Habis baca perjanjiannya, ini gila sih... Amerika dibabat habis di meja perundingan!
Poin-poin kesepakatan antara Iran-Amerika:
- Amerika akan membayar pampasan perang/ganti rugi kepada Iran sebesar $300 miliar dolar (Rp5.400 triliun) atau setara dengan 40 tahun MBG. Iran menang banyakkk 😭😭
- Amerika setuju untuk tidak menambah personil di kawasan Timur Tengah dan membolehkan Iran mengelola nuklirnya untuk tujuan damai.
- Semua sanksi terhadap Iran dicabut, mulai dari sanksi ekonomi, perdagangan, sanksi DK PBB, dan resolusi IAEA.
- Produk minyak dan gas Iran bebas dijual, termasuk juga pembebasan transaksi bank-bank Iran.
- Amerika akan menghentikan pembekuan aset-aset Iran di luar negeri, artinya Iran akan segera memperoleh keuntungan bisnisnya dari luar negeri.
Asli, baru pertama kali ini ngeliat perjanjian Amerika vs. negara lain tapi Amerikanya yang harus ngalah banyak😭😭
Ini baru riil negara yang ditakuti asing 😭 BRAVO IRAN!
Guys, Felix Siauw baru ngomong sesuatu di podcast Helmy Yahya yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari seorang ustaz Indonesia dalam waktu lama.
Dan intinya satu kalimat yang langsung dilontarkan:
"Orang Indonesia tidak pernah menjadi Islam."
Bukan karena KTP-nya.
Tapi karena cara berpikirnya.
Masalah pertama
kita salah paham soal tawakal:
Felix kasih contoh yang sangat konkret.
Ada pesantren roboh.
Respons orang Indonesia:
"Qadarullah, ini takdir Allah."
Felix langsung potong:
itu bukan tawakal.
Itu kebodohan yang dibungkus agama.
Karena setiap insinyur teknik sipil yang melihat bangunan tiga lantai dengan pondasi yang salah sudah bisa prediksi itu akan roboh.
Tidak perlu menunggu roboh untuk tahu.
Dan kalau kita sudah tahu sebabnya tapi tidak dikerjakan lalu ketika roboh bilang qadarullah itu bukan pasrah pada Allah.
Itu menyalahkan Allah atas kelalaian kita sendiri.
Rasulullah memakai baju besi
dua lapis di medan perang.
Seorang sahabat tanya kenapa.
Jawabannya sederhana:
karena sebab akibat adalah bentuk tawakal yang sesungguhnya.
Bekerja sekeras mungkin baru serahkan hasilnya.
Masalah kedua
"enggak apa-apa mereka ambil dunia,
yang penting kita akhirat"
Felix bilang dia ingin kritik keras kalimat ini.
Karena logikanya terbalik total.
Cara masuk surga menurut ulama ada empat:
dengan ilmu,
dengan kekuatan,
dengan harta,
atau dengan doa.
Kalau kamu tidak punya ilmu,
tidak punya kekuatan,
tidak punya harta kamu hanya tersisa doa.
Dan kalau kamu bilang "yang penting akhirat" sambil tidak mengerjakan satu pun dari empat jalan itu dengan serius kamu sedang tidak mengejar akhirat.
Kamu sedang memakai akhirat sebagai alasan untuk tidak berusaha.
Rasulullah miskin bukan karena tidak bisa kaya.
Beliau miskin karena memilih memberi semua yang dimiliki kepada yang membutuhkan.
Miskin by choice bukan miskin karena tidak punya pilihan.
"Kalau dunia aja kamu enggak bisa nguasain,
jangan ngomong akhirat.
Akhirat itu lebih susah dari dunia."
Masalah ketiga
tidak ada critical thinking:
Ini yang paling mendasar dan paling merusak menurut Felix.
Ayat pertama yang turun kepada Rasulullah adalah iqra baca, berpikir, analisa.
Di saat itu bahkan tidak ada buku.
Tidak ada perpustakaan.
Artinya perintah iqra bukan sekadar membaca teks tapi perintah untuk berpikir kritis terhadap segala sesuatu.
Tapi apa yang terjadi di Indonesia?
Pertanyaan dibungkam.
Otoritas tidak boleh diganggu gugat.
