mau kenalin sesuatu yang sy pakai kalau lagi Long/Short di Index (US30, NI225) namanya Tom DeMark Sequential. TDS/TDM/TD.
Secara Simpel :
TD Sequential adalah sebuah sistem hitungan yang melacak titik persis di mana momentum kehabisan tenaga, sebelum harga berbalik, ada dua fase. Setup, lalu Countdown. Urutan ini g bisa dibalik. Countdown g ada sampai Setup selesai.
Setup dimulai dari sesuatu yang disebut Price Flip.
Untuk Buy Setup, skenario di mana kita mencari potensi bottom, kita butuh Bearish Price Flip. Satu bar yang closenya lebih tinggi dari close 4 bar sebelumnya. Lalu diikuti bar berikutnya yang closenya lebih rendah dari close 4 bar sebelumnya.
Bar flip tsb sudah jadi bar 1 / count 1.
Dari situ, hitung 9 bar berturut-turut yang masing-masing close-nya lebih rendah dari 4 bar sebelumnya. Tidak boleh putus. Satu bar gagal, batal Mulai dari nol lagi.
Bar 9 selesai, Setup complete. Baru Countdown bisa jalan.
Balik ke 6 monthly red candle yang dijelaskan si bro. Belum ada Price Flip yang keluar artinya strukturnya masih belum berubah.
dari zaman pemilu debatin org² yg pro kebijakan kek gini tanpa kritis terlebih dahulu rasanya kek 💩 yang masih bela pemerintah saat ini klo lo gak punya dapur SPPG fix cuma org tolol
waduh twit lama muncul.
sebenernya agak males nyeritain “from zero to hero”
karena aku paham ini “survival bias”.
Tapi saya setuju dgn mas al.
“There is a price to pay”.
Kita ngk bisa ngarepin sesuatu semuanya kejadian. Selalu ada pengorbanan di setiap hal yg kita pilih. Tidak ada yang salah dalam suatu pilihan, yg salah adalah kita memutuskan memilih lalu menyesal dgn pilihan kita.
Pak Anies skrg sibuk bantu kota Riyadh, punya gerakan AksiBersama, bantu GerakanRakyat, ngisi kuliah tamu dimana2, dsb.
Pak Ganjar skrg sibuk bikin yayasan mental health Teman Bersama, jogging rutin sama anak2 Jogja, bantu UMKM paks LapakGanjar, dsb.
Kebayang kan aktivitas gerakan dan kegelisahan mereka masih tetap konsisten, saat pilpres dan setelahnya?
Artinya apa? Ya gak gimmick. Emang begitu orangnya.
You may choose to be bullish. I may choose to be bearish.
That’s what makes a market.
But if your conviction only works when nobody challenges it, that’s not conviction. That’s comfort.
Being bearish on Indonesia today doesn’t mean I hate the market.
And it certainly doesn’t mean I’m sitting on full cash with no positions.
Being bearish simply means I’m more selective.
More patient.
Smaller sizing.
Lower risk appetite.
Waiting for asymmetry instead of forcing exposure.
Because right now, the market isn’t just fighting narratives. It’s fighting liquidity.
A rupiah under pressure. Foreign flows turning selective. Fiscal questions still hanging in the air. Index names asking for premium multiples while participation keeps thinning.
And perhaps the loudest signal of all:
Even earnings are struggling to get appreciated.
Companies deliver decent numbers. Some even beat expectations.
Yet price reactions are muted… or worse, sold into strength.
That doesn’t always mean the business is broken.
Sometimes it simply means the market isn’t willing to pay up.
You can scream “bull market” all day.
But liquidity doesn’t respond to optimism.
The market is not a support group.
It’s an auction.
And auctions need real bids, real participation, real risk appetite.
So yes—respect the bulls. I do.
But don’t ridicule the bears.
Because being bearish doesn’t always mean hiding.
Sometimes it just means surviving long enough for better odds.
And in this market, survival is a position too.
prabowo nih ditanyain soal IHSG anjlok bilangnya "rakyat desa ga main saham", sekarang pas rupiah lagi lemah ngomongnya "rakyat desa nggak pakai dollar".
rakyat desa rakyat desa mulu ajg, lu itu presiden bgst, bukan lurah.
Sadar gak,
Sebenernya, biaya hidup di tempat yang dikelola dgn buruk tuh justru makin mahal.
- trotoarnya jelek, jadi mau jalan 1-2km aja males, harus naik kendaraan.
- transportasi publiknya gajelas, jadi harus beli kendaraan pribadi / transportasi online.
- airnya gak drinkable, jadi harus beli atau masak untuk sekadar minum segelas air putih.
- udaranya berpolusi, jadi kemana2 harus beli masker dan rawan sakit.
- sistem pendidikannya tanda tanya, jadi udah bayar mahal dan nunggu lama sampai lulus, jadinya ga jelas outputnya.
- iklim kerjanya gak kondusif, jadi banyak orang susah dpt kerjaan yang layak.
- mau mulai bisnis dipalak dan pajak sana sini, jadi banyak orang makin males buat bisnis.
- dst dll dsb dkk.
Kamu punya plan,
Kamu punya thesis,
Pola chart sebagus apapun rontok juga kalau pemerintah begini..
Ini alasan bursa kita stuck dikala yg lain sudah menghijau bahkan ATH ATH
1 kata untuk gambarkan situasi begini?