Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia | Ketua DPD Demokrat Jawa Barat | Anggota Komisi 1 | Daerah Pemilihan Jawa Barat 5 (Kabupaten Bogor) |
Menyimak perkembangan situasi dunia minggu ini, termasuk dinamika di kawasan Asia, sebagai warga dunia saya ingin menyampaikan pandangan saya.
Ada 4 isu global yang menjadi perhatian saya.
Pertama, situasi terkini di Gaza.
Kedua, pengakuan dan dukungan Perancis kepada Palestina sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.
Ketiga, pecahnya konflik bersenjata antara Kamboja dan Thailand.
Sedangkan keempat, perundingan tarif antara Amerika Serikat dan Uni Eropa.
1.Makin banyak negara yang mulai bersuara bagi pengakhiran baik perang maupun penderitaan kemanusiaan yang ekstrem (extreme human suffering) di Gaza. Meskipun hal begini sudah sangat terlambat, tetapi tetap ada baiknya. Empat negara Eropa yang penting, yang semuanya anggota G7, yaitu Inggris, Perancis, Jerman, dan Italia, secara eksplisit menyerukan pengakhiran perang dan tragedi kemanusiaan yang luar biasa di Gaza tersebut.
Saya berharap negara-negara besar tersebut bertindak lebih lanjut (tentu bersama negara-negara lain di dunia) agar seruan tersebut betul-betul menjadi kenyataan. Diplomasi dan langkah-langkah serius mesti dilakukan. Perhelatan Sidang Umum PBB bulan September mendatang di New York, dapat dijadikan forum bagi pengakhiran perang dan tragedi kemanusiaan di Gaza.
Saya kira banyak yang bersetuju dengan saya, bahwa penderitaan saudara-saudara kita di Gaza sudah sangat melampaui batas-batas kemanusiaan. Karenanya tidak cukup hanya menjadi tontonan di layar-layar televisi di seluruh dunia. Mungkin yang menonton drama kehidupan di Gaza tersebut dalam keadaan nyaman (di ruangan yang dingin ber-AC sambil menikmati kopi dan makanan yang lezat), sementara yang ditonton adalah mereka-mereka yang untuk makan dan minum pun sebagian tidak bisa, serta dalam ancaman keselamatan jiwanya.
Secara moral, kita semua terpanggil untuk do something bagi pengakhiran perang dan tragedi kemanusiaan yang tiada tara di Gaza tersebut.
2.Terkait dengan pengakuan dan dukungan Perancis terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Palestina, tentu ini sebuah tonggak penting mengingat Perancis adalah negara besar di Eropa, anggota G7 dan pemegang hak veto di Dewan Keamanan PBB. Sangat mungkin kebijakan luar negeri Perancis ini menambah “jembatan” dalam upaya penyelesaian konflik teritori dan kedaulatan antara Israel dan Palestina.
Konsep Solusi Dua Negara (two-state solution), dan bukan Solusi Satu Negara (one-state solution), adalah yang paling realistis. Prasyarat utama bagi terwujudnya 2 negara (Israel dan Palestina) yang sama-sama berdaulat dan hidup berdampingan secara damai harus dimulai dari mutual recognition, dari kedua negara tersebut. Prasyarat penting lainnya adalah dukungan internasional yang makin kuat dan luas agar two-state solution tersebut bisa diwujudkan. Saya tahu jalan yang mesti ditempuh masih panjang dan tidak semudah yang dipikirkan banyak kalangan. Tetapi hal ini tetap dimungkinkan (not impossible).
3.Terhadap pecahnya konflik bersenjata di sepanjang perbatasan Kamboja dan Thailand, secara pribadi saya sangat bersedih. Terus terang ini sebuah set back, dari kisah sukses ASEAN sebagai model kerja sama regional yang telah berlangsung hampir 60 tahun. Terjadinya eksodus kedua penduduk di perbatasan kedua negara tersebut, dalam jumlah yang besar, tentu bukan pemandangan yang indah bagi ASEAN, bagi kita semua.
Namun saya berpendapat, bahwa peaceful settlement, masih sangat dimungkinkan. ASEAN sebagai rumah bersama, termasuk di dalamnya Kamboja dan Thailand, masih memiliki sumberdaya politik untuk mendorong pengakhiran konflik kedua negara tersebut. Kita semua menunggu langkah cepat dan tepat ASEAN, termasuk kepemimpinan yang efektif.