Santri yang dilecehkan menerima
karena percaya itu "ritual penyucian."
Orang tua yang anaknya diperlakukan tidak wajar diam karena takut melawan ulama.
Felix bilang ini adalah abuse of authority yang masif dan akarnya adalah ketidakmampuan berpikir kritis yang sudah ditanamkan sejak kecil.
Padahal bahkan Rasulullah sendiri melatih sahabat untuk tidak buta taat.
Ada sahabat yang diperintahkan pemimpinnya masuk ke dalam api sebagai hukuman.
Mereka ragu dan datang bertanya ke Rasulullah.
Jawaban Rasulullah:
"Untung kalian tanya aku.
Kalau kalian masuk,
kalian tidak akan keluar selamanya."
Dari situ keluar hadis:
taatlah kepada makhluk selama tidak bermaksiat kepada Allah.
Artinya Islam dari awal mengajarkan untuk mempertanyakan bahkan otoritas.
Masalah keempat faktor struktural yang sering dilupakan:
Felix tidak hanya menyalahkan internal.
Ada faktor eksternal yang sangat besar yang tidak boleh diabaikan.
Di zaman kolonial Belanda,
ada sistem pembagian kelas berdasarkan akta kelahiran STBL.
Kelas pertama orang Eropa.
Kelas kedua orang Arab, India, Cina.
Kelas ketiga pribumi dan pribumi Muslim ada di posisi paling bawah.
Akta kelahiran itu menentukan siapa yang boleh sekolah di mana, siapa yang boleh masuk restoran mana, siapa yang boleh masuk pemerintahan.
Bukan soal kemampuan tapi soal sistem yang dirancang untuk memastikan satu kelompok tidak bisa mengakses kekayaan dan pengetahuan.
Itulah mengapa sampai hari ini di daftar orang terkaya Indonesia dan dunia dominasi Muslim sangat kecil dibandingkan populasinya.
Ini bukan semata karena etos kerja.
Ini juga karena sistem yang dibangun ratusan tahun untuk menutup akses.
Korelasi yang menarik antara keyakinan dan peradaban:
Felix membawa temuan arkeologi di Gobeklitepe, Turki bangunan berusia 11.000 tahun yang mendahului rumah dan ladang pertanian.
Para arkeolog menyimpulkan bahwa manusia tidak membangun keyakinan setelah perutnya kenyang.
Justru sebaliknya keyakinan dibangun dulu,
baru peradaban lain mengikuti.
Ini membalik teori lama bahwa agama
adalah produk kemakmuran.
Ternyata keyakinan adalah fondasinya.
Tapi ada yang salah kaprah.
Felix memisahkan dengan jelas:
bukan agamanya yang menentukan maju atau mundur suatu bangsa tapi kepedulian.
Romawi maju bukan karena agama tertentu tapi karena mereka peduli pada kotanya,
pada infrastrukturnya, pada warganya.
Ketika kepedulian itu hilang Romawi hancur.
Bukan karena Tuhannya berubah.
Felix menyimpulkan dengan satu pertanyaan keras yang ditujukan kepada dirinya sendiri dan seluruh ulama Indonesia:
"Rasulullah bilang ilmu dicabut dengan wafatnya para ulama. Ketika ulama pergi tanpa meninggalkan warisan berpikir yang benar yang terpilih adalah pemimpin-pemimpin bodoh.
Dan pemimpin bodoh membuat kebijakan bodoh yang menghancurkan umatnya."
Artinya yang paling bertanggung jawab atas kondisi umat bukan politisinya. Bukan penjajahnya. Tapi mereka yang seharusnya mendidik cara berpikir dan memilih untuk tidak melakukannya.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan podcast Helmy Yahya bersama Felix Siauw. Semua pandangan adalah pendapat pribadi narasumber dalam konteks diskusi keagamaan dan peradaban. Pembaca dianjurkan untuk memverifikasi referensi sejarah dan hadis dari sumber primer.
Berlaku juga di karir.
Rangorang yang karirnya melejit, menurutku mereka adalah orang yang "having fun" dengan karirnya. Selalu penasaran, suka ngulik hal baru, tiba-tiba promosi atau dapet career move ke jenjang yang lebih tinggi.
