Berikut tulisan saya di Kompas 27/12/23 “ Kelas Menengah dan “Chilean Paradox”.
Studi Dartanto dan Can (2023) menunjukkan bagaimana dalam periode 2019-2022 manfaat dari kebijakan atau program pemerintah terfokus pada 20% persen kelompok terbawah dan 10% kelompok teratas tetapi melupakan kelompok kelas menengah (persentil 40-80%). Bahkan kelompok persentil 60%-80% mengalami pertumbuhan ekonomi negatif.
Tulisan ini membahas tentang perlunya perluasan perlindungan sosial untuk kelas menengah dan bagaimana membiayainya.
https://t.co/3cnXpB3QvU
@Franc0Fernand0 Maybe you should give more analogy to something else that relate to our daily life and connect them to the thread, process, or core concept.
I've tried it with ChatGPT, and push it using more analogy to explain about process (parent & child) concept.
Jika gedung-gedung kampus PTN biasanya sudah sering diberi nama alumninya yang kerap menyumbang. Sudah saatnya memperluas cakupan filantrofinya ke jabatan Profesor. Namun memang aturannya tentu harus diubah terlebih dahulu.
--end---
2023 tahun panen Profesor di Indonesia. Namun, penambaham Profesor yg banyak ini turut menambah beban keuangan negara. Ditambah pula peraturan PAN RB terbaru bakal membuat seret jumlah profesor baru.
Bagimana mengatasinya? Jawabnya adalah Desentralisasi Profesor. --Thread--
atau Prof. Dr. Andri Wongkito (Profesor Gojek-Tokopedia Bidang Ilmu Software Engineering). Ketiga Profesor tersebut berarti mendapat funding/tunjangan dari para pengusaha dan korporat.
Apa konsekuensinya? Kampus akan berhitung & menilai dengan super cermat tiap kali hendak mengangkat Profesor. Hanya yang outstanding saja yang layak diangkat.
Bagaimana dengan konsekuensi beban finansial yang harus ditanggung kampus? Kampus akan tambah kreatif dan terpacu untuk mencari revenue dari sumber lain. Bisa dicoba untuk mencari funding khusus untuk profesor dari kalangan pengusaha, filantrofi, atau perusahaan.