MAU BAGAIMANA LAGI ?
Nasi sudah menjadi bubur, mau tdk mau dan bagaimanpun caranya asal saat ini bisa mendapatkan posisi wapres pun gak jadi soal untuk menggantikan gibran jika BISA di makzulkan
.
Prof @mohmahfudmd ," @aniesbaswedan & @ganjarpranowo bisa gantikan gibran jika di makdzulkan".
.
Gw pribadi sih berharap pak @ganjarpranowo penggantinya,
Biar sejarah mencatat lebih / semakin lengkap,
Dahulu kala ada presiden give a way & skrng ada wapres give a way
(bukan pilihan rakyat)
๐ซข ๐ซฃ
Narasi nenek jahat yg menyebut ijazah Pak Jokowi byk versi itu jelas menyesatkan. Yg berbeda hanya salinan digitalnya, ada yg hasil scan, difoto dari layar, fotokopi, file terkompresi, hingga sudut pengambilan gambar yg miring sehingga tampilannya terlihat berbeda.
Itu bukan berarti ada byk ijazah. Ijazah Pak Jokowi tetap satu. Perbedaan visual sangat wajar terjadi krn kualitas file, pencahayaan, kompresi & cara pengambilan gambar.
Apalagi pihak UGM sudah menjelaskan keabsahan dokumen tersebut.
Substansi dokumennya juga tetap sama, mulai dari identitas, nomor ijazah, fakultas, hingga data kelulusan.
Jadi narasinenek jahat ijazah Pak Jokowi byk versi hanyalah upaya menggiring opini seolah-olah ada byk ijazah berbeda, pdhal faktanya tdk demikian.
Mengapa Indonesia banyak tertinggal bangsa lain?
Bgm tdk tertinggal, bahasa Indonesia saja mereka tidak mengerti.
Betapa bodohnya.
Mereka tidak mampu memahami putusan MK yg gamblang ini.
Oposisi apaan goblog goblog gitu?
Ini orang baru di kasih ke ahlian ngomong aja udah sombong, menyampingkan takdir Allah...bagi Allah apa yang gak mungki, coba sebutin satu aja...pasti gak bisa karna bagi Allah memang semuanya bisa terjadi. Cuci muka dulu sono biar gak ngigau terus hidupnya ๐๐
Salah โ
Saya membela kebebasan berpikir dan mengeluarkan pendapat sesuai dengan hari nurani masing-masing manusia.
AA dan GN menurut saya tidak melakukan kesalahan apapun, karena pikiran dan pendapatnya dijamin oleh konstitusi.
@Anak__Ogi dkk sepertinya perlu sesekali membaca ulang UUD 45 khusus bagian hak warga negara apa saja dalam demokrasi.
Iyakan @KerjaHasil_id โ๏ธ
Jika sebuah bangsa bisa melepaskan anak2 dr rantai kemiskinan ekstrem keluarganya, maka bangsa tsb sedang menyucikan diri dari dosa kolektifnya... #PrabowoDanSDM
Indonesia juara G20, tumbuh 5,61% Q1 2026, ngalahin Cina, AS, Saudi.
Tapi para pembenci pemerintah ngehoax 'Data bohong! Rakyat sengsara!'
Sengsara jiwa lu, otaknya udah mati, cuma bisa iri sambil ngumpulin like di kolom komentar. Miskin fakta, miskin prestasi, miskin segalanya!
Perjalanan Jokowi dari Walikota ke DKI 1
Awalnya, langkah Joko Widodo @jokowi menuju panggung politik nasional bukanlah cerita yang mulus. Ketika namanya mulai disebut-sebut untuk maju dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012, banyak yang memandangnya sebelah mata, bahkan dari internal partainya sendiri Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
Saat itu, Jokowi hanyalah wali kota dari Solo. Gaya kepemimpinannya yang sederhana, blusukan ke pasar, dan jauh dari citra elite politik ibu kota membuat sebagian pihak ragu: โApakah sosok seperti ini bisa menaklukkan Jakarta?โ
Keraguan itu bukan tanpa suara. Ada yang menganggap Jokowi terlalu โdaerahโ, terlalu polos untuk kerasnya politik ibu kota. Namun di tengah keraguan itu, muncul dorongan dari sosok yang tak banyak diduga: Prabowo Subianto @prabowo melalui dukungan Partai Gerindra yang dipimpinnya, Prabowo melihat sesuatu yang berbeda pada Jokowi, bukan sekadar popularitas, tapi keaslian. Ia bersama saudaranya, Hashim Djojohadikusumo, memberikan dukungan politik yang menjadi salah satu kunci penting dalam pencalonan tersebut.
Koalisi pun terbentuk. Jokowi dipasangkan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), menciptakan pasangan yang saat itu dianggap โtidak biasaโ. Tapi justru dari ketidakterdugaan itulah, gelombang perubahan mulai terasa.
Kampanye mereka sederhana, jauh dari gemerlap. Jokowi turun langsung ke gang-gang sempit Jakarta, mendengar keluhan warga tanpa jarak. Pendekatan yang kala itu dianggap โtidak lazimโ justru menjadi kekuatan.
Dan sejarah mencatat: dari sosok yang sempat diremehkan, Jokowi justru berhasil memenangkan hati warga Jakarta.
Dari titik itu, perjalanan politiknya melesat dari Balai Kota DKI hingga akhirnya ke Istana Negara.
Sebuah pengingat bahwa dalam politik, yang sering diremehkan justru bisa menjadi yang paling mengejutkan.