Salut lah. 🫡
Jawaban ngehe : afganistan
Jawaban serius : Ambil flight CGK-Langkawi (1 jutaan), abis itu nyebrang ke perlis, ambil bus ke Padang besar (3-5RM) lanjut ke Hat Yai, Thailand (ga sampai 100k), stay 2 hari terus naik bus ke KL dan Malaka, lanjut johor baru dan SG, Pulang.
Mau berbagi perspektif tentang makna “Investasi”.
Jujur ada aja orang yang ngomong “sayang banget uang segitu buat beli HP”, “sayang banget laptop harga segitu” ketika aku beli iPhone dan Macbook. Beli gadget mahal dianggap sebagai pemborosan.
Bagi mereka
Investasi = Harga jual lebih tinggi dari harga beli
Padahal, dengan iPhone dan Macbook tersebut aku bisa kerja lebih cepet, lebih sat set, lebih banyak yang bisa diselesaikan.
Imbal baliknya dalam bentuk kemudahan, dan of course dalam bentuk materi juga karena kerja jadi lebih efektif.
Kalo dihitung-hitung bahkan hasilnya lebih banyak daripada harga belinya waktu itu, jadi secara ga langsung udah untung investasinya 😁
Jadi, kalo mau beli BARANG PAKAI jangan pikirin harga jualnya lagi. Pikirin benefit apa aja yang bakal didapet dan impactnya ke productivity.
Sesudah menghilangkan kesal pada Fedi, dan sesudah melakukan refleksi lebih mendalam pada film Pangku, inilah ulasannya. Perlu beberapa kali menulis ulang agar tertuang semua yang dirasakan saat menonton.
Ada film yang selesai kita tonton, lalu kita pulang dan hidup seperti biasa. Ada juga film yang membuat kita pulang dengan cara pandang yang berubah. Pangku berada di kelompok kedua.
Dalam debut penyutradaraannya ini, Reza Rahadian memilih menaruh kamera sebagai saksi yang tenang. Di sudut-sudut Pantura, di antara perempuan yang memikul beban rumah tangga sendirian, di warung-warung kecil yang menjadi ruang bekerja sekaligus ruang tawar-menawar martabat.
Di sana kita bertemu Sartika, seorang ibu yang harus menghidupi diri dan anaknya di tengah krisis ekonomi, tanpa pegangan selain tekad untuk bertahan. Kita melihat dilemanya sebagai ibu tunggal dengan perasaan sepi dan kegelisahan akan dokumen yang tak lengkap. Di titik itu film ini mengingatkan kita bahwa keleluasaan memilih adalah sesuatu yang ikut direnggut oleh kemiskinan.
Reza tidak menampilkan fenomena “kopi pangku” dalam film ini sebagai sensasi, melainkan sebagai gejala dari struktur yang timpang. Perempuan dijerumuskan ke dalam keterpaksaan yang berisiko, sementara laki-laki kerap digambarkan punya kelapangan yang lebih besar untuk datang dan pergi. Walau demikian, film ini tidak menghakimi para tokohnya, tapi memperlihatkan bagaimana lingkungan dan ekonomi bisa menyudutkan seseorang ke pojok yang sempit.
Di balik semua itu, terlihat betapa serius Reza menggarap karyanya. Christine Hakim mengatakan bahwa momen nafasnya pun diatur oleh Reza. Ia juga ingat terakhir kali ia disutradarai sedemikian ketatnya adalah oleh almarhum Teguh Karya. Ia benar. Ada ketelitian dan obsesi pada kesempurnaan dalam pembuatan film ini yang mengingatkan pada tradisi Teguh Karya.
Perhatian pada detail membuat dunia Pantura dalam film ini terasa dekat. Kulit yang tampak lengket oleh keringat, pakaian yang terlihat benar-benar usang, hingga ornamen kecil di warung dan rumah. Semuanya membuat kita merasakan gerahnya udara pesisir dan lelah yang menempel di tubuh para tokohnya. Tidak ada glamor yang dipaksakan, yang ada adalah keotentikan yang sering menyesakkan.
Secara alur, Pangku bergerak pelan. Dialognya irit, tapi justru karena jarang, tiap kalimat jadi terasa penting. Seperti pemahat yang mengikis batu karena yakin bentuk patungnya sudah ada di dalam sana, Reza dan tim menyingkirkan kata-kata yang tidak perlu. Sisanya diserahkan pada tatapan, gestur, dan keheningan.
