momen menteri pertanian di skakmat rektor
Rektor : Bapak sudah 8 tahun jadi menteri kenapa baru sekarang ngomongin swasembada pangan ??
Rektor : Kemarin-kemarin kemana?
Rektor : Kenapa baru 1 tahun terakhir? kenapa waktu prabowo menjabat ?
amran : Kalau mau sukses lihat ke depan masa lalu jangan terlalu diambil hati
RIP dr. Icha 😭💔
Gantung diri karena depresi berat, diduga akibat intimidasi 2 anggota DPRD 🤬
dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni (dr. Icha), lahir 27 Juli 1998, berusia 27 tahun.
Beliau adalah dokter jaga di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT.
Meninggal pada Jumat, 26 Juni 2026 petang, ditemukan gantung diri di lantai 2 rumah orang tuanya di Kabupaten Kupang, NTT.
Kejadian:
- Pada 13 Juni 2026, dr. Icha menangani pasien anak korban gigitan ular di IGD. Keluarga pasien tidak puas dengan penjelasan medis mengenai ketersediaan serum anti bisa ular.
- Diduga terjadi intimidasi berupa bentakan keras, tunjuk2 wajah, & tekanan psikologis dari oknum anggota DPRD TTU. Saksi menyebut pelaku dalam kondisi mabuk (bau alkohol).
- Terduga pelaku intimidasi: Therensius Lazakar (Golkar) & Norbertus Tubani/Robertus Tubani (PKB).
(1)
The EU used to recommend that Asian countries stop using air conditioners for the sake of the environment, probably because their own countries were cool and comfortable. Now that Europe is getting temperatures like Asia, they’re suddenly rushing to buy air conditioner. The EU never fails to provide us with comedy. 😹🫵🏻
07.17: RT @TMCPoldaMetro : Bus gangguan mesin depan Halte TranJakarta Cawang Cikoko / sebelum Gedung Smesco Jl. Gatot Subroto Jaksel arah Semanggi lalu lintas terpantau padat, saat ini sedang proses evakuasi dan penderekan.
Ini unpopular opinion: BPS adalah satu2nya institusi yg sah & capable utk ngumpulin data. Ada Undang2nya khusus ttg Statistik Nasional lho. Thus, kalau Anda jawab tidak jujur saat disurvei/sensus, maka kita makin sulit utk minta pertanggungjawaban atas setiap kebijakan yg ada.
Indonesia pernah dikenai sanksi FIFA karena memberi gol pada tim lawan.
Gol Austria memang tak sevulgar di kasus gol Indonesia, tapi ini adalah gol pemberian Aljazair. Tinggal FIFA mau menyelidiki atau tidak.
Seperti gol-gol Iran yang dianulir, tentu semua hanya kembali kepada keputusan: mau pakai VAR atau tidak.
Buat yang masih nyinyir, pendekatan pengeluaran (expenditure approach) itu bukan akal2an BPS biar angkanya bagus, tapi memang Standar Emas (Gold Standard) dalam pengukuran kemiskinan dan kesejahteraan di negara berkembang.
Kalau mau dibedah secara akademis dan standar internasional, ini alasan kenapa BPS pakai metode pengeluaran:
1. Rekomendasi Resmi Bank Dunia (World Bank)
Bank Dunia secara eksplisit menyatakan bahwa untuk negara berkembang, data konsumsi/pengeluaran jauh lebih akurat daripada data pendapatan. Mengutip dari dokumen metodologi World Bank (Deaton & Zaidi, 2002 dalam "Guidelines for Constructing Consumption Aggregates for Welfare Analysis"):
di negara dengan sektor informal dan agrikultur yang masif, pendapatan sangat sulit diukur karena fluktuasinya ekstrim. Bulan ini panen dapat puluhan juta, tiga bulan ke depan nol. Kalau pakai data pendapatan bulan itu, orang ini bisa tercatat sangat kaya atau sangat miskin secara keliru.
2. Teori "Permanent Income Hypothesis" (Milton Friedman)
Dalam ilmu ekonomi makro, pemenang Nobel Milton Friedman mencetuskan bahwa konsumsi seseorang itu mencerminkan permanent income (pendapatan jangka panjang yang diekspektasikan), bukan pendapatan sesaat. Orang yang hari ini nganggur tapi punya tabungan 1 Miliar akan tetap makan enak (pengeluaran tinggi). Pengeluaran memotret daya beli riil dan standar hidup yang sebenarnya.
3. Karakteristik Pekerja Indonesia (Didominasi Sektor Informal)
Lebih dari 59% pekerja di Indonesia (data BPS 2023/2024) adalah pekerja informal (freelancer, pedagang kaki lima, buruh harian, petani). Mereka tidak punya slip gaji bulanan yang pasti. Menanyakan "berapa gaji Anda bulan ini?" ke pedagang pasar akan menghasilkan data yang sangat bias. Sebaliknya, menanyakan "sehari habis berapa untuk makan, listrik, dan bensin?" jauh lebih mudah dijawab dengan jujur dan akurat.
4. Bias Pelaporan Pendapatan (Underreporting)
Sudah jadi rahasia umum di ranah riset statistik bahwa responden cenderung berbohong saat ditanya pendapatan. Orang kaya cenderung understate (menurunkan nominal) karena takut urusan pajak atau pamer, sedangkan orang miskin rentan juga menutupi atau melebih-lebihkan karena gengsi atau berharap bantuan sosial. Sebaliknya, saat ditanya pengeluaran beras, telur, rokok, listrik, responden jauh lebih sulit untuk berbohong secara sistematis.
Jadi, mbak surveyor di foto itu sudah menjalankan SOP statistik internasional dengan benar. Jawaban 'saya makan dari tabungan' membuktikan bahwa kemampuannya bertahan hidup (survival & welfare) saat ini ditopang oleh akumulasi kekayaannya, yang hanya bisa diukur lewat seberapa besar pengeluarannya hari ini, bukan dari nol pendapatannya bulan ini.
Literasi statistik publik kita memang masih perlu banyak diedukasi.