makin kesini jadi makin sadar, kalo sekarang tuh relationship bukan cuma soal bucin bucinan cringe lagi tapi we need a partner yang bisa grow bareng, diajak deeptalk tanpa vibes awkward, saling tukar pikiran tanpa adanya ego, saling backup di good & bad days, ngobrolin anything from dreams to darkest fears tapi tetep jadi home to back home to.
ya allah, aku mau jadi istri dan ibu... bukan sekedar punya pasangan atau anak, tapi punya rumah yang di dalamnya ada cinta, kasih sayang, ketenangan, rasa aman dan saling menjaga setiap hari. aamiin...
Dengan isu yang beredar, jadi nambah satu doa gue di pernikahan gue nanti: dapet pasangan yang selalu memilih gue, dalam keadaan apa pun, di tengah ujian apa pun, bahkan ketika ada pilihan lain. And I’ll do the same for him. InsyaAllah Aamiin
in this era, aku akan memilih cowo mature yang ga neko neko, yang udah sadar umurnya ga guna dipakai buat main-main lagi, ga banyak ngomong apa lagi janji, mampu ngeprovide, punya planning dan tujuan hidup yang jelas.
Dulu aku mencari seseorang yang membuatku jatuh cinta.
Sekarang aku mencari seseorang yang cara berpikirnya bisa kupercayai, emosinya bisa dia kelola, nilainya bisa kujalani, dan masa depannya masuk akal untuk dibangun bersama.
Ternyata kedewasaan mengubah definisi “cocok”.
Aku juga pernah mikir, mungkin aku harus "beres" dulu sebelum bisa serius sama siapa pun.
Harus stabil dulu, harus gk overthinking dulu, harus gk punya luka dulu. Tapi makin dewasa aku sadar, manusia mana sih yang bener bener tanpa luka...
ada tulisan cantik bgt, kira2 isinya begini:
“semoga kamu selalu dipertemukan dengan seseorang yg dapat berbicara bahasa mu, sehingga kamu tidak perlu menghabiskan waktu seumur hidup untuk menerjemahkan jiwamu.”
Indah sekali kata-kata ini:
"Jangan batasi doamu dengan logikamu, mintalah yang terasa mustahil, karna yang kamu ajak ngobrol ini bukan (manusia)."
Percaya Allah so, so, so, so, so, so, so, so, so, so powerfull.