masa setiap mau ngeblock org harus ijin dulu, kalian klo mau block akun w juga terserah silakan banget bebas
menurutku daripada koar2 di timeline ketika ga suka sama suatu akun ya mending langsung block, itu tanda kedewasaan dalam bersosmed
hidup sebagai wni udah susah, ga usah ditambahin dgn drama block2 receh gini
oke sekian
ini knp dah drama banget diblock ya berarti w ga suka isi kontennya
sosmed sosmed w, ga perlu interaksi dulu kan, fitur dikasih elon kok
aneh org2 ini udah pada gede, kayak baru sehari main sosmed aja
haduh ada2 aja hari senin pagi gini
Mohon maaf karena kesibukan di dunia nyata kami tertunda melanjutkan thread ini. Untuk membayar utang maka malam ini juga akan kami lanjutkan. Silakan disimak 👇
Nomor ADUAN:
Sahabat Sentra Aduan Gizi Interaktif (SAGI ) 127
WhatsApp ~ 0811 1000 8008
~088 293 800 268
~088 293 800 376
Cara Pengaduan ;
Lampirkan Alamat ;
Desa, kecamatan, Kabupaten Nama Yayasan
/ Tempat Penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG )
Jenis Laporan/ Pengaduan ;
Menu Tidak Layak sedikit, Kotor, Basi , Berulat.
Tempat Tidak Mengikuti Standar Kelayakan
Dari Badan Gizi Nasional (tidak Bersertifikasi)
Sertakan Bukti Aduan/Laporan;
Video,Foto Kirim ke No WhatsApp Yang Tertera Di Atas (24 Jam Aktif)
Nama Dan Nomor Pelapor Di Rahasiakan .
Terima kasih Badan Gizi Nasional Republik Indonesia ( BGN)
Kemarin saat WA-an dengan kawan, seorang yang duduk di Kabinet, seperti biasa saya tembak langsung saja "Masih banyak yang jujur, kompeten, koq milih orang seperti itu. Bapak salah pilih orang,"
"Ndak bisa begitu juga bang, ada orang (yang awalnya) baik, tapi saat menjabat keblinger," kata beliau.
Saya agak tercenung juga, "iya juga, siapa sangka orang seperti Dadan, yang demikian dipercaya, loyal, kerjanya selama ikut bapak baik dan jujur, bisa terjerumus".
Pak Lodewyk Pusung, anak buah langsung pak Prabowo saat di Detasemen 81 (Sat-81/Gultor) Kopassus, loyal, bahkan diberikan kenaikan pangkat kehormataan jadi Letjen, bisa mempermalukan Pak Prabowo setelah diberikan kehormatan demikian besar.
"Orang itu bisa jadi memang baik awalnya, tapi begitu handle uang Triliunan, banyak godaan," lanjut kawan ini.
"Iya juga, mungkin hanya saya yang ndak akan tergoda Triliunan, 😂" tulis saya, tapi ndak jadi saya send, mempertimbangkan beliau pasti sedih juga atas apa yang dialami Pak Prabowo, akibat perbuatan orang kepercayaannya.
Sebelum menutup pembicaraan kemarin, saya sempat katakan "Bapak orang baik, terlalu mudah percaya orang, sehingga mudah terperdaya."
Sekedar share.... memang jadi Pemimpin, apalagi pemimpin Negara, tidak mudah. Dan meletakkan kepercayaan pada orang yang sudah dikenal baik pun, dengan catatan emas sekali pun, tak ada jaminan tidak akan tergoda saat menjabat.
Sehat sehat Pak Prabowo, semoga ndak ada lagi yang berkhianat atas amanah yang diberikan.
Salam
FK
BGN itu dibentuk atas permintaan Presiden terpilih Prabowo, untuk melancarkan tinggal landas Program MBG.
Aneh saja, mas ini akademisi, nalarnya ndak jalan. Untuk apa Presiden yang mau berakhir jabatan hitungan bulan membentuk Badan Baru yang bukan programnya.
Ngapain pula MBG dihentikan. Program ini bagus koq, memang harus diakui buruk implementasinya, ditambah orang2 yg ditunjukan tidak kompeten, sehingga design sistem yg dibentuk buruk, banyak celah kebocorannya.
Ditambah terlalu mengejar target STATISTIK yang bombastis, tanpa akuntabilitas dan Transparansi yang baik.
Tinggal diperbaiki, yang bahlul dipecati.
