Seekor kuda hitam berlari di jalan aspal lurus hitam. Pada langkahnya yang ke-28, kelinci hitam menyusul kuda, cepat sekali. Berlatar senja hitam, awan hitam, dan rumpun bambu hitam, mereka berdua saling berpacu kecepatan.
Siapakah yang menang?
Yang sekarang lagi belajar menempatkan sesuatu pada tempatnya, termasuk kenangan tentang si dia yang seabreg jumlahnya itu; Semangat. Esok, hidup masih sedia medan untuk perang. Hunus pedangmu, jangan air matamu.
Bak bermain layang-layang ketika musim angin sedang kencang,
Dengan benang gelasan ia terbang.
Manakala ia putus, kejarlah untuk bersenang-senang.
Tapi tak perlu berlarut-larut dalam tangis, bilamana ia hilang.
Lelah dan jenuh adalah keniscayaan dalam hari-hari.
Maka pinjamlah waktu sebentar untuk menyeduh peluhmu, lalu bergabunglah lagi dengan irama semesta yang menari.
Jika tuan berangan-angan ingin menyerah. Maka rasakanlah aliran darah pada pergelangan tangan, tuan. Bukankah itu hasil kerja keras jantung yang tak menyerah untuk berdetak?
Seperti langit yang indah lantaran putih awan, pelangi, hujan, matahari, bintang gemintang dan rembulan mengisi kekosongannya.
Kehidupan pun demikian sama.
Hati orang yang telah usia, ibarat kertas yang dapat robek hanya dengan dilempari sebatang lidi. Pun seputih kertas itu lantaran air hidup mensucikannya.
Sebelum mengajar dengan kata-kata, mengajarlah dengan keteladanan. Sebelum memperbaiki orang lain, perbaikilah diri sendiri. Adakah yang lebih mulia daripada itu?
Naik motor dengan membonceng orang yang gak pake helm, plus sambil main handphone memang sudah jadi budaya kita. Mbak ini berani-beraninya menegur ckckck ada-ada saja Mbaknya.