Aku pernah bilang ke terapis kalau rasanya aku terus terjebak di pola yang sama.
Dia lalu ngasih aku sebuah jurnal dan bilang,
"Kalau ketakutan terbesarmu adalah menyia-nyiakan hidup, 10 pertanyaan ini bakal nunjukin sebenarnya apa yang lagi kamu sia-siakan."
Ini dia:
In Surah Baqarah,Allah redefined marriage in a single word
Not "besties."
Not "soulmates."
Not even "partners."
Garments. (Libas)
This one word will save your marriage if only you understand it right
Lesson learned.
Ingin berubah menjadi lebih baik itu datang dari hati. Mau sepeduli apapun orang lain ngasih tau dan memberi contoh, yg lebih tau ya hatinya sendiri.
@eLAmaravati You know… sometimes people laugh not because something is funny, but because it’s the only way to keep themselves from falling apart at that moment. That means you’re the strongest one.
Saya punya teman, orang Makassar, kami hanya pernah bertemu sekali. Tidak pernah intens berbincang, tapi setiap beberapa bulan, dia akan mengirimkan pesan, "Chan, apa kabar?"
Hati saya hangat ketika membacanya. Ketika saya merasa setiap orang pergi dan tak peduli, ia satu dari sedikit orang yang membuat saya merasa sebaliknya.
Kemudian, saya melakukan hal yang sama pada teman lainnya. Sekadar bertanya kabar mereka. Mengecek apakah mereka baik-baik saja. Ikut mengapresiasi dan bergembira apabila mendengar kabar bahagia.
Jadi bila ada temanmu yang bertanya, "Apa kabar?" jawablah layaknya seorang kawan. Sebab hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan sendirian dalam kesunyian.
I'm married and I depend my financial needs on my husband. Bukan karena aku ga bisa cari uang, tapi for the sake of our family. Hidup sesuai fitrah, hak, dan juga kewajiban.
“Apakah aku tetap cari uang?”
> Iya
“Terus ngapain cari uang?”
> Untuk spending hal-hal yang mungkin agak guilty kalo pake uang suami wkwk, dan of course supaya bisa tetep ngasih ke orang tuaku!
So yeah, eventually cari uang atau engga itu choice, tapi alhamdulillah in my case it's not about “harga diri”, tapi karena keinginan sendiri aja.
Aku sadar banget how privileged I am karena it's a choice for me, while untuk sebagian perempuan lain, it's a MUST.
Sebenernya perempuan kerja itu pilihan, tapi in this economy it becomes keharusan. Tau dong semua ini gara-gara siapa 🙂
This is so heartwarming. The way people care to somebody else more than themselves.
Love is not giving up what you want. It's striving to give the best for your loved ones.
Rela berkorban is the key.
mau beli sepatu badminton berbulan2 maju mundur, udah kepengen dari lama, paling mentok masukin keranjang akhirnya enggak jadi 😅
tapi begitu anak bilang "pi aku belum pernah main salju, mau kaya nastya main salju berdua sama papinya yuk pii kita main salju. dimana ya pi ada salju???"
jyahhh elahh pake alesan main berdua sama papinya lagi, dia tau kelemahan saya.
aku dengan kesadaran penuh langsung cari2 tiket, cari2 info, dan buat passport.
saya udah diingetin istri kalau anak saya udah tau kelemahan saya, saya harus lebih berhati2 🥲
semoga Allah selalu mudahkan rezeki kita yg berusaha selalu membahagiakan keluarga ya 🥲😅
Pernah denger ceramah seorang Muslim scholar dari UK yang membahas rasionalisasi perintah hijab dgn sudut pandang yg menurut gue jauh lebih presisi secara teologis.
He said that it’s clear bahwa tujuan utama hijab bkn untuk membantu laki2 mengontrol hawa nafsunya.
Simply nemenin istri kejar cita2nya jg bisa. Awal nikah saya tinggalin bisnis di Jkt buat nemenin istri S2 sambil ngurus bayi di UK.
Setahun balik dari UK, saya dpt rezeki kuliah S2 di Jepang full scholarship sembari dpt project freelance consulting dari Jkt dan Seoul.
Dari 2023, lagi2 saya tinggalin karier di Jkt buat nemenin istri S3 di Norway. 2024 akun X saya rame bahas karier di bidang finance dan consulting dan finansiologi udah jalan 5 batch.
Alhamdulillah.
A businessman once bought a massive diamond in South Africa, about the size of an egg yolk.
But to his disappointment, the stone had a crack inside.
He took it to a skilled jeweler, hoping for advice.
The jeweler examined it carefully and said:
“This diamond can be split into two perfect gems, each worth more than the original stone. But one wrong strike and it will shatter into worthless fragments. I won’t take that risk.”
The businessman traveled the world, showing the diamond to jewelers in many countries.
Each one gave the same answer: "Too risky".
Finally, someone told him about an old master jeweler in Amsterdam known for his golden hands.
He flew there the same day.
The old jeweler studied the diamond through his monocle and warned him again of the risk.
The businessman interrupted:
“I’ve heard that story before. I’m ready. Just do it.”
The jeweler nodded, agreed on the price, then turned to a young apprentice working quietly nearby.
The boy took the diamond, placed it on his palm, and struck it once, clean and precise.
The stone split beautifully into two flawless gems.
Without even looking up, he handed them back to the master.
Astonished, the businessman asked:
“How long has he been working for you?”
The old jeweler smiled.
“This is his third day. He doesn’t know the real value of the stone, that’s why his hand didn’t tremble.”
Sometimes the more we fear losing something, the less capable we become of doing what needs to be done.
Treat life’s challenges as if they are lighter than they seem, and your hand will stay steady.