@sincosqistan@ThaiFootballs Ya gapapa bang bebas aja, setiap orang punya opini masing2. Boaz 2 kali patah kaki, tapi masih bisa jadi top skor di liga indo 3x sih keren ye ngalahin pemain asing.
Apalagi Indo infrastruktur dan pembinaannya kalah telak dari Thai.
@erseee_@persib sami a, dahar oge te puguh rasa. Komo ngadenger narasi manehna, Persib te wani maen di Jakarta beki we rudet wkwkw.
Te bisa menang 3 taun teh, meni dibucatken pisan ku manehna🤣
Kalau PSSI pertahanin STY peluang Indonesia debut di Piala Dunia 2026 itu besar banget karena dia udah pengalaman dengan gaya main tim-tim Asia. Tapi kejadian inilah yang akhirnya menjadi awal kehancuran Timnas Indonesia 🤣
Setuju sama kuch Ardy, ada beberapa sektor yang harusnya wajib dibenahin malah engga.
Secara harga juga ga bisa boong Pemain Persija bagus-bagus. Persija juga keliatan di tahun ini punya modal gede banget di banding Persib. Ya walaupun kita ga tau keuangan Persib gimana😅
Persija Lebih Punya Ambisi Juara
Persija sukses mengalahkan Persib. Skor yang nyaris berakhir imbang, berubah oleh gol Ivan Mamut di pengujung laga.
Di tulisan ini saya tidak akan membahas taktikal kedua tim. Saya ingin membahas perbedaan kedua tim dalam membangun skuad musim ini.
Pertarungan antara Persija dan Persib musim ini sebenarnya sudah dimulai sejak perebutan Mariano Peralta. Tapi keberhasilan Persib ‘membajak’ Peralta membuat banyak pihak menilai bahwa Persib sangat bernafsu meningkatkan kualitas tim dan berani bergerak untuk mendapatkan pemain incarannya.
Setelah pemain baru lain datang, saya juga sempat merasa Persib sangat bernafsu untuk kembali juara. Tapi setelah melihat apa yang dilakukan Persija begitu saga transfer Peralta berakhir hingga tulisan ini dibuat, POV saya agak berubah; Persija-lah yang lebih berambisi juara.
Menurut Transfermarkt, Persija membayar hampir 9 miliar untuk Ivan Mamut dari NK Varazdin dan nyaris 5,5 miliar untuk Stjepan Loncar dari NK Istra. Dua pemain saja sudah membuat Persija mengeluarkan hampir 15 miliar dalam transfer fee.
Transfer fee ini harus dibedakan dengan market value, yang selalu melekat dengan “Persib punya skuad mewah”.
Market value pada dasarnya hanya estimasi valuasi seorang pemain. Angka itu bukan uang yang benar-benar dikeluarkan klub. Tidak ada pula formula pasti yang membuat kita bisa mengatakan sebuah klub kaya hanya karena memiliki skuad dengan market value tinggi.
Transfer fee berbeda. Ini adalah nilai yang dikeluarkan untuk mendapatkan pemain yang masih terikat kontrak dengan klub lain. Tentu data Transfermarkt bukan berarti laporan keuangan resmi klub. Tapi menurut saya informasi transfer fee di sana cukup layak dijadikan referensi. Buktinya, ketika nominal sebuah transaksi tidak diketahui, Transfermarkt tidak asal memasukkan angka, tetapi mencantumkan tanda ‘?’ atau undisclosed fee.
Dan justru di sinilah aktivitas belanja Persija menarik perhatian saya.
Selain Mamut dan Loncar, ada empat pemain lain yang pada Transfermarkt masih ‘tanda tanya’; Kerim Memija, Kyohei Yoshino, Kwon Chang-hoon, dan Nadeo Argawinata.
Setelah dicek ke laman resmi Persija, setidaknya dua di antaranya memang melibatkan transaksi antar klub.
Persija mengatakan Kyohei Yoshino didatangkan melalui skema transfer dari Cerezo Osaka. Nadeo juga didatangkan melalui kesepakatan transfer dengan Borneo FC, bahkan Aditya Warman dan Ibrah Ohorella ikut pindah ke Borneo sebagai bagian dari kesepakatan tersebut.
Untuk Kerim Memija, Persija memang tidak mengungkapkan skemanya dalam pengumuman resmi, tetapi ada laporan jurnalis yang menyebut Persija mengeluarkan transfer fee.
Sementara Kwon Chang-hoon kemungkinan berbeda. Dari beberapa sumber yang saya cek, pemain Korea Selatan tersebut kemungkinan datang secara gratis setelah mengakhiri kontraknya dengan Jeju.