BERHENTILAH MENYALAHKAN DIRI SENDIRI, APALAGI MEMINTA IZIN UNTUK MAJU!
Fahri Hamzah
Politisi, Alumni Universitas Indonesia, Mantan Wakil Ketua DPR RI.
Ada satu gejala yang selalu muncul setiap kali Indonesia mencoba melangkah lebih jauh. Bukan kritik terhadap detail kebijakan. Bukan perdebatan tentang angka. Bukan pula perbedaan pandangan yang wajar dalam demokrasi. Yang muncul adalah sesuatu yang lebih dalam: keraguan terhadap kemampuan bangsa ini sendiri. Kita melihatnya berulang-ulang dalam sejarah.
Pada awal kemerdekaan, kita meragukan diri: apakah bangsa ini bisa merdeka? Apakah bahan baku untuk menjadi sebuah republik sudah cukup? Belanda dan Eropa terus meragukan kita didukung segelintir orang yang percaya bahwa kita belum siap—sehingga klaim Belanda dan sekutu untuk kembali disertai tindakan nyata: agresi militer berkali-kali.
Di fase pertengahan Orde Baru, ketika Indonesia ingin membangun industri strategis, muncul suara yang mengatakan kita belum mampu. Ketika Indonesia ingin menguasai teknologi, muncul suara yang mengatakan lebih baik membeli dari luar.
Lalu selanjutnya sampai sekarang, ketika Indonesia ingin mengolah sumber daya alam sendiri, muncul suara yang mengatakan pasar akan menghukum. Ketika Indonesia ingin memainkan peran lebih besar di panggung internasional, muncul suara yang mengatakan kita sebaiknya tidak terlalu percaya diri. Pola ini begitu konsisten sehingga sulit dianggap sebagai kebetulan.
Perdebatan terbaru mengenai diplomasi Presiden Prabowo sebenarnya memperlihatkan gejala yang sama.
Di satu sisi, ada pandangan yang melihat aktivitas diplomasi Presiden sebagai bagian dari upaya menempatkan Indonesia dalam konfigurasi dunia yang sedang berubah. Dunia hari ini tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh satu atau dua kekuatan besar. Negara-negara menengah (middle powers) mulai mencari ruangnya sendiri. Dalam konteks itu, Indonesia bukan sekadar peserta dalam percaturan global, melainkan calon pemain yang semakin diperhitungkan.
Di sisi lain, muncul kritik yang mempertanyakan efektivitas, biaya, frekuensi perjalanan, dan hasil konkret dari diplomasi tersebut. Kritik seperti ini penting.
Demokrasi membutuhkan pengawasan. Setiap kebijakan publik harus dapat dipertanggungjawabkan.
Tetapi yang menarik justru bukan perbedaan pendapatnya. Yang menarik adalah bagaimana sebagian dari kita begitu cepat berasumsi bahwa langkah keluar Indonesia pasti berlebihan, terlalu ambisius, atau berpotensi gagal. Seolah-olah menjadi negara besar adalah sesuatu yang pantas bagi bangsa lain, tetapi tidak sepenuhnya pantas bagi Indonesia.
Padahal, sejarah menunjukkan bahwa hampir semua negara yang kemudian menjadi kekuatan besar terlebih dahulu membangun jaringan pengaruh internasionalnya. Amerika Serikat tidak menjadi kekuatan global hanya karena ukuran ekonominya. Ia membangun aliansi, institusi, pasar, dan pengaruh politik selama puluhan tahun.
China tidak menjadi pemain utama dunia hanya karena jumlah penduduknya. Ia membangun hubungan ekonomi, investasi, teknologi, dan diplomasi secara sistematis selama beberapa dekade. Turki, India, Korea Selatan, bahkan negara kecil seperti Singapura memahami bahwa masa depan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di dalam negeri, tetapi juga oleh kemampuannya memengaruhi lingkungan strategis di luar dirinya.
Beragam OK, tapi jangan sok tahu apalagi menyebar narasi yg juga belum jelas kebenarannya, dan parahnya yg nyebar narasi bukan militer, pengamat, ahli atau pihak berwenang.
Kebanyakan saya perhatikan hanya ngejar engagement saja, mungkin karena sdh waktunya "gajian".
Semua yang dilakukan oleh ayah Prabowo selalu salah dimata pembencinya
Mereka bersembunyi dibalik kata kritik, padahal mereka sedang melampiasakan kebenciannya ...