@yappingfess Sekadar saran sederhana untuk yg blum menikah.. Entah laki2 atau perempuan, jika invin menilai pasangan kalian org seperti d atas atau bukan, lihatlah bagaimana cara dia membicarakan org lain.. Ketika yg dibicarakan hanyalah "keburukan" seseorang sebaiknya tinggalkan saja dia..
@MireinaRiviere Iya paham memang rata2 yg suka ember ke sosmed itu ya pihak istri, sekalinya dikasih tau klo ngga ssuai ekspektasi nya dia langsung ember hadeehhh
@MireinaRiviere Banyak istri ingin suami nya peka tp kebalikannya banyak istri yg ga mau peka sma skali soal keadaan suaminya.. Hal kya gini ga perlu d tanyain jelas2 suami jg perlu pegangan buat menyambung hidup.. Masa iya kmana mana ga bawa uang sma sekali..
@r3nhartono@anaklayanganns@nararay__@tanyakanrl Betul jika memang punya uang bisa sewa rahim org lain dengan melakukan bayi tabung jdi tidak perlu pake rahim istri sendiri, jika memang konteksnya uang
@r3nhartono@anaklayanganns@nararay__@tanyakanrl Jaman sudah modern sekarang sudah banyak yg pakai bayi tabung, tidak perlu rahim perempuan hanya dengan sel telur dan sel sperma.. Yg d butuhkan adalah uang yg banyak
Sebuah ironi sunyi, melihat pria merasa menaklukkan dunia hanya karena mampu membeli atap, lalu bertanya angkuh, "Selain rahim, apa yang kau bawa?"
Kau menanam benih sekilas embun, tapi dia meretas tubuh dan bertaruh nyawa sembilan purnama. Kau bisa membeli pilar kokoh, tapi istana tanpa telinga yang mendengar hanyalah pusara megah.
Jika cintamu cuma hitungan neraca "aku beri harta, maka kau harus tak bersuara", pelihara saja undur-undur dan kelomang di dalam toples kristal. Undur-undur akan selalu berjalan mundur menuruti egomu, dan kelomang bahkan sudah menggotong rumahnya sendiri tanpa perlu kau repot membelikannya. Mereka jinak, bisu, dan tak banyak menuntut.
Tapi saat kelak kau menua dan rapuh, undur-undur itu cuma bersembunyi di balik pasir, dan kelomang hanya akan meringkuk pengecut di dalam cangkangnya. Tak ada jemari lembut yang merawat, tak ada doa di sepertiga malam yang mengetuk langit. Karena harta bisa ditransaksikan, tapi rasa "pulang" tak dijual di etalase manapun.
@susipudjiastuti Dan saya pun yg bodoh jadi paham bagaimana uni Eropa bisa menolak sawit Indonesia, karena kerusakan ekologi,menyebabkan deforestasi, beda dengan Malaysia.
Ironisnya mayoritas sawit Malaysia itu ditanam di pulau Sumatera, di panen, dikirim ke Malaysia, di eksport ke uni Eropa.