Saya memahami konflik kedua negara memiliki akar sejarah yang panjang dan sejumlah kompleksitas tertentu. Di masa lalu, kontak tembak di antara tentara Kamboja dan Thailand beberapa kali juga terjadi. Tahun 2011, dalam kapasitas saya sebagai Ketua ASEAN, saya juga melakukan peran mediasi, karena terjadi lagi kontak tembak di tahun itu. Alhamdulillah, dalam pertemuan segi tiga di Jakarta, antara saya dengan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen dan Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva (didampingi Menteri Luar Negeri masing-masing), membuahkan kesepakatan untuk sebuah peace settlement yang terjaga selama 14 tahun. Artinya, saya tetap memiliki optimisme, konflik ini insya Allah bisa dicarikan solusinya secara damai, sesuai dengan jiwa dan semangat ASEAN Charter 2007.
4.Upaya perundingan dan negosiasi tarif antara Amerika Serikat dan Uni Eropa, memberikan harapan baru. Hubungan perdagangan antara kedua belah pihak (dengan “magnitude” yang besar) akan sangat berdampak kepada situasi perdagangan secara internasional. Kita tidak ingin terjadi gangguan dan instabilitas yang berkepanjangan dalam tata perdagangan dunia, karena akan berdampak tidak baik bagi semua negara.
Saya mengetahui, negosiasi tarif antara Amerika Serikat dan Uni Eropa ini bisa berjalan secara alot dan memerlukan waktu. Tetapi negosiasi tetap lebih baik daripada saling ancam mengancam dan apalagi kalau memilih dilakukan langkah yang unilateral.
Khusus terkait dengan perang tarif dan perang dagang ini, negara-negara sedunia harus memiliki kesamaan pandangan. Benarkah perang tarif ini harus menjadi order of the day? Adakah cara lain yang bisa ditempuh untuk memastikan sistem dan pelaksanaan perdagangan internasional benar-benar berlangsung secara fair dan membawa manfaat bagi seluruh bangsa di dunia. Saatnya kita semua berpikir dan berbicara secara jernih, jujur dan konstruktif bagi masa depan ekonomi dunia yang lebih baik.
Demikian pandangan pribadi saya terhadap 4 isu global yang menarik pada minggu ini.
Terima kasih.
*SBY*
Secara pribadi saya terus mengikuti dan mencermati terjadinya bencana alam di Sumatera. Perhatian saya tertuju pada seberapa parah bencana tersebut, termasuk korban jiwa serta kerusakan infrastruktur dan fasilitas publik. Juga langkah-langkah apa yang dilaksanakan oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah. Saya juga mendengarkan komentar dan percakapan publik menyangkut bencana yang skalanya besar tersebut, termasuk komentar-komentar yang kritis.
Melalui media ini saya ingin menyampaikan pandangan pribadi saya terkait bencana Sumatera dan langkah-langkah penanganannya.
Penanganan bencana itu kompleks dan tidak segampang yang dibayangkan. Terutama pada fase tanggap darurat yang biasanya terjadi kelumpuhan di sana-sini. Penanganan bencana, termasuk rekonstruksi dan rehabilitasinya,memerlukan waktu. Juga diperlukan sumber daya termasuk finansial yang mencukupi. Juga diperlukan kebijakan dan master plan yang utuh. Juga tentunya pelaksanaan yang efektif. Ini semua saya dapatkan dari apa yang dilakukan oleh pemerintahan yang saya pimpin dulu dalam mengatasi bencana tsunami di Aceh dan Nias, gempa bumi di Yogya dan Padang dan sejumlah bencana alam berskala besar lainnya.
Komando dan pengendalian harus efektif, dan idealnya Presiden bisa memimpin melalui manajemen krisis yang dijalankan. Tetapi, cara dan gaya yang dipilih oleh kepala pemerintahan tidak selalu sama. Misalnya, apa yang dilakukan oleh Presiden Prabowo saat ini bisa tidak sama dengan yang saya lakukan dulu. Ini disebabkan oleh perbedaan situasi atau konteks dari bencana itu; perbedaan jenis bencana dan magnitude dari kerusakan yang ditimbulkan, serta perbedaan cara di antara para pemimpin. Saya tahu, Presiden Prabowo dengan serius terjun ke lapangan dan memberikan atensi yang penuh. Saya juga tahu, Presiden Prabowo telah mengambil sejumlah kebijakan untuk membangun kembali provinsi-provinsi di Sumatera yang mengalami bencana alam tersebut.