Di sisi peran, Claresta Taufan memberi tubuh dan jiwa pada sosok Sartika. Rapuh dan lelah, tapi enggan menyerah. Christine Hakim adalah Christine Hakim, seorang maestro. Ia memberikan lapisan emosi yang halus pada tokoh Bu Maya. Hangat dan manipulatif dalam satu tarikan nafas. Sementara Shakeel Fauzi sebagai Bayu menjadi pintu empati penonton terhadap anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang “tidak lengkap” di mata masyarakat. Fedi Nuril kembali menambah lapisan dilema moral dalam cerita.
Bagi saya, film tidak punya kewajiban untuk mendidik. Tugas utamanya adalah membangkitkan emosi yang membekas, entah itu tawa, takut, haru, atau geram. Tetapi ketika emosi itu membuat kita merenungkan cara kita memperlakukan ibu-ibu tunggal yang dipinggirkan, anak-anak dengan hak-hak yang diremehkan, dan mereka yang terpinggirkan tanpa dukungan, di situlah film ini berperan lebih jauh sebagai medium pengingat dan pembuka kesadaran.
Pangku tidak memberi kita daftar pesan moral, tapi memberi kita pengalaman. Dari pengalaman itulah, pelan-pelan, kesadaran sosial ikut terbangun. Maka untuk itu, kita berterima kasih kepada Reza, seluruh aktor dan awak yang telah menghadirkan film ini bagi bangsa. Maju terus perfilman Indonesia!
https://t.co/L5xAE4jGEO
🪴Budidaya cabai rawit ala mahasiswa agro🪴
Tani bukan cuma cangkul dan tanam, banyak yang mikir mahasiswa cuma belajar teori. padahal, dari riset kecil di kampus harus di kembangin di lapangan untuk budidaya yang efisien. gua buktiin sendiri di lahan gua
-A THREAD-
Setelah mencoba berbagai macam mobil selama ini, gue bikinin list ya mobil mobil baru yang best buy di harganya
Opini pribadi, kalau ada pertanyaan silahkan reply di komentar
a thread, no affiliate
🚨
Sebenarnya, kita tuh bisa loh nyempetin olahraga meski kerja jam 8 pagi.
G usah lama2, 15–30 menit dah cukup!
4.30: bangun & ibadah
5.00: minum+nyemil
5.30: olahraga
6.00: istirahat
6.10: mandi
7.00: sarapan+berangkat
Atur aja sendiri.
Intinya bukan soal waktu, tp mau atau kagak nih buat olahraga 😆
5 years old - Mom, I love you.
12 years old - Mom, I can't stand you.
16 years old - My mother is very annoying.
18 years old - I'm leaving this house.
25 years old - Mom, you were right.
30 years old - I want to go to my mom's house.
50 years old - I don't want to lose my mother.
70 years old - I would give up everything to have my mom here with me.
You only have one mom. Take care of her while she's still alive.
"Jangan dibuka." "Jangan dilihat" "Jangan sentuh"
Tapi apa yang bakal kalian lakuin kalau ada kotak misterius di depan mata dan semua orang bilang jangan disentuh, jangan dibuka, tapi kalo udah penasaran mah bodo amat deh, dilanggar jadinya kan?
Nah, Pandora juga gitu, dan pas dia buka, dunia nggak pernah sama lagi. Apa yang keluar dari kotak itu? Dan kenapa harapan malah jadi satu-satunya yang nggak kabur? Cerita ini bakal bikin kalian takjub, takut, sekaligus mikir. Penasaran? Sini sini aku ceritain!!
Makin lama nonton, makin yakin ini series soal Keserakahan Manusia
Gara-gara mempelajari dialog Squid Game yg super panjang itu, jadi mikir hutang itu berjuta-juta itu bukan cuma buat makan nasi doang, tapi akarnya dari kemalasan diriku dan pengen hidup enaknya aja 🤔
a normal day in Australia. menjalani hidup berdampingan sama berbagai macam hewan. kebayang gasih lu lagi tidur tiba-tiba ada tarantula di sebelah lu 😭😭😭😭