Orang tua kandungnya
melihat kedua tangannya
yang tidak sempurna.
Mereka merasa malu.
Bayi berusia nol hari itu ditinggalkan.
Ditolak oleh ayah dan ibunya sendiri.
Kakek dan nenek dari pihak ibu
mengambil bayi itu.
Membawanya pulang
ke rumah berdinding papan.
Niatus Sholihah tumbuh besar
dan mengira mereka
adalah orang tuanya.
Setiap pagi,
sang kakek memompa balon.
Sejak duduk di bangku SD,
Niatus ikut berjalan keliling kampung.
Ia membantu kakeknya berjualan
gambar dan balon
untuk mencari uang makan.
Di rumah,
Niatus meletakkan
kertas di hadapannya.
Pensil dijepit
di antara bagian tangannya.
Garis pertama melenceng.
Kertas itu kembali robek.
Ia mengambil kertas lain.
Pensil kembali bergerak.
Lama-kelamaan,
ia mahir melukis.
Ia juga menguasai
lukisan henna pernikahan
di tangan orang lain.
Saat beranjak remaja,
Niatus membuka Kartu Keluarga.
Matanya berhenti pada satu kolom.
Status hubungan: "Cucu".
Ia membaca tulisan itu sekali lagi.
Namanya tercantum di sana.
Bukan sebagai anak.
Orang tua kandungnya
ternyata masih hidup.
Rumah mereka sangat dekat.
Bahkan bertetangga sendiri.
Selama bertahun-tahun,
mereka berpapasan
di lingkungan yang sama.
Niatus tak tahu siapa mereka.
Mereka pun berpura-pura
tak mengenalnya.
Niatus menangis.
Ia mengusap wajahnya.
Buku pelajaran kembali terbuka.
Halaman demi halaman dibacanya.
Universitas PGRI Semarang
memberinya kesempatan melalui
Beasiswa KIP-Kuliah.
Gadis yang dulu dibuang
di Bondowoso
kini kuliah
di jurusan PGPAUD.
Hasil kerja kerasnya
tak berhenti di bangku kuliah.
Ia merenovasi rumah kakek dan
nenek yang membesarkannya.
Ia juga membiayai mereka berdua
untuk menunaikan ibadah umrah.
Kini, Niatus secara resmi direkrut
menjadi staf pribadi
dalam lingkup tugas
Utusan Khusus Presiden
Bidang Generasi Muda dan Pekerja Seni.
_
Orang tua kandungnya
membuangnya karena malu.
Dunia menjemputnya
dengan rasa hormat.
_
by AJRaharjo
Terharu! ❤️ Seorang anak perempuan tunarungu dari Sulawesi Selatan berhasil mengumpulkan uang Rp1.487.800 dari hasil menabung receh selama lebih dari setahun demi membeli HP impiannya.
Lewat akun TikTok @wati.jeni, sang ibu membagikan kisah perjuangan putrinya yang menyisihkan uang sedikit demi sedikit.
Bukan soal nominalnya, tetapi tentang kesabaran, kemandirian, dan semangat mewujudkan impian dengan usaha sendiri. Salut! 🥹👏