Kata imam nawawi:
"Kalau kamu punya satu piring makanan sedangkan istri dan ibumu sama membutuhkannya, maka berikan piring itu untuk istrimu."
"Jika istrimu baik, dia akan berbagi dengan ibumu, tetapi jika istrimu memakannya sendiri, tanyakan seberapa sakit luka yang diberikan oleh ibumu kepadanya.”
Kamu tidak berdosa memberi makan pada istrimu karena itu tanggung jawab utamamu dan istrimu tidak bersalah jika enggan memberi, karena yang utama baginya adalah dirimu dan anakmu.
Mau pamer pencapaian hidup boleh gak?
- Lahir di keluarga sangat miskin, tidur satu kasur berenam dengan atap dari daun kelapa, bolong pula
- sekolah sd smp, di madrasah lokal yg g terkenal
- sekolah SMAN unggulan Jakarta, ke kantor naik bus kopaja, baju lusuh, di keliling orang2 kaya
- Lulus UGM Cum Laude, lewat jalur normal UM UGM dgn uang pangkal 0 rupiah -
Punya Income 1,2 M net/ tahun (eits jangan samain ama pengusaha2 tajir ya wkwkwkw)
Tips nya apa? Gak ada.
Cuma inget aja Ungkapan dari Umar ibn Khattab
"Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku"
cc:threadlyovivo_
@Serafinusgy Knp ya anak no-2 ini lost child & diperlakuin berbeda, mana sering dibanding²in sama anak 1 & terakhir. Mirisnya lgi setiap cerita ttg anak no-2 semua hal buruk & jelek, anak 1 & terakhir selalu diceritaiin bagusnya terus, ibu kandung loh ini, knp bisa bersikap se-timpang itu (?)
"Rakyat kita tidak bermimpi kehidupan yang kaya-raya."
JARE SOPO PAKKKKK????????????? NGUAWUR AE SAMPEAN
AKU PENGEN KELILING DUNIAAA
PENGEN WORLD TOUR KE KONSER2 IDOL GW
PENGEN CEPET2 NAIK HAJI
PENGEN BELI SEMUA MERCH KIPOP
PENGEN NIKAH
PENGENKU BANYAKKKK
STOP ASBUN PLS 🫵🏻
Semalem gue baru belajar istilah baru
Kalian pernah denger “duck syndrome” gak?
Duck syndrome itu kondisi pas seseorang keliatannya santai, hidupnya aman2 aja. Padahal aslinya lagi capek, banyak tekanan, burnout, sama stres yang dipendem sendiri.
Kenapa dianalogiin sama bebek?
Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri.
Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas.
Bukan slip of the tongue.
Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan:
Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar.
Yang pusing yang suka ke luar negeri.
Ini bukan candaan.
Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya.
Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini.
Dan apa yang terjadi setelahnya.
Zimbabwe
ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat:
Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat.
Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir.
Hasilnya?
Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7
sextillion persen per tahun di 2008.
Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti.
Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam.
Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam.
Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi.
Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali.
Venezuela
ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs:
Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil.
Yang penting ada subsidi.
Yang penting ada program sosial.
Hasilnya?
Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018.
Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi.
Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya.
Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung.
Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun.
Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan:
Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar.
Tapi benarkah demikian?
Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat.
Harganya ditentukan dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 — harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Harga tahu naik.
Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.
Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor.
Harganya dalam dolar.
Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor.
Harganya dalam dolar.
Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India.
Harganya? Dalam dolar.
Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Dan inilah yang paling miris:
Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat.
Padahal kepercayaan itulah
yang membuat rupiah bisa stabil.
Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk.
Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita.
Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar?
Sinyal apa yang dikirim ke investor asing?
Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
Bandingkan dengan pemimpin yang serius:
Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan.
Hasilnya?
Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar.
Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah.
Bukan karena Singapura kaya alam.
Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya.
Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin.
Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah.
Rakyat desa tidak pegang dolar.
Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar.
Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar.
Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar.
Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya.
Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli.
Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya.
Semoga kita tidak sampai di sana.
Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.
Guys, Juansen Leo suaminya Evelyn Chrestella baru ngomong sesuatu soal punya anak yang menurut gue paling jujur dan paling tidak munafik yang pernah gue dengar dari seorang konten kreator.
Dan jawabannya bikin gue mikir ulang soal pertanyaan yang semua orang tanya tapi jarang ada yang jawab dengan benar.
"Udah siap belum punya anak?"
Jawaban Juansen:
tidak ada yang akan pernah siap:
Selama hamil orang pada tanya ke Juansen,
"Udah siap belum jadi ayah?"
Jawabannya selalu sama: belum.
Dan dia jelaskan kenapa dengan sangat konkret.
Pas lahiran, anak mereka langsung masuk NICU karena ada lendir di paru-paru.
Saturasi oksigen turun sampai 79.
Juansen yang biasanya tenang gemeteran.
Justru Evelyn yang backup dia.
Bilang "tenang, semua bakal baik-baik aja."
Lalu Evelyn kena mastitis infeksi payudara
karena ASI tersumbat,
demam sampai 40 derajat,
menggigil, satu tahap sebelum harus operasi.
Siap enggak Juansen menghadapi itu semua?
Tidak mungkin.
Karena tidak ada yang bisa mempersiapkan diri
untuk hal yang belum pernah dijalani.