Sekarang ini, perhatian kita semua tertuju pada rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh, Sumut dan Sumbar, agar kondisinya pulih dan bahkan lebih baik dari sebelumnya. Ada sejumlah faktor agar rehabilitasi dan rekonstruksi berhasil, antara lain: konsep rehabilitasi dan rekonstruksi yang baik, organisasi dan kepemimpinan di lapangan yang efektif, serta implementasi dari rencana yang juga efektif. Jangan dilupakan, akuntabilitas penggunaan uang negara juga dijaga dengan baik.
Demikian pendapat saya dan mari kita dukung langkah-langkah pemerintah untuk membangun kembali Sumatera pasca bencana dan memastikan saudara-saudara kita yang terkena musibah memiliki masa depan yang baik.
*SBY*
Menarik mengikuti World Economic Forum 2026 yang diselenggarakan di Davos, Swiss. Kita tahu pembicaraan, debat dan statement didominasi oleh persengketaan dan ketegangan global saat ini. Termasuk isu-isu yang bisa mengguncang stabilitas dan tatanan dunia.
Semoga forum yang dihadiri oleh ribuan partisipan termasuk tokoh internasional dan para World Leaders ini menghasilkan sesuatu yang positif untuk kebaikan dunia. Forum ini (saya pernah hadir dan berpartisipasi secara aktif ketika memimpin Indonesia dulu) bisa menjadi forum yang baik apabila PBB belum bisa atau tidak bisa mengacarakan kegiatan yang lebih baik. Bangsa-bangsa sedunia juga bisa mengikuti apakah para pemimpin mereka memiliki komitmen moral dan pikiran cerdas untuk menjaga keamanan dan keselamatan dunia, yang menjadi harapan semua umat manusia. *SBY*
Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir ini.
Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga.
Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit. Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini. Misalnya, munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perangnya, serta geopolitik yang benar-benar panas. Sejarah juga mencatat, bahwa meskipun sudah ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, tetapi sepertinya kesadaran, kepedulian, dan langkah nyata untuk mencegah peperangan itu tidak terjadi. Mengapa?
Mungkin bangsa-bangsa sedunia tidak peduli, atau tidak berdaya, atau mungkin tidak mampu untuk mencegahnya. Secara pribadi saya berdoa kepada Tuhan, semoga mimpi buruk terjadinya perang dunia disertai penggunaan senjata nuklir itu tidak terjadi. Banyak studi yang mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 milyar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia.
Tapi tidak cukup dengan doa satu, dua orang. Andaikata 8,3 milyar manusia penghuni bumi juga berdoa secara khusyuk, Tuhan tak begitu saja mengabulkan kalau manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak bekerja dan berupaya untuk menyelamatkan dunianya.
Sesempit apa pun, masih ada waktu dan cara untuk menyelamatkan bumi dan dunia kita. Mari kita berbicara dan berupaya. Ingat kata-kata Edmund Burke dan Albert Einstein yang intinya mengatakan bahwa kehancuran dunia bukan disebabkan oleh orang-orang jahat, tetapi karena orang-orang baik membiarkan orang-orang jahat menghancurkan dunia. Atau juga, kalau yang baik-baik diam, yang jahat akan menang.
Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly). Agendanya adalah langkah-langkah nyata untuk mencegah terjadinya krisis dunia dalam skala yang besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia yang baru.
Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing.
Mungkin saja, seruan para pemimpin sedunia itu “bagai berseru di padang pasir”. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini. Ingat, if there is a will, there is a way. *SBY*
Saat ini, situasi di Timur Tengah semakin berbahaya. Jika Perang Iran-Israel menjadi “out of control”, dunia benar-benar di ambang malapetaka.
Masa depan dunia, dari sisi perdamaian dan keamanan, ke depan ini akan ditentukan oleh lima orang kuat (strong men). Yang pertama dan kedua adalah Benjamin Netanyahu dan Ali Khamenei. Sedangkan yang ketiga, keempat dan kelima (yang lebih kuat lagi) adalah Donald Trump, Vladimir Putin dan Xi Jinping.
Semoga kelima pemimpin tersebut oleh Tuhan diberikan kearifan jiwa dan kejernihan pikiran dalam mengambil keputusan dan tindakan. Jangan ada salah keputusan dan “miscalculation” (salah hitung). Kalau gegabah dan salah, akan menimbulkan kematian dan kehancuran yang dahsyat di banyak bangsa dan negara.