Artinya, tanpa memasukkan Kwon sekalipun, Persija kemungkinan mengeluarkan uang transfer untuk lima pemain. Bahkan bisa lebih jika kemudian ternyata ada transaksi lain yang belum diketahui publik.
Kita memang tidak tahu total sebenarnya. Jadi saya juga tidak mau asal menyebut Persija mengeluarkan 20 atau 30 miliar. Tapi kita ambil nilai transfer Ivan Mamut, sang pencetak gol kemenangan vs Persib, sebagai contoh. Persija mengeluarkan sekitar 8,69 miliar untuk mendapatkan hak transfernya. Itu belum termasuk gaji, bonus, agent fee, dan komponen lainnya.
Sependek yang saya tahu, angka 8 miliar bahkan sudah bisa berada di wilayah nilai kontrak satu pemain asing di Liga Indonesia untuk satu musim. Tentu setiap pemain bisa lebih mahal atau lebih murah.
Tapi perspektifnya menjadi menarik. Untuk satu pemain di posisi tertentu, Persija punya dua layer budget sekaligus: uang untuk membayar klub pemilik pemain dan uang untuk mengontrak pemain.
Ini bukan sesuatu yang baru tapi bukan yang terlalu umum juga di Indonesia.
*bersambung ke twit berikutnya
@FahrezaEbol@bandungfootball Lah marah, saya bukan bela Bandung Football tapi dia ini media dan diluar dari manajemen. Tentunya keluhan bobotoh pasti ditanyain langsung ke manajemen, tapi kalau ga jalan ya salahin manajemen ngapain marah2 ke media swasta. Salah sasaran jadinya
@Azalianayaaa@alistjinni Kalau itumah jelas salah ngapain diomongin lagi, yg jadi masalah kalau orang luar nyanyinye jelek dibilang gapape tapi giliran orang Indonesia malah dihina. Ama orang kita sendiri lagi
Ps: Gua bukan fans Kpop suka casual aja
Kata Ganindra Bimo soal banyaknya pemain diaspora hijrah ke liga Indonesia termasuk Persib.
"Jadi menurut gua nih ya, akar masalahnya bukan ada di Persib, tapi akar masalahnya ada di cara kita melihat hierarki sepak bola. Kita nih masih nganggap perkembangan pemain tuh linear. Eropa selalu di atas, Asia selalu di bawah. Kalau pindah dari Eropa ke Indonesia, berarti turun kelas drastis. Padahal nih ya, dalam football economics dan player development, hierarki itu jauh lebih dinamis.
Yang dicari pemain profesional bukan selalu liga dengan reputasi paling tinggi, paling baik, paling hebat, paling besar. Yang dicari adalah competitive advantage, tempat di mana dia bisa memaksimalkan kualitasnya. Kalau sebuah klub menawarkan menit bermain yang lebih konsisten, sistem permainan yang lebih cocok, targetnya juara, kesempatan tampil di kompetisi Asia yang lebih besar, dan eksposur yang gede terhadap Timnas, itu adalah aset olahraga yang paling nyata. Itu bukan soal sekadar gaji atau nama liga.
Makanya banyak klub modern yang sekarang enggak lagi merekrut pemain-pemain tuh hanya berdasarkan CV, tapi berdasarkan project fit. Pertanyaannya jadi berubah, bukan lagi, 'Kenapa dia ninggalin Eropa?', tapi, 'Kenapa klub sebesar Persib ngerasa pemain itu layak jadi bagian dari proyek mereka?'. Karena transfer selalu terjadi dua arah kan? Ada pemain yang milih klub, ada klub yang memilih pemain.
Dan kalau semakin banyak pemain diaspora mulai datang ke Indonesia, mungkin yang berubah bukan mentalitas pemainnya, mungkin justru value sepak bola Indonesia yang mulai meningkat. Bagus dong buat kita, iya kan? Jadi menurut gua, berhentilah menilai transfer hanya dari arah perpindahannya, nilailah dari outcome-nya.
Karena dalam sepak bola profesional, keputusan transfer enggak pernah divalidasi saat tanda tangan kontrak. Keputusan itu baru divalidasi ketika performanya terlihat di atas lapangan, gitu. Menurut gua, bukan pundit, bukan pakar sepak bola, gua mah penonton sepak bola biasa."
"Insyaallah ya, yang dari Prancis (Gabriel Mutombo) juga sudah datang (kemarin). Insyaallah Persib mah selalu kejutan dan sok ngareureuwas Jakarta. Suka pada kaget orang Jakarta, makanya jangan bilang-bilang dulu," ucap Umuh. https://t.co/1PO2rqE87n