COMIFURO is over, but the shop is still open
Buat yang kemarin belum sempat datang, kehabisan, atau masih galau waktu CF, Mail Order sekarang dibuka
Fandom:
⚔️ League of Legends
🩵 Arcane
🛒 Order di:
https://t.co/oRJKCKh84z
#Arcane#LeagueOfLegends#CF22#ArcaneFanart
Doa fasis di Artjog 2026?
Dalam ekshibisi Artjog 2026, terdapat satu ruangan khusus di mana pengunjung dapat menuliskan doa mereka.
Dari banyaknya doa, terdapat beberapa tulisan diskriminatif yang menjadi sorotan beberapa pengunjung yang berhenti di depan instalasi ini.
Apakah tulisan-tulisan ini dibiarkan oleh tim Artjog? Apakah doa-doa ini tulus dipanjatkan? Bagaimana seni partisipatif malah menjadi alat diskriminasi?
Kami mengecam keras segala bentuk tindakan diskriminatif, termasuk pada teman-teman trans dan queer yang mengalami berbagai bentuk serangan dalam beberapa waktu terakhir, juga bentuk-bentuk ableisme!
@lemanzup@wordfangs kebebasan berekspresi queer: ingin bebas tanpa harus diskriminasi karena identitasnya
kebebasan berekspresi homophobic: ingin bebas mendiskriminasi kelompok minoritas lain
MAKE IT MAKE SENSE DONGO
Seni di salon borjuis yang cuma bisa diakses orang sugih memang disukai penguasa, karena bisa kasih legitimasi "nih kami demokratis, tidak anti kritik."
Makanya mereka sampai mau keluar duit.
Coba seni eksplisit begini dipajang di ruang publik, apa mereka juga mau sponsorin?
UI Menciptakan Pengkritik melahirkan politisi, BINUS Menciptakan pengusaha Melahirkan Pencipta.
Tidak semua kampus mencetak lulusan dengan cara berpikir yang sama.
Ada kampus yang membentuk mahasiswanya untuk menjadi politisi dan memegang jabatan dalam pemerintahan.
Ada kampus yang membentuk mahasiswanya untuk menjadi pengusaha sukses melahirkan sesuatu yang baru dan bermanfaat untuk rakyat.
Perbedaan itulah yang terlihat antara kultur yang berkembang di Universitas Indonesia (UI) dan BINUS.
UI sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat aktivisme mahasiswa terbesar di Indonesia. Mahasiswanya terbiasa berdiskusi tentang politik, demokrasi, kebijakan publik, ketimpangan sosial, dan berbagai isu kenegaraan.
Dari rahim UI lahir banyak politisi, aktivis, birokrat, menteri, anggota DPR, hingga tokoh pergerakan nasional.
Dari rahim BINUS lahir banyak pengusaha teknologi, bisnis, inovasi, kewirausahaan, startup, dan ekonomi digital.
Mahasiswa BINUS lebih sering berbicara tentang produk, aplikasi, investasi, kecerdasan buatan, dan peluang pasar dibandingkan dinamika politik praktis.
Mahasiswa UI lebih sering berbicara tentang kekuasaan, bagaimana cara menggapainya, bagaimana cara meraihnya agar masa depan mereka cemerlang, salah satunya adalah dgn berpura2 bela rakyat.
Perbedaan kultur tersebut terlihat jelas ketika menghadapi sebuah masalah.
Ketika harga pangan naik, mahasiswa UI :
Menuntut harga BBM jangan naik.
Menuntut penggunaan APBN tidak boros.
Menuntut harga sembako turun.
Menuntut harga hasil panen petani naik.
Menuntut Program Makan Bergizi Gratis dihentikan.
Jika harga gabah naik, harga beras berpotensi naik.
Jika harga beras turun, petani berpotensi menerima pendapatan lebih rendah.
Jika subsidi BBM diperbesar, anggaran negara harus bertambah artinya pemborosan.
Jika program MBG dihentikan, salah satu pasar terbesar bagi hasil pertanian, peternakan, dan UMKM pangan justru hilang.
Ironisnya, kontradiksi seperti ini jarang dibahas di atas mobil komando.
Sementara mahasiswa BINUS :
Ketika melihat harga pangan mahal, mereka berpikir bagaimana memangkas rantai distribusi.
Ketika melihat produktivitas petani rendah, mereka berpikir bagaimana menerapkan teknologi pertanian.
Ketika melihat lapangan kerja kurang, mereka berpikir bagaimana menciptakan perusahaan baru.
Ketika ada persoalan ekonomi, mahasiswa UI memilih cara kekerasan dengan turun ke jalan membawa tuntutan.
Kelompok kedua justru membuka laptop dan mencoba membangun solusi.
Tentu tidak semua mahasiswa UI seperti itu dan tidak semua mahasiswa BINUS seperti ini. Namun secara umum, kultur yang berkembang memang mengarah ke sana.