Sejarah mencatat, banyak peperangan yang berangkat dari ego dan ambisi para pemegang kekuasaan (power holders). Dari abad ke abad, selalu ada “warlike leaders“ (pemimpin yang sangat gemar berperang). Padahal, sejatinya manusia sedunia lebih mencintai kedamaian dan perdamaian.
Perang besar, apalagi Perang Dunia ke-3, masih bisa dicegah. Harus bisa dicegah. Waktu dan jalan masih ada. *SBY*
Lima tahun terakhir ini, saya sangat aktif dalam olahraga bola voli. Saya juga melibatkan diri dalam pembinaan dan pengembangan bola voli di Tanah Air. Melalui twit ini, saya ingin menyampaikan pandangan dan pengamatan saya agar olahraga bola voli makin berkembang di Indonesia, dan standing Indonesia secara internasional juga terus meningkat.
Dengan tulus saya menilai, lima tahun ini bola voli di Indonesia makin berkembang dengan prestasi yang makin baik. Standing Timnas Indonesia baik di tingkat ASEAN maupun Asia juga menunjukkan peningkatan yang signifikan. Di Tanah Air bermunculan atlet-atlet bola voli yang makin berkualitas. Sementara itu, animo masyarakat terhadap berbagai turnamen bola voli juga makin besar. Ini tentu menunjukkan tanda-tanda yang baik, dan memberikan kebanggaan tersendiri bagi kita semua, masyarakat Indonesia.
Prestasi dan kualitas bola voli yang meningkat dengan tajam ini, tentu tidak terlepas dari upaya gigih PBVSI yang mendapatkan amanah untuk meningkatkan perbolavolian kita. Mewakili berbagai kalangan yang mencintai bola voli, saya ingin mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada PBVSI pimpinan Jenderal Imam Sudjarwo. Semoga prestasi baik ini dapat dipertahankan dan bahkan ditingkatkan di masa mendatang.
Sebentar lagi ajang Proliga 2025 akan segera dimulai. Turnamen tingkat puncak ini juga sudah ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Berkaitan dengan itu, saya ingin menyampaikan beberapa hal untuk menjadi catatan dan pertimbangan PBVSI dalam pembinaan dan pengembangan bola voli ke depan. Pandangan ini saya sampaikan melalui media sosial ini sekaligus mewakili berbagai pihak yang sudah menyampaikan kepada saya. Yang saya sampaikan ini sekaligus merupakan hal-hal yang perlu dicarikan solusinya oleh PBVSI, mungkin juga KONI.
Masyarakat sudah senang karena turnamen Livoli Divisi Utama yang tadinya hanya diikuti oleh 8 klub, mulai tahun depan akan ditingkatkan jumlah pesertanya menjadi 12 klub. Kebijakan ini saya pandang sangat tepat, agar atlet-atlet kita punya kesempatan untuk bermain pada panggung yang terhormat. Masyarakat juga akan senang karena bisa menyaksikan atlet-atlet yang diidolakannya. Tetapi, kita patut bersedih karena tim peserta turnamen Proliga, justru jumlahnya makin sedikit (menurun). Kalau tidak ditambah satu tim bentukan PBVSI, praktis hanya tinggal 4 klub yang mengikuti Proliga Tahun 2025 ini. Dalam kaitan ini, PBVSI perlu mencari tahu mengapa penurunan ini terjadi.
PBVSI patut menelaah apakah penurunan ini dikaitkan dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh tiap klub. Kalau jumlahnya makin besar atau kelewat besar, saya kira klub yang ada sulit untuk membiayainya. Tidak semua klub memiliki kemampuan pembiayaan yang tinggi. Klub-klub yang dibentuk oleh BUMN tertentu, pasti memiliki batas anggaran yang bisa dikeluarkan. Termasuk tentunya LavAni yang pembiayaannya atas dasar sponsorship. Beredar luas pula bahwa salary atau gaji untuk pemain asing juga memiliki peningkatan yang sangat tajam, di luar kemampuan klub-klub yang ada di Tanah Air. Saya menyarankan agar PBVSI memikirkan adanya salary cap atau batas maksimal gaji bagi pemain asing. Gaji pemain asing yang sangat luar biasa besarnya menurut saya tidak tepat dan justru menimbulkan kesenjangan yang makin tinggi dengan gaji atlet lokal yang prestasinya juga tidak selalu kalah dengan atlet asing. Peningkatan gaji atlet asing yang tidak dibatasi ini, patut diduga menyebabkan demotivasi di kalangan klub bola voli di Tanah Air karena merasa tidak mampu lagi untuk bersaing di kancah Proliga. Untuk kita ketahui bersama, kebijakan menetapkan salary cap ini juga lazim diterapkan di negara-negara lain.