Poinnya satu:
tidak ada yang akan siap kalau tidak dijalanin langsung. Tapi itu bukan alasan untuk tidak mulai.
Soal orang tua zaman dulu yang suka bilang "dulu mama enggak gini":
Juansen ngomong ini dengan sangat tegas dan minta maaf duluan ke yang lebih tua.
Punten.
Zaman sekarang sama dulu itu beda.
Dulu belum ada COVID.
Dulu belum ada virus-virus yang sekarang bermunculan.
Dulu standar sterilisasi barang bayi tidak seketat sekarang.
Dulu informasi medis tidak semudah sekarang diakses.
Jadi ketika orang tua bilang "dulu anak mama enggak diginiin juga sehat-sehat aja" itu bukan argumen yang valid. Itu nostalgia yang dibungkus jadi kritik.
Konteks berubah.
Ilmu berkembang.
Dan generasi baru yang mencoba menerapkan standar yang lebih baik untuk anak mereka tidak seharusnya dihakimi hanya karena caranya berbeda dari cara lama.
Yang paling penting untuk disiapkan
dan ini bukan soal uang:
Juansen bilang hal pertama yang harus disiapkan adalah ilmu.
Bukan finansial.
Finansial penting tapi punya uang banyak tidak otomatis membuat seseorang siap jadi orang tua.
Ilmu bisa dicari gratis.
Uang harus dicari susah payah.
Dan Juansen membuktikannya sendiri.
Setiap hari dia tanya ke ChatGPT dari yang serius sampai yang paling random.
Soal lahiran, soal ASI, soal perkembangan bayi,
soal mastitis.
Dia research pecah ketuban sebelum kejadian makanya waktu kejadian dia dan Evelyn bisa santai, tahu harus ngapain.
Ketenangan itu bukan karena tidak takut.
Tapi karena sudah tahu.
Soal baby blues dan kenapa Juansen siapkan support system jauh sebelum lahiran:
Juansen tidak menunggu Evelyn kelelahan dulu baru cari suster.
Suster sudah dipanggil satu bulan sebelum lahiran supaya Evelyn punya waktu untuk kenal dan cocok dulu.
Kalau dalam dua minggu tidak cocok, ganti.
Orang tua Evelyn sudah hadir sebelum lahiran.
Hasilnya:
tidak ada baby blues.
Bukan karena mereka kebal.
Tapi karena support system sudah dibangun jauh sebelum dibutuhkan.
Dan Juansen bilang sesuatu yang sangat penting soal ibu-ibu yang harus mengurus bayi sendirian tanpa suami yang bertanggung jawab,
tanpa bantuan apapun dia tidak bisa menghakimi mereka yang kena baby blues.
Karena setelah tahu sendiri betapa beratnya dia justru heran kenapa ada yang tidak baby blues dalam kondisi seperti itu
Siap punya anak bukan soal tabungan yang cukup. Siap punya anak adalah soal ilmu yang terus dicari, support system yang dibangun jauh sebelum dibutuhkan,
dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa banyak hal yang tidak akan pernah bisa diprediksi tapi bisa dihadapi kalau tidak dijalanin sendirian.
Dan untuk yang suka bilang "dulu mama enggak gini juga sehat" zaman sudah berubah. Standar yang lebih tinggi bukan berarti lebay.
Itu berarti kita peduli lebih dari generasi sebelumnya. Dan itu hal yang seharusnya dirayakan, bukan dikritik.
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Jodoh dan Rahim itu adalah areanya Allah. Sama halnya dengan nyawa, ibarat kata yang tanya
- kapan nikah?
- kapan punya anak?
itu sama halnya dengan bertanya kapan mati.
sedih rasanya waktu dibilang ga pernah ngertiin seseorang, padahal selama ini kita sering mengalah dan lebih mikirin orang lain dari pada diri sendiri.
Aku setuju banget sama kalimat ini:
“Banyak orang jadi nggak menarik setelah kita tahu cara pikir mereka.”
Dan mungkin itu kenapa aku selalu kagum sama orang yang cara pikirnya luas, tenang pas ngomong, dan ngerti gimana jadi manusia, bukan cuma sekadar hidup. Yang open minded tanpa ngerasa paling benar, yang tau batasan tanpa ngerendahin orang lain, dan nggak gampang ngejudge siapa pun.
Karena kecerdasan itu menarik, tapi empati dan respect itu yang bikin orang pengen tetap ada di hidup kita.
Buat para suami suami diluaran sanaa, tolong diinget yaa istri kalian adalah prioritas utama.
Mungkin ketika gue udh menikahpun nnti pasti bakal ngizinin suami gue buat berbakti ke orang tuanya (asal izin) dan semua kebutuhan tercukupi.
suami yg ky gini jadi contoh yg baik, soalnya banyak mertua (gak semuanya) diluaran sana yang ngajarin anaknya kalo ngasih uang ke orang tuanya gaperlu bilang ke istri
barusan di jalan pulang, di lampu merah, ada bapak” bonceng anaknya, anaknya lagi nangis, terus bapaknya tbtb teriak “ANAK SAYA LOLOS KEDOKTERAN UGM” semuanya langsung noleh dan tepuk tangan ngucapin, anaknya tambah nangis, HER DAD MUST HAVE BEEN SO PROUD🤎🤍🥹🥹😭😭