Akibatnya, tidak mengherankan jika demonstrasi mahasiswa yang menuntut harga BBM tidak naik, harga sembako turun, harga hasil panen petani naik, dan Program Makan Bergizi Gratis dihapus lebih sering lahir dari lingkungan yang kultur politiknya kuat dibanding kultur kewirausahaan dan teknologi.
Masalahnya, ekonomi tidak berjalan berdasarkan slogan.
Tidak mungkin harga hasil panen petani naik sementara harga pangan terus turun tanpa ada peningkatan produktivitas.
Tidak mungkin subsidi terus diperbesar tanpa memikirkan sumber anggaran.
Tidak mungkin APBN hemat jika subsidi di perbesar.
Tidak mungkin kesejahteraan petani meningkat jika pasar yang menyerap hasil pertanian justru dikurangi.
Di sinilah terlihat perbedaan cara berpikir yang dibentuk oleh kultur kampus.
Kultur aktivisme menghasilkan amarah dan kemampuan mengkritik tanpa solusi.
Kultur inovasi menghasilkan kemampuan memecahkan masalah dengan solusi.
Kultur politik melahirkan demonstran dan politisi.
Kultur kewirausahaan melahirkan pencipta lapangan kerja.
Kultur perlawanan melahirkan tuntutan.
Kultur teknologi melahirkan solusi.
Indonesia membutuhkan keduanya. Namun yang perlu diingat, negara tidak bisa dibangun hanya dengan kritik dan tuntutan.
Jalan raya tidak dibangun oleh demonstrasi.
Pabrik tidak dibangun oleh spanduk.
Lapangan kerja tidak lahir dari pengeras suara.
Kemajuan bangsa lahir dari inovasi, investasi, produktivitas, dan keberanian menciptakan sesuatu yang baru.
Mungkin karena itulah kita jarang mendengar lulusan startup sukses berkata, "Mari turun ke jalan."
Mereka biasanya berkata, "Mari kita bangun solusinya."
Dan dalam jangka panjang, sejarah sering kali lebih mengingat para pencipta solusi dibanding para penyampai tuntutan.
Ya ampun masih dipertahanin juga nih orang, kalo gak bisa kerja ganti aja lha...
MENTERI PIGAI Disekak DPR RI, Soroti Anggaran Rp 700 Miliar : Punya Uang Tak Bisa Urus Apa-apa!
Komisi XIII DPR RI menggelar rapat kerja bersama dengan Kementerian Hak Asasi Manuasia.
Rapat sempat memanas saat Anggota DPR RI, Mafirion menyoroti anggaran senilai Rp 700 miliar yang dikelola oleh Kementrian HAM.
Ketegangan ini dipicu oleh perdebatan mengenai pendekatan penyelesaian masalah sosial di masyarakat.
Seumur² baru kali ini liat NIKITA WILLY jadi bunga matahari 😭
Btw berani bayar brp tuh sekolahnya buat jadiin Nikwil pemain figuran, panitia kgak tau apa bayar Nikwil per scene keluar brp puluh jutak 😭
gimana ceritanya bunga matahari anaknya edamame😂
Patutnya selain bersyukur masih ada rezeki jangan lupa juga bersyukur ada yg ngewakilin turun ke jalan, hidup kita masih berjalan karena sedikit banyak hak2 kita disuarakan oleh mereka2 yg terus berisik
Gue ojol ! Anak 3, suami gw juga ojol ! gak pernah ngeluh soal kenaikan harga saat ini , begitupun ditongkrongan gw ini gak pernah bahas itu ! Yg kita tau yaudah hidup terus berjalan ,
gak narik gak makan ! Kemaren gw ke PRJ dan gw bikin utas soal dollar naik malah banyak yg nyerang ngatain gw goblok ! Maksud utama gw disini bukan apa2 .
Artinya kalo Lo masih nyanggupin utk kebutuhan hidup dan hidup Lo terus berjalan udah gausah banyak komplain
CC:threadindahborjun
Bagaimana kalau event lari Jakim Sabtu - Minggu besok dibatalkan karena eskalasi situasi?
Ya nggak apa2, dan kalau 45.000 runner mau marah, marahlah pada negara, bukan pada warga yang terpaksa harus menyatakan sikap dan pendapat di jalanan karena negara ini salah diurus
Bersuara itu hak, tapi menjaga persatuan juga wajib. Yuk, sampaikan aspirasi dengan cara yang tertib dan santun, karena beda pendapat nggak harus bikin kita terpecah. Tetap damai, tetap saling menghargai, karena Indonesia kuat kalau kita tetap solid.
🚨DEADLINE EXTENDED🚨
We hear you! Bikin komik itu ga gampang dan prosesnya panjang. Karena itu, deadline submisi sayembara Debut Komik resmi kami perpanjang!
Goblok anying pake lagu Slipknot yg jelas ally LGBTQ+ tp lu homophobic dan pamerin kaos jelek di sosmed lmaooo.
Atp jgn percaya org yg demen band metal, punk, rock dll tp homophobic😹😹😹 sok keren