Bukan soal berapa banyak yang tersisa, tapi tentang siapa yang tetap memilih bertahan. Terima kasih untuk mereka yang masih berjalan bersama, bukan hanya saat keadaan mudah, tapi juga ketika semuanya sedang tidak baik-baik saja.
Ternyata selama ini kita terlalu mikirin perasaan orang lain ketimbang perasaan kita sendiri, merasa gk enakan kalau gk bantu, mulai sekarang ayo menjadi manusia yang berani nolak berani untuk enggak mikirin perasaan orang, karena selama ini orang-orang pada kurang ajar.
Semakin dewasa, semakin paham dengan ungkapan "everything happen for a reason" jadi terima saja apa yg sudah terjadi, ambil pelajarannya, tanpa perlu berharap bisa mengulang waktu atau kenangan agar hasil akhirnya berbeda. Itulah realita dewasa, dituntut mengerti setiap keadaan
belajar menerima kalau ga semua hal harus punya closure. ada yang memang selesai tanpa penjelasan, ada yang harus direlakan tanpa jawaban. yang penting, jangan sampai kehilangan diri sendiri cuma karena sibuk memahami hidup
todayโs reminder:
kita harus selalu sadar, betapa ga pentingnya kita di kehidupan siapapun. bahkan dengan orang yang dianggap penting sekalipun kita hanya bagian kecil dari mereka yang jika hilang mereka akan baik-baik saja.
kita usahakan punya pasangan yang mau belajar dan tumbuh bersama itu.
bukan yang; "aku emang begini orangnya".
kita usahakan juga bangun hubungan yang setara itu.
bukan hanya mengikuti kemauan masing-masing.
โKita harus baik ke semua orang.โ
โNggak. Kita harus baik pada mereka yang layak mendapatkan kebaikan. Di waktu dan tempat kebaikan itu layak diberikan.โ
Menurutku, usia 20 ke 30 adalah usia paling genting bagi manusia. Apalagi yang berada dalam keluarga yang memiliki banyak keterbatasan. Kalau salah pergaulan, salah lingkungan, bisa-bisa potensi dan kesempatan untuk memperbaiki hidup, merakit impian, hilang begitu saja.