Hal lain yang perlu diatur oleh PBVSI, termasuk segi-segi pengawasan, adalah kepatuhan klub bola voli untuk menghormati kontrak antara atlet dengan klub bola voli. Kita semua harus menghormati kontrak tersebut dan jangan sampai pihak tertentu melakukan pemaksaan dan pelanggaran kontrak dengan menggunakan “kekuasaan”.
Saya juga mengikuti dalam Proliga 2025 mendatang ada perubahan kebijakan PBVSI tentang ketentuan penggantian atlet asing dan atlet lokal. Menurut saya, PBVSI perlu menjelaskan alasan dilakukannya perubahan tersebut agar tidak mendatangkan praduga yang tidak baik. Jangan sampai ada pandangan aturan tersebut diubah untuk kepentingan klub-klub tertentu. Ibarat dalam kehidupan bernegara, tentu juga tidak tepat kalau sebuah konstitusi dan undang-undang diubah hanya untuk memenuhi kepentingan orang seorang atau kelompok tertentu.
Hal lain yang juga menjadi sorotan masyarakat adalah besaran hadiah uang tunai yang diterima oleh atlet dan klub yang berprestasi, khususnya dalam turnamen Livoli Divisi Utama tahun 2024 ini. Masyarakat berpendapat besaran hadiahnya sangat kecil untuk diterima oleh atlet-atlet yang berprestasi pada tingkat nasional. Apalagi kalau dibandingkan dengan insentif bagi sebagian atlet asing yang jumlahnya sangat fantastis. Semoga PBVSI berkenan untuk memperbaiki kebijakan ini.
Demikian yang saya sampaikan melalui mimbar ini, agar bola voli Indonesia makin terus meningkat dan berkembang. Secara pribadi, saya akan terus mendukung PBVSI pimpinan Jenderal Imam Sudjarwo agar prestasi yang telah diraih 5 tahun terakhir ini dapat dijaga dan bahkan ditingkatkan lagi.
@SBYudhoyono Kami percaya lavani sdh memberikan yg terbaik namun bayangkara ternyata lebih baik lagi, apapun hasilnya lavani selalu di hati. Tahun dpn mari rebut kembali.
Turnamen Bola Voli Nasional antar klub, Proliga 2024, semalam berakhir. Sebagai puncak kegiatan dilaksanakan Grand Final antara Bhayangkara Presisi dengan LavAni Allo Bank Electric. Untuk tahun ini yang berhasil menjadi juara adalah Bhayangkara, sedangkan LavAni menjadi runner up.
Selaku pendiri LavAni saya mengucapkan selamat kepada Klub Bhayangkara yang menjadi Champion pada Proliga musim ini. Saya menyaksikan bahwa semalam Bhayangkara benar-benar bermain dengan baik dan hampir semua pemainnya "on fire". Terlebih permainan memukau pemain asing Keita (dari Mali) yang boleh dikatakan "kagak ada matinye". Dengan tulus LavAni menerima kekalahan semalam. Selama ini, hubungan antara LavAni dan Bhayangkara terjalin dengan baik, meskipun kami berdua sama-sama saling menjadi kompetitor yang tangguh. Inilah indahnya dunia olahraga dan sekaligus nilai-nilai (values) yang mesti kita junjung tinggi.
Sementara, LavAni menempati posisi nomor dua kali ini. Saya berharap LavAni tidak kecil hati dan terlalu bersedih. Saya tahu LavAni telah berjuang sekuat tenaga dan ingin pula bermain yang terbaik. Ingat yang sering saya katakan "sometimes we win, sometimes we learn". Juga yang sering dikatakan AHY, Pembina LavAni, "Menang tidak terbang, kalah tidak patah". Ambillah hikmah dari kekalahan ini. Saya meyakini ini skenario Tuhan yang indah. Kalau LavAni menjadi juara Proliga 3 kali berturut-turut, mungkin justru mendatangkan ketidak-baikan bagi LavAni. Bisa saja ada godaan untuk membuat LavAni "jumawah". Kita harus jujur bahwa permainan LavAni tadi malam sangat menurun, jauh di bawah performance yang biasanya. Sementara Bhayangkara main jauh lebih baik, dibandingkan 4 kali pertandingan sebelumnya yang kesemuanya dimenangkan oleh LavAni. Saatnya LavAni untuk melakukan introspeksi dan melakukan perbaikan-perbaikan. Setelah itu"move on" untuk bertanding kembali dan insya Allah meraih sukses di masa depan.
Atas nama sesepuh LavAni saya mengucapkan terima kasih kepada para pendukung dan fans LavAni di seluruh Tanah Air, dan meminta maaf atas ketidak-berhasilan LavAni meraih juara pada Proliga 2024 ini.
Menutup tweet saya ini, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada PBVSI selaku penyelenggara Proliga. Saya juga mengamati perkembangan olahraga bola voli di Indonesia tahun-tahun terakhir ini luar biasa positifnya. Permainan makin bermutu dan peringkat Indonesia di dunia makin tinggi.
Saya mengajak seluruh klub bola voli di Tanah Air untuk bersama-sama memajukan olahraga ini di negeri kita. Saya senang karena hampir semua klub bola voli menjunjung tinggi etika, sportivitas dan fair play. Kita sama-sama Merah Putih. Ada kalanya kita berkompetisi, ada kalanya kita bersatu untuk membawa kehormatan dan nama baik Indonesia di kancah dunia. *SBY*
1. Menarik yg disampaikan Prof Denny Indrayana melalui twitnya ttg informasi bakal ditetapkannya Sistem Proporsional Tertutup oleh MK dlm Pemilu 2024. Juga menarik, mengait PK Moeldoko di MA yg digambarkan Partai Demokrat sangat mungkin diambil alih Moeldoko *SBY*
2. Prof Denny Indrayana adl mantan Wamenkumham & ahli hukum yg kredibel. Karenanya, saya tergerak berikan tanggapan ttg sistem pemilu yg akan diputus MK & PK Moeldoko di MA yg ramai diisukan Partai Demokrat bakal dikalahkan & diambil alih oleh Kepala Staf Presiden Moeldoko *SBY*
3. Jika yg disampaikan Prof Denny Indrayana “reliable”, bahwa MK akan menetapkan Sistem Proporsional Tertutup, dan bukan Sistem Proporsional Terbuka seperti yg berlaku saat ini, maka hal ini akan menjadi isu besar dalam dunia politik di Indonesia *SBY*
4. Ada 3 hal yg ingin saya sampaikan berkaitan dgn sistem pemilu yg hendak diputuskan MK. Mungkin ini juga pertanyaan mayoritas rakyat Indonesia & mayoritas partai-partai politik. Saya pikir para pemerhati pemilu & demokrasi juga memiliki kepedulian yg sama *SBY*
5. Pertanyaan pertama kpd MK, apakah ada kegentingan & kedaruratan sehingga sistem pemilu diganti ketika proses pemilu sudah dimulai? Ingat, DCS (Daftar Caleg Sementara) baru saja diserahkan kpd KPU. Pergantian sistem pemilu di tengah jalan bisa menimbulkan “chaos” politik *SBY*
6. Pertanyaan kedua kpd MK, benarkah UU Sistem Pemilu Terbuka bertentangan dgn konstitusi? Sesuai konstitusi, domain & wewenang MK adalah menilai apakah sebuah UU bertentangan dgn konstitusi, & bukan menetapkan UU mana yg paling tepat ~ Sistem Pemilu Tertutup atau Terbuka? *SBY*
7. Kalau MK tidak memiliki argumentasi kuat bahwa Sistem Pemilu Terbuka bertentangan dgn konstitusi sehingga diganti menjadi Tertutup, mayoritas rakyat akan sulit menerimanya. Ingat, semua lembaga negara tmsk Presiden, DPR & MK harus sama-sama akuntabel di hadapan rakyat *SBY*
8. Ketiga, sesungguhnya penetapan UU ttg sistem pemilu berada di tangan Presiden & DPR, bukan di tangan MK. Mestinya Presiden & DPR punya suara ttg hal ini. Mayoritas partai politik telah sampaikan sikap menolak pengubahan sistem terbuka menjadi tertutup. Ini mesti didengar *SBY*
9. Saya yakin, dlm menyusun DCS, Parpol & Caleg berasumsi sistem pemilu tidak diubah, tetap sistem terbuka. Kalau di tengah jalan diubah oleh MK, menjadi persoalan serius. KPU & Parpol harus siap kelola “krisis” ini. Semoga tdk ganggu pelaksanaan pemilu 2024. Kasihan rakyat *SBY*